Cari Blog Ini

Rabu, 22 Juni 2011

Biografi dr. Mangantar Marpaung, MS, MMKes



Nama : dr Mangantar Marpaung, MS., MM Kes
Lahir           : Porsea, 14 Maret 1952
Agama : Kristen Protestan
Isteri  : Timoria Hutabarat, SKM., MM (Pegawai Departemen Kesehatan RI)
Anak :

1. Adria Benget Parulian Marpaung, (Pegawai Departemen Keuangan RI/Bea Cukai)
2. Yoga Mula Hasonangan Marpaung, SE (Karyawan Bank Niaga)
3. Johanes Christian Pansamotan Marpaung (Mahasiswa semester V. FK UKI).

Ayah : ….. Marpaung
Ibu         : …. Boru Hutabarat

Pendidikan :

1. Lulus Sekolah Dasar: tahun 1965 (Rantau Parapat)
2. Lulus Sekolah Menengah Pertama: tahun 1968 (Rantau Parapat)
3. Lulus Sekolah Menengah Atas: tahun 1971 (Rantau Parapat)
4. Lulus Dokter Umum: tahun 1986
5. Lulus Magister Ilmu Kedokteran Dasar Pascasarjana UI: tahun 1993
6. Lulus Magister Manajemen Rumah Sakit (MMKes) Sekolah Tinggi Manajemen “IMNI” Jakarta: tahun 2007

Karir :

1. Asisten Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta, sejak tahun 1977
2. Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta, sampai tahun 1999
3. Pelaksana Harian UGD RS FK UKI, sejak tahun 1986
4. Kepala Bidang Pelayanan Medik RS FK UKI, 1995 -1999
5. Dokter Jaga (RMO) di RS Siloam Lippo Karawaci sejak Feb 1999
6. Manager rawat jalan RS Siloam Lippo Karawaci, 2001 – 2004
7. Deputy Head of Division AMA (Wakil Direktur Medik) RS Siloam Lippo Karawaci 2004 – sekarang
8. Dosen Bagian Patologi FK UPH sejak tahun 2003 – sampai sekarang
9. Dosen Pasca Sarjana Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen IMNI, 2007 – sekarang

Organisasi :

1. Pernah menjabat Ketua I Senat Mahasiswa FK UKI Jakarta
2. Pernah menjabat Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FK UKI Jakarta
3. Pernah menjabat Sekjen Dewan Mahasiswa UKI Jakarta
4. Pernah menjabat Ketua Bidang Kesejahteraan Mahasiswa di BKK FK UKI Jakarta
5. Wakil Ketua IPK (Ikatan Pemuda Karya) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Banten, 2006 -2010
6. Ketua Ikatan Keluarga Kristen Labuhan Batu di Jakarta, sejak Oktober 2006 – sampai sekarang
7. Ketua Komisi Pembiayaan Kesehatan Dewan Kesehatan Kabupaten Tangerang 2005 – 2009
8. Ketua Departemen Pemuda DPP PDS, 2007 – 2010

Alamat :

Jl. Transformator V Blok A 36 No. 98, Perumahan Antilope Maju (Komplek PLN) Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat

Pengabdian Tanpa Batas

Setelah mengabdi sebagai dosen dan dokter selama hampir 30 tahun, dr. Mangantar Marpaung, MS, MMKes, lulusan Magister Ilmu Kedokteran Dasar, Pascasarjana UI, yang sejak 2004 menjabat Deputy Head of Division AMA (Wakil Direktur Medik) RS Siloam Lippo Karawaci, ini berobsesi memperluas pengabdian untuk ikut aktif dalam proses pengambilan keputusan di negeri ini, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan, baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif. Baginya, pengabdian itu tanpa batas profesi, agama atau kelompok.

Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI (Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, sejak 1979) dan Dosen Bagian Patologi FK UPH (Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, sejak 2003), ini pun memilih lewat jalur partai politik (Partai Damai Sejahtera - PDS) untuk menjadi anggota DPR. Oleh partai peserta Pemilu 2009 bernomor urut 25, ini Mangantar dicalonkan pada nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Provinsi Banten.

Ia memilih lewat PDS, lantaran partai ini punya misi menciptakan kedamaian dan kesejahteraan untuk umat manusia, tanpa batas dan sekat agama atau kelompok. Baginya, agama adalah urusan pribadi dengan Tuhan. “Saya masuk di komuniti ini, karena kita masing-masing mau membicarakan kebenaran, damai dan sejahtera bagi semua orang,” ujar penganut agama Kristen Protestan ini.

Jika terpilih menjadi anggota DPR, Ketua Komisi Pembiayaan Kesehatan Dewan Kesehatan Kabupaten Tangerang (2005 – 2009) dan Ketua Departemen Pemuda DPP PDS (2007 – 2010) ini berobsesi dapat berperan aktif dalam komisi yang membidangi kesehatan, kalau mungkin menjadi ketua komisi. Dan jika diberi kesempatan mengabdi di eksekutif, ia merasa akan bisa berperan optimal sebagai Menteri Kesehatan. Atau mungkin mengabdi menjadi Bupati Labuhan Batu.

Dalam pengabdian sebagai dosen dan dokter selama ini, ia sangat gelisah melihat kondisi orang miskin di negeri ini. Sebagai seorang dokter yang sering kali diperhadapkan pada suatu masalah dilematis sebagai akibat kemiskinan yang membelenggu jutaan rakyat negeri ini, ia berharap jangan ada lagi orang miskin mati konyol. Paling tidak harus diketahui penyebab penyakitnya. “Sehingga kita bisa mencegah supaya jangan ada lagi korban yang berjatuhan,” katanya dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia, 6 September 2008 di RS Siloam Karawaci Tangerang, Banten.

Tokoh yang gemar berorganisasi ini melihat, pasti ada sesuatu yang tidak benar dari masih adanya anggapan kena santet, kena sambet, kena setanlah dan segala macam. Itu tidak betul. Sudah 63 tahun merdeka, masih ada yang begitu. Sehingga, ia berpendapat masalah kesehatan ini tidak boleh disepelekan. “Jangan ada rakyat yang mati konyol. Artinya, paling tidak diketahuilah diagnosanya. Oh, matinya karena sakit ini atau itu. Untuk ini, keluarga tolong, kalau ada gejala begini, harus begini, dan seterusnya,” kata suami dari Timoria Hutabarat, SKM, MM (Pegawai Departemen Kesehatan RI), ini.

Ia mengungkapkan, apa yang dikemukakannya ketika berbicara dalam diskusi dengan Ikatan Ahli Ilmu Kesehatan Masyarakat, bagaimana cara menyehatkan suatu bangsa. Ia berpendapat selain adanya tindakan kuratif (pengobatan) perlu lebih ditingkatkan tindakan preventif dan promotif. Menurutnya, sebetulnya masalah kesehatan untuk pengobatan dan kesehatan lain sebagainya hanya 10 persen. Tapi konsentrasi kebijakan dan keuangan justru dikonsentrasikan ke masalah pengobatan ini. Seharusnya, kebijakan dan keuangan lebih dikonsentrasikan pada tindakan preventif dan promotif. Bagaimana mencegah supaya rakyat sehat, tidak sakit. Masyarakat dididik supaya hidup sehat.

Ia berharap, sebagaimana dana untuk pendidikan yang sudah diatur dalam UUD yang diamandemen, begitu pula pembiayaan kesehatan baik kuratif maupun preventif dan promotif ditetapkan dalam UUD. Masalah pendidikan dan kesehatan ini, menurutnya, harus menjadi prioritas. Supaya bangsa ini memiliki anak-anak yang sehat dan memiliki IQ yang tinggi untuk bisa bersaing dalam era globalisasi ini.
“Makanya perlu adanya preventif dan promotif tadi,” kata mantan Sekjen Dewan Mahasiswa UKI Jakarta itu. Sehingga, ia berobsesi seandainya terpilih menjadi anggota DPR maupun menjadi eksekutif dalam bidang kesehatan atau menjadi bupati (pengambil keputusan dalam wilayah yang lebih kecil), akan memperjuangkan hal ini.

Ia memberi contoh kasus di daerah Legok, Tangerang, yang sudah sering dikunjungi bersama wakil ketua DPRD dan Sekda Tangerang, masih banyak rakyat yang betul-betul miskin, tidak layak hidup seperti manusia. Tinggal di rumah berlantai tanah, anak empat-lima orang. “Kita tanya, apa yang diperlukan di sini? Dijawab, air pak,” ungkap Mangantar tentang dialognya dengan rakyat miskin tersebut. Lalu Dewan Kesehatan dan Pemda Tangerang membangun fasilitas air bersih di dua lokasi. Dilengkapi juga dengan kakus. “Sayang, perilaku belum berubah. Kita bikin kakus bagus-bagus malah beraknya masih tetap di halaman,” keluh Wakil Ketua IPK (Ikatan Pemuda Karya) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Banten, 2006 -2010, itu.

Pengalamannya sebagai dokter dan dewan kesehatan kabupaten, menunjukkan banyak sisi kesehatan yang masih jelek. “Itu baru hanya satu kabupaten yang kita lihat. Baru di sini saja. Masih sangat dekat dengan ibu kota negara. Bagaimana kalau yang di tempat lain. Apalagi di NTT, di Tapanuli, atau di pelosok-pelosok sana?” jelas Mangantar.

Jadi memang masih banyak yang harus diperjuangkan. Maka dalam ini, ia melihat sensitivitas anggota DPR sangat diperlukan untuk bisa memasukkan segala sesuatu itu ke dalam undang-undang. Tapi, saat ini ia melihat hal ini yang menjadi permasalahan. Banyak UU yang kurang aspiratif bahkan menjadi masalah dalam masyarakat. “Kalau UU itu menjadi masalah di masyarakat, berarti anggota Dewan yang tidak mempunyai kemampuan, tidak bisa membuat UU yang baik,” kata mantan ketua bidang kesejahteraan mahasiswa di BKK FK UKI Jakarta itu.

dr. Mangantar Marpaung, MS, MM Kes juga mengungkapkan keprihatinannya melihat anggota DPR dikejar-kejar KPK. Menurutnya, mestinya anggota DPR tidak perlu dikejar-kejar KPK. “Anggota dewan itu terhormat. Sampai hati dikejar-kejar begitu. Mestinya kalau sudah menjadi anggota DPR, merubah semua sifatnya. Yang lama ditinggalkan, karena dia wakil rakyat. Mengerikan sekali kalau wakil rakyat tidak santun, malah arogan,” katanya.

Ia berpendapat setelah seseorang terpilih menjadi anggota DPR (wakil rakyat), mestinya tidak perlu lagi dilihat dari partai mana, tapi justru melihat kompetensi. “Tanggalkan atribut. Lihat nasib bangsa ini. Ini yang betul-betul saya harapkan. Bila perlu, saya jadi ketua DPR. Supaya diluaskan,” katanya. Menurutnya, anggota DPR itu jangan jadi kepunyaan partai. Melainkan kepunyaan rakyat (wakil rakyat) yang dijembatani oleh partai.

Melihat berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini, mantan Kepala Bidang Pelayanan Medik RS FK UKI (1995 -1999), itu terdorong untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan di negeri ini, baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif. Ia pun memilih lewat jalur partai (PDS) untuk menjadi anggota DPR. Jika terpilih menjadi anggota DPR ia berobsesi dapat berperan aktif dalam komisi yang membidangi kesehatan, kalau mungkin menjadi ketua komisi. Jika mungkin jadi Ketua DPR.
Dan jika diberi kesempatan mengabdi di eksekutif, ia merasa akan bisa berperan optimal sebagai Menteri Kesehatan. Atau mungkin berperan sebagai pengambil keputusan di sebuah daerah kabupaten, menjadi Bupati. Jika diberi kesempatan menjadi bupati, ia memilih menjadi Bupati Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, tampatnya dibesarkan.

Pejuang Sejak Kecil.

Lahir di Porsea, 14 Maret 1952 dari keluarga miskin, enam bersaudara. Ayahnya seorang purnawirawan ABRI dan sudah meninggal 30 tahun lalu. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang juga sambil berjualan, baru dua tahun lalu meninggal. Sesuai tugas ayahandanya, keluarga sederhana ini sering pindah dari satu kota ke kota lain. Dari Porsea, ke Pangkalan Brandan ke Ambon ke Aceh dan terakhir menetap di Rantau Prapat. Di kota ini ayahnya menjabat Danramil.

Mangantar sendiri menekuni pendidikan dari tingkat SD sampai SMA di Rantau Prapat. Kemudian setelah tamat SMA, dengan segala keterbatasan ekonomi orang tuanya, ia masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Kuliah dengan kondisi ekonomi pas-pasan.

Sebagaimana lazimnya orang Batak, yang punya tekad sedaya mampu untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya, begitu jualah kedua orangtua Mangantar. Orang tuanya memang selalu berpesan tidak akan meninggalkan harta benda, melainkan memberikan (meninggalkan) ilmu pengetahuan yang nilainya lebih dari harta benda. Harta benda itu mudah habis. Terbukti, semua mereka, enam bersaudara, mengecap pendidikan perguruan tinggi. Satu orang, si bungsu, mengikuti jejak sang Ayah masuk militer.

Walaupun setelah kedua orang tuanya meninggal, ternyata ada juga harta yang ditinggalkan. Hal itu membuat Mangantar kaget, haru dan makin kagum. Bagi dia dan kelima saudaranya, hal itu luar biasa sekali. Memang harta benda yang ditinggalkan orang tuanya tidak banyak. Sebagai anak sulung, Mangantar memimpin adik-adiknya membagi harta itu setelah Sang Ibu meninggal dua tahun lalu. Harta itu dibagi rata laki dan perempuan.

Saat baru datang melanjutkan pendidikan ke Jakarta, Mangantar merasa beruntung bisa tinggal selama dua tahun di rumah saudara. Kemudian, ia punya kesempatan menyewa rumah kos. Setelah itu, tiga adiknya menyusul ke Jakarta, semuanya sekolah. Mereka pun menjalani kehidupan yang cukup keras di ibukota. Sebuah perjuangan hidup jatuh bangun, karena memang persiapan materi dari orang tua tidak cukup dan orang tua tidak punya cadangan (tabungan) yang cukup.

Komunikasi saat itu juga belum selancar saat ini. Kalau butuh sesuatu harus berkirim surat dulu, tidak punya alat komunikasi langsung. Tidak seperti hari ini, kalau minta sesuatu bisa segera telepon dan transfer hanya dalam hitungan menit sudah bisa. “Kalau ini, kita kirim surat, membutuhkan waktu sangat lama, kita tidak bisa telepon,” kenang Mangantar.

Selain sulitnya komunikasi, dana persediaan orang tua pun tidak selalu ada. Maka setelah surat satu minggu belum tentu sampai, satu minggu lagi juga orang tua belum tentu bisa segera kirim. Apalagi setelah Sang Ayah meninggal, tinggal Sang Ibu seorang diri yang harus membiayai sekolah anak-anaknya. Masih syukur Sang Ibu masih bisa terus berjualan. Jika ada surat minta dikirimi uang, Sang Ibu tidak selalu bisa segera kirim, masih harus tunggu dulu uang terkumpul dari sana-sini, hasil jualan. Bisa kadang-kadang lebih dari dua minggu.

Dalam kondisi ini, Mangantar merasakan kemurahan hati dari saudara di Jakarta sangat mendukung. Biasanya dia bisa pakai uang saudaranya dulu untuk membayar keperluan mendesak, membeli buku dan membayar uang kuliah. Setelah kiriman datang, uang keluarga (saudara) itu bisa dikembalikan.

Mangantar sangat merasakan bahwa hanya perjuangan besar membuat ia dan saudara-saudaranya bisa lolos menjalani kehidupan yang begitu keras di Jakarta, bahkan bisa menyelesaikan pendidikan minimal S1. Terkadang, ia merasa tidak sadar bisa melewati perjalanan hidup itu dengan baik. Sebagai orang beriman, ia juga menyukuri hal itu sebagai anugerah dari Tuhan.

Dia membayangkan saat pertama kali datang dari kampung ke Jakarta, melihat kemewahan dan situasi Jakarta, suatu tantangan yang harus dihadapi dengan ulet. Tantangan itu kadang-kadang membuat banyak juga perantau dari Tapanuli sana yang tadinya berangkat dengan semangat dan dukungan uang cukup, tapi sesampai di Jakarta menjadi terlantar kemana-mana, bahkan akhirnya ada yang mengambil jalan pintas untuk mempertahankan hidup. Mereka akhirnya gagal meraih cita-cita.

Tapi banyak juga yang berhasil berjuang di Jakarta. Mangantar melihat ada dua tipe perjuangan perantau dari Sumatera yang berhasil di Jakarta. Pertama, sebaik datang ke Jakarta berprinsip mencari pekerjaan lebih dulu. Lalu melanjutkan sekolah sambil bekerja. Mereka akhirnya ada yang sampai meraih S1, S2 bahkan S3.

Tipe perjuangan perantau kedua, berprinsip sekolah lebih dulu walau dengan kondisi keuangan yang pas-pasan. Mereka ini benar-benar mendalami ilmu lebih dulu, setelah itu baru bekerja. Mangantar sendiri memilih prinsip kedua ini. Menurutnya, kalau ia mengutamakan sekolah lebih dulu dengan menyelesaikan segala tuntutan akademis yang ada, hasilnya akan optimal. Walaupun dalam kerangka aplikasi ilmu kadang-kadang bisa dipakai atau tidak. Tapi, modal akademisnya mendasar. Berbeda dengan tipe pertama yang sudah duluan mempunyai uang, kadang-kadang kuliah itu lebih hanya untuk formalitas atau memenuhi persyaratan untuk menduduki sebuah jabatan. Mereka ini lebih berpikir pragmatis.

Tipe lain adalah perantuan yang setelah melihat kondisi ketimpangan ekonomi di Jakarta, banyak orang kaya banget beda jauh dari kehidupan di kampung, lalu mengambil jalan pintas. Mereka tidak mau sabar. “Teman-teman saya sendiri banyak yang seperti itu. Akhirnya mereka mengambil jalan yang macam-macam. Akhirnya penyesalan yang mereka rasakan setelah masuk terali besi dan sebagainya,” ungkap Mengantar.

Di samping itu, lingkungan pergaulan juga sangat memengaruhi. Kalau hidup di Jakarta dengan lingkungan pergaulan yang moral dan agama tak kuat, sangat mudah akan jatuh. Misalnya, kena narkoba dan sebagainya. “Banyak teman-teman saya yang seperti itu, yang tadinya pintar bahkan tempat kami bertanya sewaktu SMA, akhirnya tidak jadi apa-apa, katakanlah jadi sampah,” urai Mangantar.

Menurut Mangantar, hidup di Jakarta atau di daerah mana pun, tidak cukup dengan semangat saja. Tapi harus dibarengi dengan yang lain-lain terutama moral, agama dan pendidikan.
Dalam hal ini, pengasuhan orang tua dalam keluarga sangat menentukan. Dia mengenang bagaimana orangtua mendidiknya. Ayahnya yang tentara, selain menerapkan disiplin tinggi dengan keras, juga menekankan pentingnya ketekunan dalam pendidikan. Sang Ayah sering kali dengan sabar menungguinya belajar di rumah sambil membersihkan alat-alat kelengkapan militernya.

Suatu ketika, saat Mangantar sudah kuliah tingkat dua, ia pernah bertanya mengapa Sang Ayah dulu sampai menungguinya belajar seperti itu. Sang Ayah menjawab: “Saya tidak mau kalian seperti saya lagi.” Jawaban Sang Ayah ini selalu terngiang-ngiang dan menjadi pemikiran dan penguat semangat bagi Mangantar. “Oh, ternyata dia nggak mau, saya seperti yang dialaminya,” kenang Mangantar.

Sang Ayah juga berpesan agar jangan pernah berpikir hanya untuk diri sendiri. Tapi harus berpikir bagaimana berguna untuk orang lain. Pesan moral dan prinsip hidup ini ia genggam erat dan terapkan sampai sekarang. Bahkan, ia pun menyampaikan pesan itu kepada banyak orang. Menurutnya, adalah hal yang sangat membahagiakan kalau kita bermanfaat untuk orang lain. Jangan terlalu memikirkan diri sendiri.
“Jadi inilah yang saya lihat dari ortu saya itu, sederhana sekali filosofi yang dijalaninya dan saya sangat agree dengan itu. Mudah-mudahan saya bisa menjalankan filosofinya itu, sekian persen saja. Mungkin saya bisa bermanfaat untuk orang Tangerang,” kata Mangantar.

Ia banyak bercermin dari perjalanan hidup orang tuanya. Sang Ayah yang terakhir berpangkat pembantu letnan dua dan sempat menjadi Komandan Rayon Militer di salah satu kota dan ternyata tidak terlalu mengumpulkan sesuatu. Apa yang sepatutnya ia punya, itulah yang ia ambil. Sehingga kalaupun mereka enam bersaudara bisa sekolah sampai perguruan tinggi adalah karena Sang Ibu memang turut membantu keuangan keluarga berdagang dan sebagainya.

Semangat juang yang ditanamkan orang tuanya itu menginspirasi Mangantar untuk bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik agar bisa berbakti untuk keluarga dan untuk orang lain. Sayang, Sang Ayah tidak sempat menikmati jerih-payah mendidik anak-anaknya, karena sudah meninggal sebelum Mangantar menyelesaikan pendidikan dokternya.

Syukur, ia dan saudara-saudaranya masih sempat memberikan sesuatu atau berusaha membahagiakan Sang Ibu. Bahkan Sang Ibu masih sempat jalan-jalan ke luar negeri bersama adik bungsunya yang sempat menjadi Sekpri Duta Besar Thailand untuk Indonesia. Mangantar sendiri masih sempat merawat Sang Ibu di Siloam Hospital, LIPPO Karawaci, dimana Mangantar menjabat sebagai Wakil Direktur Medik. Walaupun Sang Ibu sendiri tidak pernah mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya. Karena jerih-payah orang tua tidak pernah meminta balasan.

Karir

Kegigihannya belajar mendapat perhatian almamaternya. Sejak tahun 1977, ia dipercaya sebagai Asisten Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta. Sebagai asisten dosen, ia sudah mendapat penghasilan. Hal ini cukup membantu, apalagi karena adik-adiknya masih ada lima orang yang harus sekolah. Kemudian, beberapa saat setelah menyelesaikan pendidikan Doktorandus Med, ia menikah dengan sang kekasih Timoria Hutabarat, SKM, seorang pegawai negeri di Departemen Kesehatan RI.

Dia menikah sebelum meraih gelar dokter. Karena memang saat itu, di perguruan tinggi swasta sangat sulit dan lama untuk meraih gelar dokter. Bayangkan, ia masuk tahun 1971-1972, tapi baru bisa tamat S1 (dokter) tahun 1986. Beruntung ia sudah mengajar sebagai asisten dosen di kampusnya. Kemudian dengan biaya dari UKI, ia melanjutkan Program Magister Ilmu Kedokteran Dasar Pascasarjana UI dan meraih Master of Science (S2) tahun 1993.

Sebagai seorang dokter umum dan dosen, dia tidak langsung serta merta mempunyai sesuatu. Sokongan isterinya sangat banyak membantu perjalanan hidup dan jenjang karirnya. Dia pun mengabdikan diri sebagai Pelaksana Harian UGD RS FK UKI, sejak tahun 1986, dan Kepala Bidang Pelayanan Medik RS FK UKI, sejak 1995 serta Dosen Bagian Patologi Anatomi FK UKI Jakarta, sampai tahun 1999.

Kemudian ia pindah ke RS Siloam tahun 1999. Di RS Siloam, ia memulai karirnya lagi sebagai dokter jaga pada umur 40 tahun waktu itu. Ia pun bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh di RS ini. Kemudian oleh pimpinan, ia diarahkan untuk menekuni manajerial. Suatu hal yang sebenarnya tidak asing baginya. Kebetulan sejak mahasiswa ia juga sangat senang berorganisasi. Bahkan ia pernah menjabat Sekjen Dewan Mahasiswa di UKI, sebelum Dewan Mahasiswa dibekukan.

Tahun kedua di RS Siloam, ia sudah diangkat menjadi Manager Rawat Jalan (2001 – 2004). Kemudian dipercaya menjabat Deputy Head of Division AMA (Wakil Direktur Medik) RS Siloam Lippo Karawaci 2004 sampai sekarang (2008). Walaupun sebenarnya sebagai karyawan pada umur 55 tahun (14 Maret 2007 lalu) ia sudah pensiun. Tapi jabatannya sebagai Wakil Direktur Medik masih terus diperpanjang. Bahkan RS Siloam memberinya kesempatan untuk meraih Magister Manajemen Rumah Sakit (MMKes) dari Sekolah Tinggi Manajemen “IMNI” Jakarta pada 2007 lalu.

Itulah selintas jejak rekam karier Mangantar yang sangat penuh dinamika dan tantangan. Pengalamannya yang cukup panjang membuatnya berpikir, ada baiknya seseorang itu menyelesaikan sekolah dengan baik dulu, baru bekerja dan berkeluarga. Tapi dalam perjalanan hidupnya ada sejarah lain yang terjadi. Ia pun selalu menasehatkan mahasiswa, sebaiknya harus konsentrasi dulu sekolah. Sampai usia 25 tahun itu adalah waktu belajar. Nah setelah itu baru berkarya.

Tapi kadang-kadang ia melihat, pengalaman pun sangat dibutuhkan. Sebab setelah terjun di pekerjaan ternyata apa-apa yang ada di buku belum tentu bisa diaplikasikan, diterapkan. Jadi harus bisa dilihat hal-hal positif hubungan antara manusia. “Jadi seseorang yang berhasil menurut saya, bukan hanya didukung oleh kemampuan (kecerdasan) intelektualnya tapi juga bagaimana kecerdasan emosionalnya. Ini menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan bisa sukses,” tutur Mangantar.

Sumber : tokoh-indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...