Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Politik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

Biografi Winston Churchil



Winston Churchil adalah perdana menteri Inggris yang menjabat selama dua periode yaitu tahun 1940-1945 dan 1951-1955. Dikenal sebagai tokoh besar abad 20 karena kepemimpinannya Perang Dunia II sebagai tokoh dengan keberanian, keyakinan,pengalaman politik dan kharisma yang besar. Ia juga salah satu deklarator Atlantic Charter bersama presiden AS Franklin Delano Rosevelt yang menjadi cikal bakal berdirinya PBB pasca Perang dunia II.

Churcill adalah anak bangsawan dan negarawan Inggris, tokoh di Majelis Rendah, Lord Randolph Churcill. Selama sekolah ia dikenal sebagai siswa yang cerdas, ingatannya tajam, namun sifatnya keras kepala. Sejak kecil ia tertarik pada popularitas dan peperangan sehingga diwaktu remaja ia melanjutkan pendidikan di Royal Military College Sandhurst. Setelah tamat dengna pangkat letnan dua, ia ditugaskan di 4th Queens Own Hussars sebuah resimen tentara Inggris. Ia banyak terlibat dalam berbagai pertempuran seperti mulai dari penumpasan pemberontakan Kuba oleh tentara Spanyol, pertempuran di Sudan hingga perang Boer di Afrika Selatan. Di Afrika Selatan ia sempat di tawan di Pretoria namun berhasil meloloskan diri.Selain sebagai tentara, Churchil juga terlibat dalam kegiatan jurnalisme meliput peperangan, dan menulis buku.

Karir politiknya dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota Majelis Rendah dari kubu konservatif. Ia kemudian pindah haluan politik ke Partai Liberal tahun 1904. Semasa PD I Churchill dijadikan kambing hitam kegagalan Sekutu di Eropa karena ia menjabat sebagai Kepala Staff Angkatan Laut Inggris sehingga karir politiknya surut. Posisi penting baru diperolehnya setelah PD I usai. Ia juga tetap konsentrasi menulis buku. Karya-karya besarnya antara lain: the river of war (1899), Marlborough:His Life and Time (4 jilid), dan My early Life.

Setelah PD II pecah, ia kembali menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Laut dan memfokuskan diri membangun AL dalam pertahanan anti kapal selam. Tahun 1940 Norwegia, Belanda, dan Belgia jatuh disusul kejatuhan PM Chamberlin. Raja George VI kemudian menunjuk Churchill menduduki jabatan perdana menteri. Ia berpidato di depan majelis rendah membakar semangat, patriotisme, dan daya juang rakyat Inggris. Tanggal 22 Juni Prancis jatuh ke tangan Jerman sehingga berpotensi kapal-kapal Prancis akan digunakan Jerman dan Italia untuk menyerang Inggris. Ia segera meminta laksamana Prancis untuk bergabung dengan Inggris, namun permintaan di tolak sehingga ia mengambil alih dengan cara militer.

Jerman dan Italia segera melakukan invansi terhadap Inggris melalui serangan udara besar-besaran. Sekitar tahun 1940 Inggris banyak menderita kekalahan, namun dengan kegigihan yang luar biasa, Inggris akhirnya mampu memukul mundur pasukan Jerman. Pada PD II AS akhirnya ikut terlibat perang setelah pangkalan laut Pearl Harbour dihancurkan jepang yang bersekutu dengan Jerman dan Italia. Pada bulan Mei 1945, Jerman menyerah di Eropa dan menyusul Jepang setelah kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika Serikat.

Sukses Churchil sebagai panglima perang ternyata tidak berlanjut dibidang politik. Partai buruh justru meraih kemenangan dalam Pemilu pasa PD II. Churchil baru kembali menjabat Perdana Menteri setelah merevitalisasi Partai Konservatif. Masa pemerintahan keduanya banyak di isi upaya mencegah terjadinya perang dunia dan perang nuklir antara blok sekutu dengan blok negara-negara komunis.

Churcill banyak mendapatkan penghargaan bergengsi atas semua jasa dan upayanya. Ratu Elizabeth II menganugerahi gelar Knightood of Gater tahun 1953. Ia juga mendapat nobel Sastra atas semua karya tulisnya dan pidatonya tahun 1953. Churchill wafat tahun 1965 pada usia 90 tahun.

Sumber : biografitokohdunia

Senin, 04 Juli 2011

Biografi Kaisar Shih Huang Ti




Shih Huang Ti lahir tahun 259 SM dan meninggal tahun 210 SM adalah Kaisar Cina yang berkuasa tahun 238-210 SM, menyatukan Cina menjadi Kekaisaran besar di Asia bahkan di dunia. Sebelum beliau berkuasa, Cina terpecah-pecah dalam negara-negara kecil akibat lemahnya kekuasaan dinas Chou
Kerajaan-kerajaan kecil tersebut saling bertempur hingga yang kecil akan lenyap di caplok kerajaan yang lebih besar. Kerajaan terkuat saat itu adalah Kerajaan Ch`in yang berkedudukan di Cina Bagian Barat. Kerajaan Ch'in menganut aliran filosofis legalis sebagai dasar Negara dan mengesampingkan ajaran Kong Hu-Cu. Filosofi legalismengajarkan bahwa rakyat harus diawasi ketat melalui aturan-aturan keras dan paksaan. Hukum dan aturan dibuat penguasa ddi ubah jika dianggap perlu demi kepentingan politik dan kelangsungan kekuasaan.

Ch'in kemudian berkembang menjadi kerajaan paling kuat diantara kerajaan di Cina. Cheng naik tahta pada tahun 246 SM pada umur 13 tahun dan pemerintahan dipegang dewan pemerintahan hingga Cheng cukup dewasa di tahun 238 SM. Kaisar Cheng kemudian mengangkat jendral-jendral yang berkemampuan tinggi untuk menginvansi kerajaan-kerajaan kecil yang masih tertinggal. Akhirnya tahun 221 SM Kaisar Cheng berhasil menyatukan Cina dan dia bisa memproklamirkan diri selaku Wang (raja) seluruh Cina. dia memakai gelar baru dan menyebut dirinya Shih Huang Ti yang maknanya "Kaisar pertama."

Dalam kepemimpinannya, Shih Huang Ti melakukan upaya mencegah perpecahan di Kekaisarannya. Ia mengganti sistem pemerintahan feodal. Wilayah yang dikuasainya dibagi-baginya menjadi 36 propinsi, dan pada tiap propinsi diangkat seorang gubernur sipil yang langsung ditunjuk oleh kaisar. Shih Huang Ti mengeluarkan dekrit bahwa gubernur propinsi tidaklah lagi berdasar keturunan. Akibat dari keputusan ini, terjadilah kebiasaan memindah-mindahkan gubernur dari satu propinsi ke propinsi lain untuk mencegah kemungkinan timbulnya pejabat daerah yang ambisius dan menyusun basis kekuatan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tiap propinsi juga punya pimpinan militer, ditunjuk oleh kaisar dan sewaktu-waktu bisa dipindah kapan saja dia berkenan. Ia juga menunjuk pejabat untuk memelihara keseimbangan antara gubernur sipil dan gubernur militer. Dia membangun jalan raya yang panjang dan rapi menghubungkan ibukota dengan kota-kota propinsi. Jalan raya itu dibangun sedemikian rupa untuk kepentingan ekonomi dan militer. Shih Huang Ti juga menerapkan aturan bagi aristokrat-aristokrat lama yang masih hidup harus menetap di ibukota Hsieng dengan maksud agar mereka mudah diawasi gerak-geriknya.



Shih Huang Ti juga membangun kekuatan ekonomi negaranya dengan menetapkan aturan ukuran baik untuk berat timbangan maupun panjang sesuatu barang, menetapkan standar mata uang, macam-macam peralatan, lebar serta panjang kendaraan dan mengawasi konstruksi jalan raya dan saluran-saluran air. Dan dia juga menetapkan sistem hukum yang seragam untuk seluruh Cina berikut standar bahasa tulisan. Tahun 213 SM kaisar menerapkan aturan penghancuran semua buku di Cina, kecuali buku-buku yang berkaitan dengan masalah pertanian, kedokteran, catatan sejarah mengenai negara Ch'in dan buku-buku falsafah yang ditulis oleh pengarang-pengarang penganut faham legalis. Selebihnya --tidak kecuali buku-buku doktrin Kong Hu-Cu-- mesti dimusnahkan. Dengan dikeluarkannya aturan yang kelewatan ini mungkin merupakan contoh pertama adanya sensor besar-besaran dalam sejarah. Dia bermaksud melabrak habis filosofi-filosofi lawannya, khususnya faham Kong Hu-Cu. Tetapi, Shih Huang Ti memerintahkan mengkopi buku-buku yang dilarang dan disimpan di perpustakaan di ibukota.

Politik luar negerinya juga terkenal keras dan imperalis. Ia menaklukan selatan Cina, dan daerah-daerah yang ditaklukkan dimasukkan ke dalam wilayah Cina. Juga di utara dan di barat pasukannya berhasil, namun dia tidak mampu menundukkan penduduknya secara permanen. Untuk mencegah jangan sampai mereka menyerang Cina, Shih Huang Ti menghubungkan pelbagai dinding lokal yang memang sudah ada di perbatasan Cina utara sehingga menjadi jalur tembok raksasa. Tembok besar China adalah bangunan spektakuler yang menjadi keajaiban dunia dan masih utuh hingga kini. Pembangunan tembok Cina membebankan penduduk dengan pajak tinggi, sehingga membuatnya tidak disenangi masyarakat. Berbagai upaya pembunuhan banyak dilakukan, namun selalu gagal. Kaisar kemudian meninggal secara wajar tahun 210 SM. Kaisar digantikan putera keduanya bergelar Erh Shih Huang Ti. Tetapi, kemampuannya tidak sehebat ayahnya hingga akhirnya muncul beberapa pemberontakan. Dalam tempo empat tahun dia terbunuh. Perpustakaan kerajaan dibumihangus, dan dinasti Ch'in sepenuhnya ditumbangkan.

Dinasti berikutnya (dinasti Han) meneruskan sistem dasar administratif yang ditegakkan oleh Ch'in Shih Huang Ti. Dan memang dalam kenyataannya, sepanjang dua puluh satu abad kekaisaran Cina melanjutkan garis-garis yang sudah diletakkan. Meskipun sistem hukum Ch'in yang keras segera dilunakkan oleh para kaisar dinasti Han, dan biarpun keseluruh filosofi legalis sudah dijauhi dan Confucianisme menjadi lagi falsafah negara, penyatuan politik dan kultural yang sudah dibangun oleh Shih Huang Ti tidaklah luntur.

Penulis-penulis Barat sering membandingkan Shih Huang Ti dengan Napoleon. Tetapi, tampaknya dia lebih mirip dengan Augustus Caesar, pendiri kekaisaran Romawi. Empirium yang mereka dirikan sedikit banyak punya kemiripan dalam ukuran luas daerah dan jumlah penduduk. Bedanya, empirium Romawi berdiri jauh lebih singkat dan daerah yang diperintah oleh August Caesar tidak mampu dipersatukan dalam jangka waktu lama. Tidaklah demikian pada Shih Huang Ti. Itu sebabnya Shih Huang Ti lebih punya pengaruh ketimbang Augustus Caesar.

Sumber : biografitokohdunia

Kamis, 30 Juni 2011

Biografi Ratu Elizabeth I




Ratu Elizabeth I adalah ratu Inggris yang memerintah selama 45 tahun (1558 – 1603). Ia di anggap ratu paling terkemuka. Di bawah pemerintahannya Inggris mencapai masa kemakmuran ekonomi, kemajuan bidang kesusastraan, dan kekuatan militer. Inggris memiliki armada laut paling kuat di dunia. Bahkan Persemakmuran Virginia, bekas koloni Inggris di Amerika Utara yang saat ini menjadi salah satu dari 13 negara bagian pertama Amerika Serikat, dinamakan sesuai dengan julukan Elizabeth I, "the Virgin Queen".

Lahir di Greenwich, Inggris, 7 September 1533 dan meninggal 24 Maret 1603 pada umur 69 tahun di Richmond, Inggris. Selama hidupnya ia tidak pernah menikah hingga dijuluki Virgin Queen. Elizabeth I adalah penguasa monarki keenam dan terakhir dari dinasti Tudor. Ayahnya, Raja Henry VIII dan Ibunya Anne Boleyn. Anne Boleyn di hukum mati saat Elizabeth I berusia 3 tahun karena tuduhan pengkianatan terhadap raja. Pada 1558 saudara tirinya Mary yang beragama Katolik Roma memenjarakan dirinya selama hampir 1 tahun karena diduga membela pemberontakan Protestan.

Pada usia 13 tahun tepatnya tahun 1547, ayahnya Henry VIII tutup usia. Saudara tiri Elizabeth Edward VI, naik tahta dan berkuasa antara tahun 1547 - 1553. Saat itu terjadi konflik antara kelompok protestan dan katholik Roma. Edward VI ternyata lebih mendukung golongan protestan. Namun setelah Ratu Mary naik tahta, kerajaan Inggris kembali mendukung katholik roma dan mendukung kepausan. Golongan Protestan kemudian ditindas dan banyak pengikutnya dihukum mati. Elizabeth I juga di tahan di menara London oleh Ratu Mary yang terkenal ratu diktaktor. Ratu Mary tutup usia tahun 1558 dan digantikan Elizabeth yang berumur 25 tahun. Di bawah kepemimpinannya Inggris mengalami masa pencerahan kejayaan dan kemakmuran.



Dalam masa pemerintahannya, Ratu Elizabeth I mengalami berbagai masalah antara lain; krisis hubungan bilateral dengan Skotlandia dan Spanyol, Kondisi perekonomian dan keuangan pemerintah yang mengalami krisis dan perpecahan agama di masyarakat Inggris. Untuk mengatasi perpecahan agama, ratu Elizabeth I mengesahkan UU tentang supremasi dan persamaan tahun 1559 dengan menetapkan Aglican sebagai agama resmi Inggris. UU ini berhasil meredam perpecahan antar agama.

Dalam bidang politik luar negeri, ia terkenal tokoh yang cermat, luwes, dan berpandangan jauh. Awal tahun 1560 dia mengadakan "Perjanjian Edinburgh" yang menjamin penyelesaian damai konflik dengan Skotlandia. Pertentangan dengan Prancis juga berakhir dengan hubungan kedua Negara semakin membaik. Namun Inggris terlibat pertentangan dengan Spanyol. Elizabeth berusaha menghindari perang, tetapi buat Katolik militan Spanyol abad ke-16, perang antara Spanyol dengan Protestan Inggris sulit terelakkan. Pemberontakan di Negeri Belanda melawan penguasa Spanyol merupakan faktor pembantu: pemberontak Belanda umumnya penganut Protestan dan tatkala Spanyol menggenjot pemberontak, Elizabeth membantu Negeri Belanda, meskipun sebenarnya Elizabeth pribadi tak punya gairah berperang. Umumnya rakyat Inggris seperti juga para menteri dan parlemen lebih bernafsu angkat senjata daripada Elizabeth. Karena itu, ketika perang dengan Spanyol akhirnya meletus juga di tahun 1580an, Elizabeth peroleh dukungan kuat rakyat Inggris.

Elizabeth secara bertahap membangun Angkatan Laut Inggris hingga memiliki armada yang kuat. Keadaan ini membuat Raja Philip II dari Spanyol mengimbangi kekuatan Inggris dengan membangun kekuatan militer. Spanyol memiliki kekuatan hampir seimbang dengan Inggris. Perlombaan kekuatan militer ini akhirnya pecah menjadi perang terbuka. Pertarungan pun pecah tahun 1588, dan pertempuran laut yang seru itu berakhir dengan kekalahan mutlak pihak Inggris. Inggris kemudian memantapkan posisinya sebagai Negara dengan armada laut paling kuat di dunia yang tetap dipegangnya hingga abad ke 20 ini.



Di bidang ekonomi, Elizabeth sangat cermat mengatur keuangan negara. Konflik dengan Spanyol menelan biaya mahal sehingga di akhir pemerintahannya keuangan Negara mengalami kesulitan. Namun keadaan ini dapat diatasinya dengan cepat. Pemerintahan Elizabeth selama 45 tahun di anggap "Jaman keemasan Inggris." Beberapa penulis termasyhur Inggris, termasuk William Shakespeare, hidup di jaman itu. Elizabeth punya andil besar dalam perkembangan social budaya di Inggris. Kesusasteraan, music, seni lukis dan seni pertunjukkan berkembang pesat selama pemerintahannya.

Di masa pemerintahan Elizabeth I, Inggris juga tumbuh menjadi imperium dunia. Berbagai penjelajahan dunia dilakukan untuk memperluas ruang hidup (Lebensraum). Martin Frobisher dan John Davis menjelajahi samudera arah barat laut menuju Timur Jauh. Sir Francis Drake Menjelajahi Samudera Atlantik (dari tahun 1577 hingga 1580) dan mencapai California. Juga Sir Walter Raleigh mendirikan pemukiman di Amerika Utara.

Elizabeth adalah seorang politikus yang cakap, tegas, punya pandangan luas. Dia juga bersikap sangat hati-hati dankonservatif. Dia tidak suka perang dan pertumpahan darah meskipun jika diperlukan dia bisa melakukannya. Dalam Pemerintahan, dia sangat kooperatif dengan parlemen. Elizabeth punya kemampuan memilih pembantu-pembantu yang profesional. Salah satu pembantu setianya adalah Williarn Cecil (Lord Burghley), yang menjadi penasihat utamanya sejak tahun 1558 hingga beliau meninggal tahun 1598.

Hal yang disayangkan dari seorang ratu Elizabeth adalah tidak memiliki keturunan karena memang ia tidak pernah menikah. Hal ini menjadi masalah besar bagi regenerasi kepemimpinan di Inggris setelah beliau wafat. Namun di akhir hayatnya dia menunjuk Raja James II dari Skotlandia (putera Mary dari Skotlandia) menjadi penggantinya. Meskipun James dan puteranya Charles I dianggap pemimpin otoriter buat rakyat Inggris.

Keberhasilan Elizabeth dapat disimpulkan sebagai berikut:
Elizabeth I memimpin Inggris tanpa pertumpahan darah yang berarti. (Berbeda dengan Jerman di mana tiga puluh tahun perang (1618-1648) membunuh lebih dari dua puluh lima persen penduduk, sungguh menyolok). Elizabeth I mampu meredakan pertentangan antara Katolik Inggris dan Protestan Inggris, dia berhasil pula menjaga persatuan bangsa.
Empat puluh lima tahun pemerintahannya di anggap jaman keemasan Inggris. Inggris tampil menjadi bangsa besar di dunia.
Di masa pemerintahannya Inggris muncul sebagai kekuatan dunia di bidang militer yang bisa dipertahankan pada abad berikutnya.

Sumber : biografitokohdunia

Selasa, 28 Juni 2011

Biografi Benyamin Bura

Laksma TNI (Purn) Benyamin Bura

Nama : Laksma TNI (Purn) Benyamin Bura
Lahir          : Makale, Tana Toraja, 18 September 1942
Isteri   : Yuli Parantean

Jabatan :
Anggota DPD RI dari Sulsel/Sulbar

Pendidikan :
- Sekolah Rakyat, Makale 1949-1955
- SMP Kristen, Makale,1955-1958
- SMA Neg. Rantepao, 1958-1961
- Akademi Angkatan laut, Surabaya, 1961-1965
- Universitas Terbuka, Jakarta, 1994 -1995
- Institut Bisnis Manajemen Jakarta, 1997

Pendidikan Jenjang:
- Pendidikan Lanjutan Perwira, Surabaya, 1968
- Pendidikan Lanjutan Perwira II, Surabaya, 1975
- Kursus Komandan Kapal Perang, Surabaya, 1972
- Fleet Training Group, US Navy, USA, 1974
- Seskoal 1982

Karier:
- Pembina Taruna AAL, 1965-1966
- Perwira Kapal Perang KRI Nuku, 1996-1967
- Perwira Kapal Perang KRI Yos Sudarso, 1967-1972
- Komandan KRI Cakalang, 1973
- Direktur Sekolah Artileri AL, 1976-1978
- Komandan KRI Multatuli, 1982
- Komandan Satgas Buru Ranjau, 1987-1989
- Komandan Satuan Kapal Ranjau Armada RI, 1990
- Direktur Pendidikan Akademi TNI AL, 1992
- Inspektur Armada Timur, 1993
- Inspektur Pembinaan Sumber Daya, Inspektorat Jenderal TNI AL /Anggota Dewan Penyantun Universitas Hang Tuah,Surabaya, 1995-1997

Penghargaan:
1. Satya Lencana Penegak, 1980
2. Satya Lencana Widya Sista, 1983
3. Satya Lencana 24 Tahun, 1990
4. Bintang Yalasena Nararia, 1995

Alamat Kantor:
Gedung DPD/MPR RI
Jln. Gatot Subroto no. 6 Senayan, Jakarta
Telp. 021-57897245; 57697232.

Pengabdian Tiada Akhir

Benyamin Bura, Anggota DPD RI dari Provinsi Sulsel/Sulbar.  Pria kelahiran Makale, Tana Toraja, 18 September 1942, ini tak mengenal akhir dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Mantan Inspektur Pembinaan Sumber Daya, Inspektorat Jenderal TNI A, berpangkat terakhir Laksamana Pertama (Laksma TNI) ini telah mengabdi dari kapal perang hingga gedung DPD Senayan.

Postur fisiknya cukup ideal dan mencerminkan sosok prajurit sejati. Tinggi semampai (172 meter), atletis, padat dan tampak bersih dari timbunan lemak. Tatapan matanya tajam dan selalu fokus pada lawan bicaranya. Nada bicaranya tegas dan lugas. Kalimat-kalimatnya runtut, tapi sangat terukur serta “to the point”. Benyamin Bura anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Prov. Sulsel/Prov. Sulawesi Barat ini memang bukanlah tipe yang humoris. Dalam urusan senyuman pun dia termasuk irit. Disiplin dan kultur militer tampaknya telah membentuk karakternya menjadi pribadi yang serius, berwibawa, dan percaya diri.

Perjuangan keras memang tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup Benyamin Bura, pria kelahiran Makale, Tana Toraja, Prov. Sulsel, 18 September 1942 ini. Bahkan di usianya yang kini 64 tahun dan sudah lama pensiun dari dinas militer (AL), beban ekonomisnya diakuinya masih cukup berat. Ya, anaknya yang paling bungsu masih bergelut untuk menyelesaikan studi di Negeri Belanda, dan ini tentu saja masih membutuhkan kiriman dolar yang tidak sedikit. Tapi dengan keyakinan teguh kepada Yang Mahakuasa, sesuai dengan nilai-nilai Kristiani yang diyakini, lelaki ini tetap tegar menjalani hidup.

“Selalu ada jalan keluar dari setiap masalah,” ujarnya tanpa ragu.

Masa kecilnya memang diwarnai pergulatan hidup yang keras. Sebagai anak pendeta/rokhaniawan dan dengan latar belakang ekonomis yang kurang menguntungkan, Benyamin dipaksa untuk selalu bergegas. Tidak ada ruang dan kesempatan untuk hidup santai, berleha-leha apalagi berhura-hura seperti kebanyakan anak-anak keluarga ekonomi mapan. Semasih anak-anak, membantu orang tua di sawah atau mengembalakan kerbau dan itik menjadi rutinitas kesehariannya di samping urusan sekolah, belajar atau membantu orang tuanya di rumah.

Ia benar-benar asli Anak Toraja. Dilahirkan, besar dan hingga menamatkan SMP di Makale lalu SMA di Rantepao, ibukota kabupaten yang termasuk salah satu andalan wisata Kawasan Timur Indonesia itu.

Tapi, tuntutan masadepan mengharuskannya keluar dari Tana Toraja. Apalagi kalau bukan karena urusan pendidikan. Perguruan tinggi waktu itu cuma ada di Makasar. Selepas SMA, ia pun mendaftar ke Universitas Hasanuddin, Jurusan Teknik Perkapalan. Namun secara bersamaan, ia juga menjajal kemampuan untuk menembus Akademi Angkatan Laut, lembaga pendidikan yang waktu itu masih sangat prestisius di kalangan anak muda.

Akademi Angkatan Laut
Benyamin sempat rada bingung menentukan arah masadepannya. Ia diterima di Unhas. Dasar otaknya cukup encer dan ditunjang oleh jasmani dan rokhani yang sehat, ia juga lulus seleksi ke AAL. Akhirnya, setelah melalui pertimbangan matang, ia pun meninggalkan kegiatan perpeloncoan yang tengah dijalani di Fak Teknik Unhas dan memantapkan pilihannya ke AAL.

Ia mengaku bahwa pilihan ke AAL sangat dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi keluarga. Belum lagi daya tarik dan rasa bangga untuk menjadi taruna AAL. Selain bebas biaya pendidikan, karier dan masadepan pun sudah membayang di depan mata. Sementara kuliah di Unhas, selain butuh jangka waktu lebih lama, biaya yang harus dikeluarkan juga cukup besar. Dengan kondisi ekonomi keluarganya waktu itu, Benyamin bahkan tidak yakin bisa menjadi insinyiur perkapalan seperti yang pernah melintas dalam benaknya.

Jangan-jangan dalam beberapa semester, ia sudah harus drop-out karena tak mampu lagi membayar uang kuliah.
“Saya tidak bisa memperkirakan bakal jadi apa kalau saya terus bertahan di Unhas,” ujarnya mencoba mengingat peristiwa di tahun 60-an itu.

Masuk AAL tahun 1961, tahun 1965 ia dilantik menjadi perwira muda dengan pangkat letnan dua. Sederet jabatan dan posisi pun sudah dilakoninya, tapi sebagian besar di kapal perang. Diawali sebagai pembina taruna AAL (ia masuk kelompok lulusan terbaik di angkatannya), berikutnya adalah perwira di sejumlah kapal perang antaralain KRI Yos Sudarso, Komandan Kapal Perang antaralain KRI Multatuli, Direktur Sekolah Artileri, hingga Direktur Pendidikan Akademi AL dan diakhiri dengan penugasan sebagai Inspektur Pembinaan (Irbin) di Mabes AL.

“Masa dinas aktif saya selama 20 tahun saya habiskan di laut pada berbagai jabatan sampai dengan komandan kapal perang, “ katanya mengenang.

Namun pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat bertugas sebagai komandan KRI Multaltuli. Kapal ini merupakan “kapal komando” bagi seluruh kapal di jajaran Angkatan Laut yang bergabung dalam Eskader Nusantara. Sebagai kapal markas, posisinya pun sangat dinamis karena harus menjelajahi seluruh kawan Nusantara, Timur maupun Barat.

Serangkaian pendidikan yang pernah diikuti selama berdinas di AL antaralain Pendidikan Lanjutan Perwira (1968), Pendidikan Lanjutan Perwira II (1975), Kursus Komandan Kapal Perang (1972), dan Fleet Training Group (1974) sampai dengan Sesko TNI AL.

Suami Yuli Parantean ini juga sarat dengan sejumlah penugasan antaralain menjadi Pembina Taruna AAL (1965-1966), Perwira di Kapal Perang NKRI Yos Sudarso (1967-1972), Komandan Kapal Perang KRI Multatuli (1973), Direktur Sekolah Artileri (1976-1978) dan Direktur Pendidikan Akademi AL, Irbin di Mabes TNI AL (1995-1997). Antara tahun 1987 - 1989 saat berpangkat Letkol Benyamin mendapat tugas khusus ke Negeri Belanda. Yakni mengawasi pembuatan KRI Pulau Rengat dan KRI Pulau Rupat.

Kedua kapal pemburu ranjau ini merupakan pesanan AL untuk memperkuat armada RI. Salah satu stafnya ketika di Negeri Belanda yakni Freddy Numberi yang kini menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Benyamin Bura pensiun dari dinas militer tahun 1998 dengan jabatan terakhir sebagai Inspektur Pembinaan TNI – AL. Ia sangat bersyukur karena telah menjalani dinas selama 32 tahun tanpa cacat, sejak dilantik menjadi perwira muda tahun 1966. Kebanggaannya sebagai perajurit semakin lengkap karena dari angkatannya yang berjumlah 180 orang itu, ia tercatat sebagai salah satu dari 23 yang berhasil masuk ke jajaran “bintang” atau kelompok perwira tinggi. Dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama (Laksma TNI), ia berhak mengikuti upacara kehormatan pelepasan perwira di Surabaya (AAL). Momen seperti ini menjadi dambaaan sekaligus kehormatan tersendiri bagi setiap perwira, ujarnya.

Haus Ilmu
Pensiun dari dinas militer bukan berarti masapengabdian sudah selesai. Bagi Benyamin, ini justru semacam pintu gerbang untuk memasuki dunia baru. Sekedar perpindahan ladang pengabdian dari dunia militer ke dunia sipil. Lagipula jauh-jauh hari, ia telah mempersiapkan diri dengan kuliah di Universitas Terbuka. Tahun 1995 ia berhasil merampungkan kuliah S-1-nya dan berhak menyandang gelar sarjana ilmu politik.

Meraih gelar sarjana politik ternyata belum belum menyurutkan semangatnya untuk menimba ilmu. Tahun 1987, Benyamin mengambil program Magister Manajemen di Institut Bisnis Manajemen Jakarta. Kuliahnya sebenarnya sudah selesai tahun 1998 namun ia baru bisa divisuda tahun 2002. Soalnya, selain kuliah, waktu itu dia juga disibukkan berbagai kegiatan antaralain sebagai komisaris di PT Admiral Lines. Tapi ia tetap bersyukur karena akhirnya bisa merampungkan studinya yang kedua ini. Kini, selain pangkat kemiliteran, ia juga berhak menyandang dua gelar kesarjanaan yang merupakan simbol prestise masyarakat sipil.

Benyamin mengakui bahwa selain dalam rangka berkiprah di dunia sipil, dengan kesungguhan belajarnya ini ia sekaligus menanamkan kepada anak-anaknya bahwa tidak ada istilah berhenti untuk belajar (Learn is never ending). Bukan dengan dengan cara teriak-teriak, tapi dengan memberikan contoh konkrit, ujarnya.

Untuk urusan pendidikan, sampai titik darah penghabisan pun harus ditempuh, begitu prinsipnya tentang pentingnya pendidikan dalam rangka pembentukan generasi penerus yang berkualitas.

Ternyata, prinsip tersebut diamini oleh ketiga anak-anaknya. Anak pertamanya, perempuan, Jory Firdaus Bura sempat memasuki perguruan tinggi walau hanya sampai tingkat akademi. Anak keduanya, Romie Oktavianus Bura telah meraih gelar doktor (S-3) aeronetika dari Southampton University, Inggeris dan kini mengajar di ITB. Sementara si bungsu, Erik Elisar Bura tengah menyelesaikan program S-2-nya di Erasmus Universiteit, Negeri Belanda, yang alumninya antaralain Radius Prawiro dan Kwik Kian Gie itu.

Benyamin memiliki pengalaman mengharukan di seputar pendidikan anaknya ini. Ketika itu, Agustus 1997, kedua anaknya sudah berada di Inggeris dan Negeri Belanda. Keduanya tengah mempersiapkan diri untuk memilih tempat studi. Namun tahun 1998, krisis tiba-tiba saja menerjang perekonomian Indonesia dengan salah satu dampaknya yakni merosotnya nilai Rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS dan Foundsterling. Anaknya yang di Inggeris, sudah pasrah dan bersiap untuk kembali ke tanah air. Ia sadar bahwa orang tuanya yang hanya pensiunan TNI (Benyamin pensiun terhitung 18 September 1997) tidak bakal mampu menyiapkan 4000 poundsterling (sekitar Rp 100 juta) untuk kebutuhan kuliah tahun pertama.

Benyamin Bura pun sangat terpukul. Tapi ia bersama keluarga tidak lantas putus asa danmenyerah. Mereka pun memanjatkan doa kepada Tuhan. Setelah berdoa, ia lalu menelpon anaknya. dan mengatakan sangat memahami kegalauan anaknya itu. Namun sebelum pulang ke Tanah Air, atas rekomendasi Fanny Habibie (waktu itu menjabat sebagai Dubes RI), anaknya disarankan menghadap salah satu direktur di British Aerospace, Inggeris.

Akhirnya, berkat bantuan Fanny Habibie, anak Benyamin berhasil mendapatkan bea siswa dari British Aerospace (semacam NASA-nya AS). Dasar anaknya berotak encer. Bukan hanya program S-1, anak keduanya ini bahkan mendapat kesempatan meneruskan studi ke jenjang S-3. Akhirnya, anak keduanya berhasil meraih gelar doktor atas dukungan penuh dari British Aerospace dan kini telah bekerja sebagai dosen di ITB.

Jadi kalau kita memohon kepada-Nya, Tuhan pasti membukakan jalan, ujar Benyamin bersaksi. “Krisis moneter waktu itu, justru jadi semacam blessing in disguise bagi saya. Benar-benar invisible hands”, ujarnya mantap.
Pengembangan Teluk Bone

Ketika ditanya, mengapa memilih DPD, bukan anggota Parpol lalu menjadi anggota DPR, ia berterus terang bahwa posisi DPD sangat sesuai dengan panggilan jiwanya. Soalnya DPD itu non-partisan, non-partai, dan non-golongan. Ia merasa DPD lebih “nyambung” dengan wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme yang telah terpatri dalam jiwanya, sebagai hasil penggemblengan selama berdinas di AL.

Tapi dalam meraih kursi DPD tersebut ia mengaku harus melalui prosesyang cukup dramatis. Saat perhitungan suara, dari 43 calon anggota DPD Sulsel yang ikut bertarung waktu itu, ia persis berada di urutan keempat. Dengan demikian, ia lolos ke Senayan (untuk DPD, tiap propinsi hanya mendapat jatah 4 kursi). Padahal, ia mengakui kemampuannya serba terbatas, khususnya dalam urusan dana (political cost).

Sementara sudah menjadi rahasia umum bahwa pentas politik termasuk kegiatan yang “haus duit”. Siapapun yang terjun ke bidang ini harus siap menguras kantong, sementara hasil akhir entah itu jabatan bupati, walikota, gubernur, anggota DPR atau Anggota DPD, masih di awang-awang.

Tapi Benyamin, dengan segala keterbatasan yang ada padanya, tapi dengan strategi yang jitu, akhirnya bisa meraih satu kursi DPD. Ia pun mensyukuri ini sebagai berkat dari Tuhan.

Tentang dunia barunya sebagai anggota DPD, Benyamin mengaku tidak begitu sulit beradaftasi. Soalnya, sewaktu di dinas kemiliteran pun, mereka telah dibekali dengan sejumlah kemampuan. Dengan demikian, mereka tidak canggung lagi untuk menjadi pemimpin (leader), manajer/administrator atau sebagai pembina. Belum lagi lmu politik dan ilmu manajemen yang diperoleh dari perkuliahan, sangat mendukung pelaksanaan tugasnya sebagai anggota DPD.

Kunci sukses dalam hidup adalah kesiapan dan kesempatan, ujar Benyamin. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan formal maupun nonformal merupakan bagian dari upaya peningkatan kesiapan itu, katanya.

Tentang DPD itu sendiri, ayah tiga anak ini mengakui bahwa wewenang lembaga ini dalam melaksanakan fungsi legislasinya relatif terbatas. Karena apapun yang dihasilkan, baik rancangan UU, pertimbangan, masukan, dsb tetap bermuara ke DPR. Artinya, produk-produk dari DPD tidak bersifat final dan mengikat.

Namun demikian, Benyamin Bura melihat masih banyak yang bisa dilakukan oleh anggota DPD. Antaralain dengan aktif mendorong dan menyuarakan percepatan pembangunan daerah. Meningkatnya anggaran DAU dari 25 menjadi 26 persen dari penerimanaan negara mulai RAPBN 2007 nanti merupakan contoh konkrit hasil perjuangan DPD, katanya.

Sebagai wakil dari Provinsi Sulsel/Prov. Sulawesi Barat), Benyamin memiliki komitmen kuat untuk membantu percepatan pembangunan daerah ini. Salah satu gagasannya yang cukup gencar dipromosikan yakni pengembangan kawasan Teluk Bone menjadi kawasan maritim yang bernilai strategis-ekonomis, lestari dan berkelanjutan. Menurutnya, kawasan yang mencakup wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan melibatkan tak kurang dari 12 kabupaten itu harus ditangani secara terpadu. Soalnya, penduduk kawasan teluk sempit ini relatif padat, khususnya di sepanjang pesisir pantai.

Kalau penduduk tidak dibina, maka mereka akan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara merusak lingkungan. Misalnya dengan melakukan pembalakan liar di areal hutan yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan konservasi atau gudang penyimpanan air. Atau jika nelayan, mereka mencari ikan dengan cara pengeboman yang sangat merusak lingkungan hidup atau membabat hutan bakau di pesisir pantai.

Kapal ikan yang beroperasi di kawasan Teluk Bone harus dibatasi. Kapal bertonase di atas 30 gross ton harus dilarang masuk, sehingga tidak mematikan nelayan kecil. Pemda, LSM, badan usaha besar seperti PT aneka Tambang dan PT Inco harus bersinerji untuk mewujudkan kawasan tersebut menjadi daerah yang makmur dan berkembang, tapi tetap mengedepankan kelestarian lingkungan strategisnya, katanya.

Guna mewujudkan obsesinya itu, Benyamin aktif mempromosikan idenya ini kepada berbagai instansi dan pejabat terkait termasuk kepada para investor. Mendagri, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menristek, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal sampai Menteri Olah Raga sudah diyakinkan akan pentingnya keterpaduan pembangunan dan pengembangan kawasan Teluk Bone.

Sumber : tokoh-indonesia

Biografi Drs H Serta Ginting

Drs HN Serta Ginting

Nama : Drs HN Serta Ginting
Lahir         : Desa Munte, Tanah Karo, Sumut, 28 Maret 1947
Agama : Islam
Jabatan :
- Anggota DPR (Komisi IX)
- Anggota Panitia Anggaran DPR

Isteri  : Hj. Zainar Harahap, BSc.
Anak :

- Drs Iman Swadiri Ginting
- Irma Julita Ginting
- Indra Batara Ginting
- Sri Ayona Ginting, SE
- Akp. Ramon Zamora Ginting

Pendidikan:
- SR Tanah Karo
- SMP Negeri Tanah Karo
- SMEA Negeri Rantauprapat
- Sarjana Ekonomi (S1) Universitas Amir Hamzah Medan

Karier:
- Karyawan PTP Nusantara III Medan, 1969 - 1999
- Anggota DPRD Tkt II Kab. Labuhan Batu (1971-1987)
- Anggota DPRD Tkt I Prov. Sumatra Utara (1997-1999)
- Wakil Ketua DPRD Tkt I Prov. Sumatera Utara (1999-2004)

Anggota Partai:
Partai Golongan Karya
Daerah Pemilihan Sumatera Utara I (Medan, Tebing Tinggi, Kab. Deli Serdang, Kab, Serdang Bedagai)

Pengalaman Perjuangan:
- Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G 30 S PKI

Pengalaman Organisasi:
- Ketua KNPI Kab. Labuhan Batu (1973-1979)
- Ketua DEPICAB SOKSI Labuhan Batu (1997-1987)
- Wakil Ketua KNPI Provinsi Sumatera Utara (1979-1982)
- Wakil Ketua DPD Golkar Labuhan Batu (1977-1987)
- Ketua KONI Kab. Labuhan Batu (1979-1984)
- Wakil Ketua DPD Partai Golkar Prov. Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua Pembina Pemuda Panca Marga Prov. Sumatera Utara
- Ketua DEPIDAR SOKSI Prov.Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua DEPINAS SOKSI (2005-sekarang)
- Ketua AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) Prov. Sumut (2002-2004)
- Anggota Departemen Pendidikan dan Ristek, DPP Partai Golkar
Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III

Seminar/Pelatihan:
- Diskusi Publik tentang “Demokratisasi & Globalisasi Pendidikan Nasional” yang diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar, 17 April 2006 (sertifikat)
- Seminar Nasional “Penataan Sistem Agribisnis untuk Meningkatkan Pendapatan Nasional”, Fak. Ekonomi dan Fakultas Pertanian Univ. Amir Hamzah Medan, Medan, 28 Agustus 2004 (sertifikat)
- Seminar Sehari “Pengentasan Kemiskinan Daerah Tertinggal di Sumatera Utara”, Medan, 18 Nopember 1993
- Seminar Nasional “Penataan Sistem Agribisnis untuk Meningkatkan Pendapatan Nasional”, Fak. Ekonomi dan Fakultas Pertanian Univ. Amir Hamzah Medan, Medan, 28 Agustus 2004 (sertifikat)
- Seminar Sehari “Pengentasan Kemiskinan Daerah Tertinggal di Sumatera Utara”, Medan, 18 Nopember 1993
- Seminar Sehari “Menciptakan Peluang Kerja Melalui Proyek Mandiri Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Generasi Muda Islam Karo, Medan, 27 Oktober 2001
- Pekan Orientasi (up-grading) anggota DPRD Tk II dari Golkar ABRI dan Non ABRI Sumatera Utara oleh Staf Kekaryaan Daerah-B (Skarda –B) 13 s/d 23 Desember 1971 (sertifikat)
- Pelatihan PMT/GKM Tingkat Fasilitator PT Perkebunan III, Kanwil Depnaker Prov. Sumut, Medan, 26 April s/d 1 Mei 1993 (sertifikat)
- Pelatihan Instruktur Perkaderan Partai Golkar, Jakarta, 11 -12 Juli 2005 (sertifikat)
- Perkemahan Antar Satuan Karya Tingkat Nasional, 1 s/d 10 Juli, dalam rangka Pra Comdeca, The 1st World Community Development Camp 1993 di Lebakharjo, Malang tahun 1993 (sertifikat)
- Appresiasi Kehumasan PT Perkebunan, Jakarta 27-28 September ; Bandung 29 – 30 September 1993 (sertifikat)
- Diklat Juru Kampanye Daerah Tkt I Golongan Karya Sumatera Utara, Medan 2 Maret 1997 (sertifikat)

Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III

Hobi/Olah Raga:
- Tenis Lapangan
- OR Beladiri Tangan Kosong (TAKO)

Vokal, Namun Hargai Orang Lain

Dia anggota DPR yang tergolong vokal. Kritiknya terkadang sangat tajam, menyengat, sehingga memerahkan kuping para menteri dan pejabat yang menjadi mitra kerja Komisi IX DPR RI (Kependudukan, Kesehatan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi). Tapi seperti diakuinya, semua itu dilakukan dengan tulus.

Semata-mata dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan pembangunan. Sama sekali tidak ada niatnya untuk menjelek-jelekkan apalagi untuk menjatuhkan nama baik seseorang.

Saya hanya mengkritik kebijakan, bukan menyerang pribadi atau individu,” tandas Drs H Serta Ginting dengan gaya Medannya yang khas, saat diwawancarai Tokoh Indonesia di Gedung DPR beberapa waktu lalu.

Serta Ginting, mantan Ketua Federasi Serikat Pekerja Perkebunan (SP-BUN), ini mengakui bahwa sikap kritisnya itu sudah merupakan pembawaan lahir. Kapan pun dan di mana pun, terlebih dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat, sikap kritisnya akan muncul secara spontan. Anggota DPR dari daerah Pemilihan Sumut I (Kota Medan, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai) ini akan gerah setiap kali melihat sesuatu yang menurutnya kurang tepat. Terutama yang menyangkut program pembangunan, kebijakan, atau implementasinya di lapangan.

Ini misalnya terlihat ketika pemerintah memutuskan untuk menyalurkan paket bantuan kompensasi BBM kepada masyarakat miskin beberapa waktu lalu. Ketidaksetujuannya terhadap program ini langsung diungkapkan lewat pers dengan argumentasi yang cukup meyakinkan.

Menurut Serta Ginting, masyarakat kita pada dasarnya adalah pekerja keras. Karena itu, pemerintah harus menjaga agar etos kerja keras ini jangan sampai rusak akibat kebijakan pemerintah sendiri. Pemberian paket-paket bantuan, terlebih berupa uang, misalnya berupa dana kompensasi BBM justru kontraproduktif dan akan memanjakan masyarakat. Tidak merangsang masyarakat untuk bekerja keras (beretos kerja tinggi).

Ia mengingatkan bahwa dana tersebut diperoleh dari hasil kenaikan harga BBM. Sementara kebijakan ini (pengurangan subsidi/menaikkan harga BBM) telah membangkrutkan banyak perusahaan, sehingga mendorong PHK. Karena itu, Ginting berpendapat bahwa dana yang berjumlah triliunan rupiah tersebut semestinya dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Misalnya, untuk mengembangkan perkebunan sawit dalam skala besar-besaran di daerah-derah. Dengan demikian, selain dimanfaatkan untuk usaha produktif, upaya ini sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan.

Demikian pula ketika Serta Ginting mengkritisi prosedur pengiriman tenaga kerja ke luar negeri yang menurutnya masih berbelit-belit. Ia mengecam penanganan sejumlah kasus tenaga kerja yang masih sangat lamban. Termasuk ribut-ribut di seputar draft amandemen UU Ketenagakerjaan, hasil godokan pemerintah, yang menurutnya sebagai akibat dari kelambanan pemerintah sendiri. Ia bahkan pernah menyebut cara kerja Departemen Kesehatan ala pemadam kebakaran. Fenomena busung lapar beberapa waktu lalu sudah mewabah, tapi dengan mudahnya Menteri Kesehatan mengalokasikan dana untuk pembangunan prasarana dan sarana fisik, tudingnya seperti dikutip oleh pers ibukota beberapa waktu lalu.

Serta Ginting memang tipe manusia yang tegas dan lugas. Ia tidak bisa berindah-indah kata. Apa yang diyakininya kurang tepat, sikap penolakannya terlontar begitu saja.

Namun, terlepas dari sikap kritisnya itu, Serta Ginting tetaplah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Mantan wakil ketua DPRD Tk I Sumut itu juga dikenal humoris, humanis, rendah hati, terbuka, merakyat serta jauh dari sikap feodal. Siapa pun teman bicaranya, humor-humor segar akan terlontar secara spontan, menghangatkan suasana. Keterbukaan dan sense of humor-nya itu menjadi salah satu daya tarik Bang Ginting, panggilan akrabnya, di mata orang lain.

Merakyat dan Membumi
Ia selalu ingat akan wejangan sang ayah: Jangan sombong! Dan itu memang dipraktekkannya dalam keseharian. Ia tetap ramah dan bergaul dengan siapa saja, mulai kalangan pejabat hingga rakyat biasa. Bercanda atau menepuk-nepuk bahu sopir waktu ia masih aktif di PT Perkebunan Nusantara III, baginya bukanlah perbuatan tabu. Walau sikap kerakyatan ini ternyata kurang bisa diterima kultur perkebunan yang waktu itu masih sangat feodal.

Ia pernah diperingatkan pimpinannya bahwa sikapnya itu sudah melanggar norma yang berlaku. Ibarat di kemiliteran, dia dinilai sebagai perwira yang tidak mampu menjaga wibawa. Tapi Ginting tidak peduli. Ia tetaplah sosok Ginting yang merakyat dan membumi. Dan pembangkangan terselubung ini harus dia bayar dengan mahal. Kenaikan pangkatnya untuk menjadi staf, selama bertugas di Rantauprapat, sempat tersendat.

“Setelah satu periode keanggotaan saya di DPRD, seharusnya saya sudah bisa jadi staf,” ujarnya mengenang. Hampir saja ia mengundurkan diri. Tapi sekitar tahun 1987, direksi yang baru menyadari bahwa Serta Ginting termasuk tipe yang sangat dibutuhkan perusahaan. Ia pun langsung ditarik ke kantor direksi dan dipercayakan sebagai humas.

Waktu itu, pengembangan perkebunan dengan Pola PIR tengah gencar-gencarnya dilakukan oleh BUMN Perkebunan termasuk oleh PTP III. Serta Ginting menunjukkan kelasnya sebagai jago lobi, khususnya dalam urusan hubungan kelembagaan, koordinasi dengan instansi terkait, masalah pertanahan, dan sebagainya.

Serta Ginting cukup lama bertugas sebagai Humas di perusahaan negara itu sambil merangkap sebagai anggota DPRD. Bahkan pada periode 1999-2004, Ginting menjadi Wakil Ketua DPRD Tkt I Provinsi Sumatera Utara. Di sinilah salah satu keunikan perjalanan karier Serta Ginting. Sebagai karyawan, ia memang tidak apa-apa dibanding anggota direksi. Ibarat di ketentaraan, ia hanyalah seorang perwira berpangkat kapten yang harus berhadapan dengan para jenderal berbintang dua,tiga dan empat. Tapi sebagai anggota dewan, ia memiliki kapasitas untuk memanggil dan meminta keterangan dari direksi. Termasuk saat menjadi anggota DPRD Tkt II Kabupaten Labuhan Batu, di mana sejumlah unit usaha PTP III berada.

Namun, direksi sering kurang bisa memahami kedudukan masing-masing. “Biar pun sudah di gedung DPRD, mereka masih merasa bahwa saya adalah anak buah mereka,” katanya. Namun, ia tetap konsisten dengan posisinya sebagai anggota dewan yang harus membela kepentingan rakyat.
Di DPR, selain angggota Komisi IX, Ginting juga termasuk anggota Panitia Anggaran DPR. Panitia yang tugas utamanya mencermati dan mengkritisi angka-angka APBN. Merupakan lembaga prestisius dan sering dikonotasikan sebagai tempat basah.

Tapi Ginting, alumnus Universitas Amir Hamzah Medan, itu hanya merendah. “Manusia macam saya ikut menghitung-hitung anggaran negara yang berjumlah ratusan triliun rupiah? Merupakan karunia dan sama sekali tak pernah terbayang di benak saya,“ ujarnya. Tentang istilah “basah” yang diarahkan ke panitia ini, ia hanya terkekeh. “Kita wajar-wajar sajalah,” katanya seraya mengingatkan bahwa sebagian besar masyarakat kita tengah dilanda kesusahan.

Pernyataan ini paling tidak meneguhkan prinsipnya untuk tetap berada di jalan yang lurus. Ia begitu mensyukuri apa yang telah diperolehnya selama ini. Sebagai seorang anggota dewan, ayah dari lima anak dan 11 cucu ini secara ekonomis sudah cukup mapan. Semua anak-anaknya (3 putra dan 2 putri) sudah berkeluarga dan mandiri. Dua putranya memilih jadi wiraswasta, sementara putra paling bungsu perwira menjadi polisi (lulusan Akpol), kini bertugas di Bengkulu.

Dengan sukses anak-anaknya itu, plus karier politiknya yang terus berkibar, serta karakternya yang periang, tidak mengherankan Bang Ginting tampak 10 tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya, sudah 60 tahun.

Betul-Betul dari Bawah
Ginting mungkin sudah ditakdirkan untuk menghabiskan sebagian besar usia produktifnya menjadi wakil rakyat. Masa pengabdiannya di bidang ini sejak anggota DPRD Kabupaten Labuhan Batu hingga anggota DPR, sudah sekitar 22 tahun. Ia benar-benar menapak karier dari bawah. Karena seperti diakuinya sendiri, dia tak memiliki siapa-siapa, misalnya keluarga, yang bisa mengatrol atau mengarahkan perjalanan kariernya.

Tanah kelahirannya, Desa Munte, sebuah desa yang waktu itu dijadikan sebagai tempat pengungsian penduduk, terkait dengan revolusi fisik di negeri ini. Desa itu sangat terpencil, sekitar 50 kilometer dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara. Desa itu tak ada lagi di peta bumi karena memang sudah dihapuskan. Kalau Kecamatan Munte masih ada sampai sekarang.

Kariernya benar-benar dimulai dari nol. Ayahnya hanyalah seorang kepala Sekolah Rakyat dan ibunya jadi pedagang kue di kampungnya. Pada masa kanak-kanaknya, di tahun 50-an, Ginting kecil lebih banyak bermain-main, cenderung santai. Maklum, selain orang tuanya kepala SR (jabatan yang cukup disegani waktu itu), ia juga merupakan paling bungsu dari enam bersaudara.

Namun, sifat kepemimpinannya waktu itu mulai terlihat. Dialah yang selalu jadi pemimpin di antara kawan-kawannya. Tempat bertanya, ke mana mereka akan bermain.

Sebagai bungsu, di tengah keluarga ia seorang anak yang dimanjakan. Tapi kemanjaan itu hanya terlihat pada masa kanak-kanak. Mendekati masa remaja, Serta Ginting berubah total. Selepas SMP di Kabanjahe, ia sudah mencoba merantau ke luar daerah. Penyebabnya, seperti diakuinya sendiri, setelah berkelahi dengan anak-anak di kampungnya. Untuk menghindari perkelahian yang lebih parah, ia memilih minggat untuk sementara, setelah itu kembali lagi ke kampung. Tapi perantauan di usia yang masih sangat muda itu justru mengasikkannya.

Pertama kali ia ke Prapat dan sempat mencoba-coba jadi kenek bus. Setelah itu ke Rantauprapat. Sejarah kehidupannya mencatat bahwa justru di kota inilah bintangnya bersinar dan mengantarkannya menjadi pahlawan keluarga.

Menjelang meletusnya G-30-S/PKI, ia mencoba mewujudkan cita-cita yang lama terpendam: menjadi tentara. Peluangnya untuk diterima waktu itu, cukup besar. Mereka sudah memasuki tahap ujian akhir di Pematang Siantar. “Kepala saya sudah dibotaki,” kenangnya.

Tapi tiba-tiba pemberontakan G-30-S/PKI meletus. Proses penyaringan masuk tentara dibatalkan. Mereka dipulangkan ke daerah masing-masing. Panggilan untuk mengikuti seleksi masuk ke tentara masih ia terima beberapa tahun kemudian. Tapi tak mungkin lagi bisa dipenuhi karena Serta Ginting sudah berkeluarga. Padahal, umurnya waktu itu baru sekitar 22 tahun.

Selanjutnya, ia berkecimpung di dunia keras. Ia menjadi jagoan terminal bis, dan bioskop yang ada di Rantauprapat. Ia termasuk yang sangat disegani. Pihak perkebunan, PTP III pun merekrutnya menjadi karyawan dengan tugas utama sebagai centeng untuk mengamankan kebun dari para pencuri TBS (Tandan Buah Segar) dan karet.

Pada masa itu, Serta Ginting juga aktif di berbagai organisasi kepemudaan. Ketika KNPI terbentuk tahun 60-an, untuk Sumut, pembentukan cabang pertama justru di Kabupaten Labuhan Batu, dengan Serta Ginting sebagai ketuanya. Semula ia sempat ditantang tokoh pemuda setempat. Alasan mereka karena Ginting bukan putra asli daerah tapi kok tiba-tiba jadi ketua. Tapi akhirnya penolakan itu bisa diredam setelah Ginting menunjukkan kemampuan dalam berorganisasi.

Ketika meletus pemberontakan G-30-S/PKI, ia terpilih menjadi salah satu Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G-30-S/PKI untuk Kabupaten Labuhan Batu.
Sebelumnya, Ginting pun sudah aktif dalam pendirian dan organisasi SOKSI tahun 1964 dan kemudian Sekber Golkar Kabupaten Labuhan Batu. Karena aktivitasnya di organisasi dan ketokohannya di dunia organisasi pemuda tersebut, ia terpilih menjadi anggota DPRD. Selama 16 tahun, 1971 – 1987, atau 3 periode, ia menjadi anggota DPRD Tk II Kabupaten Labuhan Batu, merangkap sebagai karyawan PTP III. Suatu prestasi yang luar biasa waktu itu. “Sangat jarang pemuda yang bisa menjadi anggota sampai tiga periode,” ujar Ginting mengenang.

Tahun 1987, masih merangkap sebagai anggota DPRD Kabupaten Labuhan Batu, Serta Ginting ditarik ke kantor direksi PTP III di Medan. Namun Kabupaten ini sudah begitu melekat di hatinya karena sebagian besar perjalanan hidupnya dihabiskan di daerah perkebunan itu.
Demikian juga sebaliknya, masyarakat Kabupaten Labuhan Batu menganggap Ginting sebagai putra asli daerah. Ini misalnya terlihat saat pengajuan nama calon untuk anggota DPRD Tk I Sumatera Utara, sekitar 1997. Ginting didaulat mewakili daerah ini dan langsung ditempatkan di urutan nomor satu. Calon lain berpangkat kolonel justru menduduki urutan nomor dua.

SOKSI dan Golkar
Di kantor direksi, Serta Ginting dipercayakan menangani kehumasan. Ia merasa sangat cocok dengan tugas ini. Alasannya, naluri organisasi dan politiknya tetap bisa tersalurkan. Ini membuka kesempatan luas baginya untuk bergaul dengan berbagai kalangan mulai dari wartawan, pejabat, tokoh masyarakat, hingga petani/pekebun dan sebagainya. Kegiatannya dalam berorganisasi, khususnya di SOKSI dan Golkar juga bisa berjalan secara simultan. Tak mengherankan, ketika masih menjabat humas perusahaan, ruang kerjanya tak pernah sepi dari kunjungan tamu dari berbagai latar belakang, khususnya dari kalangan ormas politik dan organisasi kepemudaan.

Sejumlah jabatan dalam beberapa organisasi politik telah dijalaninya antara lain sebagai Wakil Ketua KNPI, wakil ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sumatera Utara, Ketua Depidar SOKSI Sumatera, Ketua Federasi Serikat Pekerja Perkebunan Seluruh Indonesia (1999 – 2004) dan Ketua Depinas SOKSI (Bidang Ketenagakerjaan) sampai sekarang.

Sementara di lembaga legislatif, selain anggota Komisi IX DPR dan anggota Panitia Anggaran DPR, Ginting juga termasuk Anggota Grup Kerjasama Bilateral DPR-RI dengan Parlemen Belgia, anggota Pansus RUU tentang PERPU No. 1 Thn 2005, Anggota Pansus RUU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan anggota Pansus RUU tentang Narkotika (lihat Biodata)

Dalam kancah politik, pertarungan alias rivalitas memang sering mendebarkan. Tapi menurut Ginting, semuanya harus diterima dengan dada lapang dan jiwa besar. “Menerima kekalahan dengan sportif justru menunjukkan kelas kita sebagai politisi,” ujarnya. Ini misalnya dibuktikan saat ia maju memperebutkan posisi kursi Ketua DPRD Tkt I Sumatera Utara 2001 lalu.

Waktu itu kekalahannya cukup dramatis. Ia hanya tertinggal satu suara dari calon PDIP yang kemudian terpilih menjadi ketua. Serta Ginting meraih 40 suara sementara saingannya 41 suara. Namun demikian, ia tetap berjiwa besar sekaligus memberikan contoh kedewasaan dalam berpolitik dengan tetap menghargai hasil pemilihan yang sangat demokratis itu. Ia juga menunjukkan kematangan politiknya dengan tetap menjalin kekompakan dan kerjasama yang baik bersama seluruh unsur pimpinan DPRD Tkt I selama periode 1999 -2004.

Sikap yang sama juga, ia tampilkan tatkala gagal dalam perebutan kursi Wakil Gubernur Sumut untuk periode 2003-2008. Waktu itu, Ginting berpasangan dengan mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut. Namun, pasangannya kalah oleh duet Rizal Nurdin-Rudolf Pardede.

Tapi, sebagai politikus yang sudah matang, ia tetap tegar menerima kekalahan dan tetap menghargai keputusan masyarakat Sumut. Sebagai wakil ketua DPRD Tkt I Sumut kala itu, ia tetap menjalin hubungan yang baik dengan gubernur terpilih.

Kemudian, selesai masa bakti DPRD Tk I Sumatera Utara sekitar awal 2004, ia pun didaulat oleh sejumlah kader Golkar Sumut untuk bertarung memperebutkan salah satu kursi di Senayan. Akhirnya, ia memang terpilih dan menjadi salah satu dari 6 utusan Partai Golkar Sumut. Ia mewakili daerah pemilihan (Dapil) Kota Medan, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai.

Namun dengan merendah, ia mengakui bahwa keberhasilannya ke Senayan juga berkat peran dan jasa Drs H Wahab Dalimunthe. Dalimunthe selaku Ketua DPD Golkar Sumut memilih berkiprah sebagai Ketua DPRD Tkt I Provinsi Sumut. Ia pun mendukung agar Serta Ginting lolos menjadi “Orang Senayan”.

Sukses dalam karier politik, diakuinya berkat doa seluruh anggota keluarga dan sahabat-sahabatnya. Dari 6 orang bersaudara, hanya Ginting yang berkiprah di bidang politik sekaligus mengangkat nama keluarga. Pesan ayahnya yang tetap diingat sampai sekarang yakni: dalam perantauan, carilah dulu ayah angkat, jangan pernah sombong dan jangan melawan tentara. Urusan apa dengan tentara? Ternyata, sebelum menekuni profesi sebagai guru, kepala SR, ayah Bang Ginting, ini pernah juga menjadi anggota militer dengan pangkat terakhir sersan. Karena pesan itu juga barangkali, ia mengaku risih menghadapi pasangan Rizal Nurdin-Rudolf Pardede dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur Sumut beberapa waktu lalu.

Seperti diakui sendiri, Serta Ginting memang tidak pernah berkelahi dengan tentara. Justru sebaliknya yang terjadi, dia banyak memiliki sahabat dari kalangan militer, baik saat bertugas di Labuhan Batu, hingga sekarang. Setelah menjadi orang Jakarta pun, yang menjadi sentrum kekuasaan dan politik republik tercinta ini, sebagian besar dari sahabat-sahabatnya berasal dari kalangan militer.

Seni Berpolitik
Peluang untuk menggapai puncak karier, terlebih di bidang politik, tidaklah mudah. Seperti yang lain, Serta Ginting pun telah melalui persaingan yang ketat dan jalan berliku. Intrik, jegal-menjegal merupakan hal lumrah dalam dunia politik. Artinya, tanpa kharisma yang menonjol, seseorang akan mudah terpental.

Tapi di sinilah kelebihan Bang Ginting. Dengan sense of humor, keramah-tamahannya, serta humanisnya, ia mampu merangkul kawan dan lawan sekaligus. Inilah hakekat seni berpolitik dan Bang Ginting termasuk seniman di bidang itu.
Sebagai pribadi yang rendah hati, terkadang Serta Ginting melihat perjalanan hidupnya ibarat mimpi. Ia menggapai posisinya sekarang dengan memulainya dari nol. Keluarga memang tidak ada yang bisa diharapkan. Salah satu abangnya hanya pernah jadi kepala desa. “Ia menjabat sampai 26 tahun, sampai-sampai dia bosan sendiri,” ujar Ginting tersenyum.

Perjalanan hidup, suratan tangan memang terkadang sangat misterius. Dan inilah yang dilakoni Serta Ginting. Walau merupakan anak paling bungsu, justru dialah yang menjadi bintang dan pengangkat citra keluarganya.

Sumber : tokoh-indonesia

Biografi Dr. H. Deding Ishak Ibnu Sudja, Drs, SH, MM

DR. H. DEDING ISHAK IBNU SUDJA, DRS., SH., MM.

Nama : DR. H. DEDING ISHAK IBNU SUDJA, DRS., SH., MM.
Lahir  : Bandung, 4 Juni 1962
Agama : Islam
Isteri  : Hj. Rachmayani, SH., Sp.N.
Anak :

1. Derisa Zahara
2. Deya Faaghna
3. Dara Daula Mumtaza
4. M. Daria Adiwena Akbar

Ayah :
KH. R. Totoh Abdul Fatah
- Mantan Anggota MPR-RI (1992-1999)
- Ketua Dewan Penasehat MUI Jawa Barat (Sekarang)
- Anggota Dewan Penasehat MUI Pusat (Sekarang)
Ibu :
Hj. Siti Mariyam

Pekerjaan Sekarang:
- Anggota Komisi VIII (Bidang Sosial, Agama, Pemberadayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) DPR-RI (2004-Sekarang).
- Anggota Fraksi Partai Golkar DPR-RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat III (Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Kota Cianjur).
- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) (2006-2009).
- Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapata Al-Jawami, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (1999-Sekarang).

Riwayat Pekerjaan:
- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (1999-2004).
- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (1997-1999).
- Berhenti sebagai PNS (2000).
- Dosen IAIN SGD, Bandung (1996-1999).
- PNS sebagai staf Penais Kanwil Depag Jawa Barat (1993-1996).

Pendidikan:
- Doktor bidang Ilmu Administrasi (Kebijakan Publik), Universitas Padjadjaran, Bandung (S3-2006).
- Magister Manajemen STIE Jakarta (S2/1994-1998).
- IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung (S-1) (1978-191981)
- Sekolah Tinggi Hukum Garut, Ujian Negara Unpad, Bandung (S1) (1985-1989).
- SMAN Ujung Berung Bandung (1978-1981).
- SMPN 13 Bandung (1974-1977).
- SDN Turangga bandung (1968-1974).

Aktivitas Organisasi:
A. Partai Politik:
1. Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Barat (1999-2004)
2. Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Kader (LPK) DPD Partai Golkar Jawa Barat (2002-2004).
3. Fungsionaris Tingkat Pusat Partai Golkar di Kabupaten Cianjur (2004).
4. Anggota Bidang Evaluasi dan Monitoring LPP (Lembaga Pemenangan Pemilu) DPP Partai Golkar (2005-2009).

B. Luar Partai Politik:
1. Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat (2002-Sekarang).
2. Pengurus KAHMI Pusat (2005-2009).
3. Anggota Penasehat BKPRMI Jawa Barat (2000-Sekarang).
4. Majelis Penasehat KNPI Jawa Barat (1998-Sekarang).
5. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung (periode 2004-2009).
6. Pengurus DPP Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) (2004-2009).
7. Ketua DPP Pemuda Tarbiyah (1998-Sekarang).
8. Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat (2000-2005).
9. Wakil Bendahara MDI Jawa Barat (2000-2005).
10. Anggota Dewan Pakar KAHMI Jawa Barat (2000-2005).
11. Ketua MPW BKPRMI Jawa Barat (1999-2004).

Legislator dan Pendidik yang Agamais

Dia adalah seorang wakil rakyat, penyandang gelar doktor bidang kebijakan publik, pucuk pimpinan Ormas besar, dan pemangku sebuah lembaga pendidikan tinggi agama Islam. Dengan kapasitas intelektual dan politis yang dimiliki, dia bertekad menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima di negeri ini demi terciptanya Indonesia yang maju.

Kepribadiannya pun tak diragukan. gaya bicaranya yang lemah lembut memang agak bertolak belakang dengan perawakannya yang tinggi besar, dengan kumis tebal menghiasi bibir. Namun, pribadinya yang sangat ramah mengikis habis kesan angker dari penampilan fisiknya tersebut.

DR. Deding Ishak Ibnu Sudja adalah anggota DPR-RI periode 2004-2009 dari Partai Golkar. Di Senayan, saat ini pria kelahiran Bandung, 4 Juni 1962, ini sehari-hari bertugas di Komisi VIII (bidang Sosial, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan).

Bidang-bidang itu relatif sangat pas dengan latar belakang profesional yang selama ini digelutinya. Di tengah-tengah kesibukan sebagai anggota DPR-RI dan berkantor di Senayan, Jakarta, Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat ini juga disibukkan oleh aktivitas sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapata Al-Jawami, Bandung.

Karenanya, Doktor Ilmu Administrasi spesialis Kebijakan Publik dari Universitas Padjadjaran ini begitu antusias bila diajak berbincang-bincang ihwal pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal, maupun formal.

Fakta lain, riwayat hidup keluarganya yang banyak bergelut di dunia keagamaan dan pendidikan. K.H. Muhammad Sudja'i, kakek dari alumnus (S-1) IAIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung ini, adalah pendiri Pondok Pesantren Sindangsari (Al-Jawami), Cileunyi, Bandung. Sementara sang ayahanda, K.H. R. Totoh Abdul Fatah, adalah ulama kesohor di Jawa Barat dan mantan Ketua MUI Jawa Barat.

Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SGD (2004-2009) ini memandang pendidikan sebagai segalanya. Menurut hematnya, maju tidaknya sebuah masyarakat sangat bergantung pada sejauh mana kepedulian masyarakat tersebut terhadap dunia pendidikan.

Dengan kapabilitas intelektualnya sebagai pendidik dan pemangku pendidikan yang dipadu-selaraskan dengan kapasitas politiknya sebagai anggota DPR, ayah empat anak ini bertekad untuk menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima menuju Indonesia yang maju.

Keberhasilan pembangunan pendidikan dengan sendirinya akan diikuti keberhasilan pembangunan di bidang-bidang lainnya. Keberhasilan satu bangsa di sejumlah bidang seperti ekonomi, politik, atau budaya --namun tidak diikuti oleh keberhasilan di bidang pendidikan-- justru akan menjadi bumerang bagi bangsa itu sendiri.

Katakanlah suatu negara mencapai tingkat kemakmuran tinggi namun karena tidak disertai kemajuan intelektual dan afektual, kemakmuran yang ada justru potensial disalahgunakan untuk menghancurkan dirinya sendiri.
“Itulah sebabnya, pendidikan harus dijadikan panglima pembangunan, bersamaan dengan bidang-bidang lainnya!” tandas Deding Ishak seperti dituturkan kepada Tokoh Indonesia, di ruang kerjanya Gedung DPR/MPR, Jakarta, belum lama ini.

Penulis produktif di media massa ini kemudian menunjuk pengalaman Bangsa Jepang yang mengistimewakan pendidikan di atas segala-galanya. Tak lama mengikrarkan negaranya bertekuk lutut tanpa syarat kepada Sekutu, Kaisar Jepang, mendiang Hirohito, tidak menanyakan berapa tentara Jepang yang tersisa, melainkan berapa guru yang masih dimiliki negeri Matahari Terbit itu.
Dengan membangun pendidikan, Jepang yang diperkirakan baru bisa bangkit 60 tahun pascapemboman Nagasaki dan Hiroshima, ternyata bisa bangkit dalam waktu 20 tahun saja.

Jepang bisa bangkit, karena pemimpinnya peduli dan memberikan komitmen tinggi pada kemajuan pendidikan dan menghargai kerja keras.
Atas dasar itu, “Amanat Undang-undang Dasar 1945 agar pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui APBN/APBD mengalokasikan anggaran sebesar 20 persen untuk sektor pendidikan adalah sesuatu yang niscaya dan sepatutnya direalisasikan,” ungkap mantan anggota DPRD Jawa Barat dua periode ini penuh optimisme.

Seperti disebutkan di atas, di samping pendidikan, dunia keagamaan (baca: dakwah) juga menjadi kehirauan Deding Ishak. Belum lama ini, dia terpilih sebagai Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) periode 2004-2009, menggantikan Chalid Mawardi.

Di balik tanggung jawab besar yang diamanahkan kepada dirinya untuk memimpin MDI, ada kebanggaan tersendiri bagi Deding. Sebab, dia yang selama ini lebih banyak berkecimpung di daerah (Jawa Barat) justru mendapat kepercayaan sebagai orang nomor satu di sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) besar yang berafiliasi dengan Partai Golkar.

Belajar dari pengalaman terdahulu, Deding sangat terobsesi untuk membawa MDI sebagai sebuah Ormas Islam lintasektarian yang mampu menampilkan citra Islam yang modern.

Konkretnya, dalam memecahkan setiap masalah keumatan, MDI akan mengedepankan langkah-langkah yang cerdas, beradab, dan dilandasi kepentingan bangsa.

Tanggung jawab sebuah Ormas Islam, lanjut Ketua DPP Pemuda Tarbiyah ini, bukan hanya memenuhi kebutuhan ruhani umat tapi juga berpartisipasi dalam langkah pemberdayaan umat (kesejahteraan). “Dua hal itu senantiasa menjadi perhatian MDI,” ucap pengurus KAHMI Pusat ini.

Sumber : tokoh-indonesia

Senin, 27 Juni 2011

Biografi Joseph Stalin

Joseph Stalin


Joseph Stalin adalah pemimpin Partai Komunis Uni Soviet yang paling lama berkuasa dibandingkan semua tokoh Uni Soviet termasuk Lenin. Ia menjadi figur Soviet paling kuat sepanjang abad 20 dengan berbagai tindakan keras menghadapi lawan politiknya di dalam negeri. Ia juga mendirikan agen rahasia KGB sebagai instrumen intelgen untuk memperkuat posisinya dan menandingi agen rahasia CIA.

Stalin bernama asli Iosif Vissariovonich Dzhugashvili lahir di Gori Rusia (kini menjadi wilayah negara Georgia) 21 Desember 1879 dan meninggal di Moscow 5 Maret 1953. Ia memakai nama Stalin (manusia besi) sekitar tahun 1910. Stalin menempuh pendidikan di Sekolah Gereja Gori tahun 1888-1894,kemudian melanjutkan pendidikan ke Seminari Teologi T`bilisi. Stalin banyak mempelajari buku-buku yang bersifat revolusioner seperti karya Karl Marx Das Kapital sehingga banyak berpengaruh terhadap pemikirannya menjadi Marxisme Rusia.

Stalin memulai karir politiknya di Partai Sosial Demokratik tahun 1899 sebagai seorang propagandis buruh kereta api di T`bilisi. Ia menjadi langganan tahanan polisi sejak tahun 1902 bahkan sempat di buang ke Siberia. Antara tahun 1902 hingga 1913 ia ditahan 8 kali, dibuang 7 kali dan kabur dari tahanan enam kali. Ia menikah dua kali yaitu tahun 1904 dengan Yekaterina Svanidze (meninggal tahun 1910) dan Nadezhda Alliluyewa (bunuh diri tahun 1932).
Joseph Stalin
Di masa akhir kekaisaran Rusia, Stalin lebih di kenal sebagai pengikut Partai Bolshevik di bawah pimpinan Lenin dengan kontribusi yang bersifat praktis. Tahun 1907 dia ikut melakukan perampokan sebuah bank di T`libisi. Kedudukan Lenin di partai naik tahun 1912 menjadi komite Sentral Bolshevik. Tahun berikutnya Stalin menjadi editor koran partai Provda (kebenaran) dan membuat tulisan berjudul Marxism and the nationality Question.

Setelah revolusi Bolshevik maret 1917, Stalin bersama Lev Kamenev mendominasi setiap kebijakan partai. Keduanya memperjuangkan kebijakan moderasi dan kooperasi dengan pemerintah sementara. Sebagai ahli nasionalisme, Stalin menjadi pilihan Lenin untuk mengepalai Komisariat Hubungan Kebangsaan. Lenin, Stalin, Yakov Sverdlov dan Leon Trotsky banyak menentukan setiap kebijakan partai selama periode perang saudara di Rusia. Stalin bahkan ikut terlibat sebagai komandan perang di beberapa pertempuran.

Ketika Lenin meninggal, Stalin bergabung dengan Grigory Zinovyev dan Kamenev untuk memimpin negara. Dengan sekutunya ini Stalin menyingkirkan kandidat-kandidat kuat yang akan menggantikan Lenin. Tahun 1920-1n semua rival-rival politiknya berhasil disingkirkan dan pada taun 1929 ia mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin Uni Soviet. Tahun 1930-an ia melakukan kampanye teror politik besar-besaran. Pembersihan, penahanan dan deportasi ke kamp kerja paksa terjadi secara luas. Mantan lawan politiknya Zinovyev, Kamenev dan Bukharin dituduh melakukan kejahatan kepada negara dan di hukum mati. Banyak pemimpin partai, pelaku ekonomi, dan militer dinyatakan hilang pada masa kepemimpinannya. Ketakutan juga ditimbulkan oleh agen rahasia KGB yang dibentuk untuk memperkuat posisinya.KGB tidak segan-segan melakukan teror dan pembunuhan terhadap orang-orang yang di anggap berbahaya.
Joseph Stalin
Dalam PD II Stalin berpihak kepada sekutu. Ia memimpin perang melawan Adolf Hitler dan Nazi Jerman. Dengan memobilisasi rakyat, ia melakukan penyerbuan besar-besaran terutama pada pertempuran Stalingrad. Langkah ini tentu saja meimbulkan korban warga sipil begitu besar bagi sakyat Uni Soviet. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, dengan kondisi fisik yang lemah, Stalin masih berambisi untuk melakukan “teror baru” melumpuhkan lawan politiknya. Pada bulan Januari 1953 ia memerintahkan untuk menahan dokter-dokter di Moscow yang sebagai besar orang Yahudi. Namun niatnya ini belum terlaksana ia keburu meninggal secara mendadak tahun 1953.

Sumber : biografitokohdunia

Biografi Benito Mussolini

Benito Mussolini

Benito mussolini adalah pendiri fasisme Italia yang berpengaruh besar di Eropa. Di bawah kepemimpinannya, Italia menerapkan kebijakan imperalisme bahkan bersekutu dengan Adolf Hitler yang memperkenalkan ajaran Nazi di Jerman untuk menaklukan Eropa sebelum Pernag Dunia II. Mussolini yang awalnya di dukung rakyat akhirnya tewas di tangan gerilyawan.

Mussolini lahir di Predappio 29 Juli 1883 anak seorang pandai besi. Pendidikannya sebagian besar diperoleh secara otodidak. Namun ia pernah menjadi guru sekolah dan jurnalis sosialis di wilayah Italia Utara. Ia menikah dengan Rachele Guidi dan memiliki 5 orang anak.  Mussolini pertama kali dipenjara karena menentang keterlibatan Italia dalam perang di Libya (1911-1912).  Setelah keluar dari penjara ia di tunjuk menjadi editor koran berhaluan sosialis Avanti. Ketika PD I bergolak ia menyerukan agar Italia bergabung dengan Sekutu sehingga ia dikeluarkan dari Partai Sosialis dan mendirikan koran baru di Milan Il Popolo d`Italia (rakyat Italia) yang kemudian berkembang menjadi organ gerakan fasis.

Benito Mussolini bersama Hitler
Setelah perang Italia usai, ia dan para pemuda veteran perang mendirikan Fasci di Combattimento bulan Maret 1919, sebuah gerakan nasionalistis, antiliberal, antisosialis yang mendapat dukungan massa kelas menengah ke bawah. Gerakannya ini dengan cepat tumbuh dan pertengahan tahun 1920 Fasisme meluas ke seluruh wilayah Italia. Milisinya menggunakan pakaian khas warna hitam mendapat dukungan para pemilik tanah dan menyerang kelompok-kelompok petani dan kelompok-kelompok sosialis.

Keberadaan Fasisme di Italia sangat ditakuti pemerintah hingga ketika mereka mengancam akan melakukan demonstrasi di Roma, Raja Victor Immanuel III memanggil Mussolini untuk membentuk pemerintahan koalisi tahun 1922. Sejak tahun 1926 pemimpin fasis ini mengubah Italia menjadi sebuah rezim dengan partai tunggal yang bersifat totaliterisme. Para pegawai,buruh dan pekerja di organisasikan dalam kelompok-kelompok yang dikontrol ketat oleh partai. Sistem ini mempertahankan kapitalisme dan memperluas kerja sosial tetapi menghapuskan serikat buruh. Industri juga dibiayai dan dikendalikan oleh negara. Kebijakan luar negerinya sangat agresif. Ia menantang Liga Bangsa-Bangsa dan melakukan penyerangan ke Ethiopia (1935-1936) sehingga di dukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Benito Mussolini bersama Hitler
Namun popularitasnya merosot sejak ia mengirimkan pasukan membantu Jenderal Fransisco Franco dalam Perang Saudara di Spanyol (1936-1939), bekerjasama dengan Nazi Jerman, menerapkan undang-unfang anti-Yahudi dan menyerang Albania tahun 1939. Ketika PD II pecah, Mussolini awalnya tidak ikut terlibat karena militernya tidak siap terutama ketika Jerman menyerbu Perancis. Namun setelah itu, Italia menyerang Inggris di Afrika, Menyerbu Yunani dan bergabung dengan Jerman mengobrak-abrik Yugoslavia, menyerang Uni Soviet dan menyatak nperang terhadap AS. Lama-kelamaan Italia dan Jerman menuai kekalahan dalam pertempuran-pertempuran di Eropa hingga akhirnya Raja Emmanuel memecatnya tanggal 25 Juli 1943. Raja Italia kemudian melakukan gncatan senjata dengan sekutu yang telah menyerbu Italia. Pada Akhir PD II di Eropa, Mussolini berniat melarikan diri ke Swiss namun gerilyawan Italia menangkap dan menembaknya di Giulino.

Sumber : biografitokohdunia
Foto :
cthgila
story-biografi-tokoh-dunia
trendscelebrityhairstyle.onsugar

Biografi MS Kaban

Malem Sambat Kaban, MSi

Nama : Malem Sambat Kaban, MSi
Lahir          : Binjai, 5 Agustus 1958
Agama : Islam
Isteri          : Nurmala Dewi
Anak : Tujuh orang
Ayah : AM Kaban
Ibu          : S. Tarigan

Jabatan :

- Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009 )
- Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang.

Pendidikan:
- SMAN 7 Medan
- S1 Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya
- S2 Institut Pertanian Bogor

Karir:
- Dosen, Universitas Ibnu Khaldun, Bogor
- Dosen, Universitas Islam As Syafiiyah
- Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ibnu Khaldun
- Anggota DPR dan MPR

Organisasi:
- Sekjen DPP Partai Bulan Bintang
- Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang

Kegiatan Lain:
- Jakarta Public Relation
- Peneliti potensi ekonomi wilayah Taman Gunung Leuser pada 1992
- Ketua tim Penelitian Potensi Ekonomi Lemah di tahun 1993
- Peneliti muda pada studi pengkajian Strategi Pengusahaan Anak Perusahaan Joint Venture Pertamina pada 1994

Alamat:
Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt.4
Jl. Jend. Gatot Subroto
Telp: (021) 5730216, 5730278, 5730213
Fax: (021) 5700226
 
Bintang Bulan Bintang di Kabinet

Dia bintang dari Partai Bulan Bintang di Kabinet Indonesia Bersatu. Sesaat setelah diangkat menjabat Menteri Kehutanan, MS Kaban, bernama lengkap Malem Sambat Kaban, langsung melakukan gebrakan memberantas illegal logging. Pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara, 5 Agustus 1958, ini dengan cepat menguasai masalah utama yang perlu segera diatasi di lingkup tugas`departemennya.

Padahal, semula dia tidak menduga dan mengaku tak pernah bermimpi menjadi menteri, apalagi menjadi Menteri Kehutanan. Bahkan, saat dilantik pun, dalam hati, dia masih bertanya-tanya. ''Apa iya aku jadi menteri?''  sebagaimana dikemukakannya kepada pers.

Suami dari Nurmala Dewi dan ayah dari tujuh anak ini, diangkat menjabat Menteri Kehutanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat dia menjabat Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang, salah satu partai yang mendukung pencalonan pasangan Capres-Wapres SBY-JK dari sejak awal, bersama Partai Demokrat dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Tak lama setelah diangkat jadi menteri, dia pun terpilih menjadi Ketua Umum DPP PBB sekaligus Ketua Formatur dalam Muktamar II PBB di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Minggu 1/5/2005. Kaban terpilih, setelah kandidat terkuat lainnya Hamdan Zoelva, menyerahkan dukungan kepadanya, tanpa harus melalui pemilihan tahap kedua. Kaban menggantikan Yusril Ihza Mahendra yang kemudian menjabat Ketua Dewan Surya.

Nama Adat
Menteri Kehutanan bernama lengkap, Malem Sambat Kaban, yang disebutnya sebagai 'nama asli sebelum syahadat', merupakan nama adat. Kaban, putera bangsa berdarah Karo, itu berikrar memeluk Islam semasa mahasiswa di Universitas Jayabaya, Jakarta.

Dia berasal dari keluarga besar. Terlahir dari pasangan AM Kaban, pedagang, dan S Tarigan, ibu rumah tangga, sebagai anak keenam dari 11 bersaudata. Sebuah keluarga dari Suku Karo, salah satu suku di Sumatera Utara. Ayahnya tak lahir sebagai Muslim, melainkan sebagai keluarga yang taat pada adat. Maka nama anak-anak diberikan sesuai nama adat. MS di depan marga kaban adalah kepanjangan dari Malem Sambat. Malem itu artinya baik. Sambat artinya menolong. Jadi Malem Sambat artinya orang yang baik dan suka menolong.

Masa kecilnya terbilang senang-senang saja, walaupun lantaran kenakalan, beberapa tahun dia harus dibesarkan di lingkungan perkebunan, tidak bersama orangtuanya. Secara ekonomi, orang tuanya tergolong mampu. Ayahnya seorang pedagang. Saat orang lain belum punya mobil, orangtuanya sudah punya mobil. Kala itu, ayahnya punya empat buah penggilingan padi. Namun, mulai 1968, bisnis penggilingan padi ayahnya menurun, sehingga usahanya dialihkan ke perkebunan karet dan kemudian ekspansi ke perkebunan kelapa sawit.

Namun karena ketika kecil, dia memang agak nakal dan susah diatur, maka ketika duduk di kelas VI SD, untuk membina, dia 'diasingkan' oleh orangtuanya dan tinggal bersama orang yang tak dikenal di perkebunan di Deli Serdang. Mula-mula tinggal di rumah asisten perkebunan. Saat itu, tiap hari dia wajib menyiram kebun dan macam-macam pekerjaan, hal yang tak pernah wajib dilakukannya saat tinggal bersama orang tuanya.

Namun tak berapa lama, karena masih susah diatur, dia pun diusir dari rumah asisten perkebunan itu. Akhirnya, selama dua tahun, dia tinggal di rumah kosong, rumah staf perkebunan yang tidak berpenghuni. Namun, karena disiplin di SMP mengharuskan seorang siswa harus tinggal dengan orangtua atau wali, akhirnya dia pindah ke rumah seorang buruh paling rendah di perkebunan itu.

Selama tiga tahun, dia tinggal di rumah buruh perkebunan yang kondisi ekonominya sangat sederhana, bahkan menderita. Di situ dia menikmati beras yang bau apek. Nasinya hanya bisa dimakan kala hangat. Begitu dingin dan menjadi kering tidak bisa lagi dimakan.

Waktu itu, dia dapat jatah beras bagus sebanyak 16 kilogram per bulan dari orang tuanya. Namun oleh induk semangnya, buruh perkebunan itu, beras bagus itu dijual untuk membeli lauk dan keperluan lainnya. Setiap hari makanannya nasi apek dengan lauk sayur ikan teri dan sambal dengan kuah yang dibanyaki.

Selama hidup bersama keluarga buruh perkebunan itu, dia menikmati suka-dukanya jadi buruh di perkebunan. Di sana dia banyak belajar tentang arti kehidupan. Namun di situ dia menikmati hidup dengan segala dinamikanya. Terdidik bergaul dengan anak karyawan perkebunan yang susah, namun, di sekolah bergaul dengan anak-anak staf perkebunan.

Padahal budaya feodalis sangat kental dalam sistim pergaulan dan kemasyarakatan di lingkungan perkebunan kala itu, bahkan mungkin hingga saat ini. Anak-anak staf perkebunan sangat jarang mau bergaul dengan anak-anak karyawan (buruh). sebaliknya anak-anak buruh merasa minder bergaul dengan anak-anak staf. Namun, Kaban kecil bisa menerobos tembok feodalis itu. sebab dia memang bukan anak buruh dan juga bukan anak staf, melainkan anak seorang pedagang.

Pada tahun pertama di bangku SMP, dia sempat tinggal kelas karena susah diatur. Kala itu, tiap pekan dia mendapat peringatan dari guru. Tapi, walau dia susah diatur, nilai pelajarannya tak pernah buruk. Setiap kali ujian dia mendapat nilai yang baik. Sehingga para gurunya selalu tak habis pikir. Tapi karena kelakuannya yang sulit diatur dan dianggap nakal, dia pun terpaksa tidak naik kelas.

Setelah tinggal kelas, dia pun tersentak dan tersadar. Pada tahun kedua duduk di kelas satu SMP, kenakalan kanak-kanaknya berkurang. Dia bisa lebih tertib mematuhi disiplin. Sehingga setiap catur wulan, dia pun mendapat peringkat bagus di kelasnya.

Ada seorang guru, bernama Tahir, yang tak lepas dari kenangan masa kenakalannya di sekolah. Sang Guru pernah memukulnya dengan buku. Saking marahnya, guru mata pelajaran Kewarganegaraan itu memukulnya memakai buku dengan begitu kerasnya sehingga buku itu pun sobek dan kertasnya berserak. Namun, setelah dewasa, dia tahu kemarahan guru itu karena rasa sayangnya. Sehingga Sang Guru itu masih selalu ingat, kalau bertemu selalu menyapanya dengan senang.

Setelah tamat SMP, dia pindah ke Medan dan sekolah di SMAN 7 Medan. Di Medan dia juga kost. Pengalaman hidup di perkebunan dan kost di Medan, sangat besar memengaruhi jalan hidupnya. Hidup jauh dari orang tua menjadi pelajaran hidup yang berharga baginya. Di situ dia menimba banyak pelajaran dalam mengarungi hidup.

Setamat SMA, dia hijrah ke Jakarta karena terobsesi dengan perjuangan aktivis mahasiswa pada dasawarsa 1970-an. Sudah sejak duduk di bangku SMP dia mengagumi para aktivis mahasiswa seperti Dipo Alam, Hariman Siregar, Akbar Tandjung, dan Heri Akhmadi yang disebutnya Si Sepatu Laras.

Apalagi dia sering baca kopian koran Salemba. Maka sesaat  tamat SMA, dia meminta kepada ayahnya untuk kuliah di Jakarta. Dengan harapan, dalam hati, ingin bertemu dengan para aktivis itu. Ayahnya sempat melarang. Namun karena dia berkeras, akhirnya diizinkan. Apalagi, kakaknya juga iku mendukung. Setelah di Jakarta, dia pun bisa memenuhi impiannya bertemu dengan para aktivis itu.

Dia pun masuk Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta. Lalu dia sempat masuk resimen mahasiswa. Setelah itu, barulah dia berkenalan dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, ia pernah menjadi Ketua HMI Jakarta.

Masuk Islam
Saat mahasiswa itulah dia berikrar masuk Islam tahun 1980-an. Dia belajar soal Islam dari membaca buku dan pengalaman masa kecil. Ketika masih duduk di bangku SD, setiap hari Minggu dia diajak ke gereja. Lalu di sekolah, guru agama meminta siapa yang tak beragama Islam keluar. Dia pun ikut keluar. Namun dia tetap melihat dari jendela. Kala itu, dia mendengar, bahwa Tuhan itu satu, tidak beranak dan diperanakkan, tak ada yang sama dengan dia.

Setelah mahasiswa, dia merasa lebih logis menerima apa yang diajarkan guru agama waktu di SD itu. Maka dia pun memilih masuk Islam dan aktif di organisasi mahasiswa Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai pernah menjadi Ketua HMI Jakarta.

Kala itu, pada rezim Orba, dia tergolong mahasiswa yang amat kritis. Sehingga kekritisan sering membuat dirinya dicekal. Padahal pada masanya jadi mahasiswa itu adalah zaman Kampus Kuning, tahun 1978. Kala itu, awal-awal dari pembreidelan Dewan Mahasiswa dan lahirnya NKK BKK.

Dia termasuk mahasiswa yang tidak setuju atas NKK BKK. Bahkan, sesungguhnya mahasiswa yang bersikap seperti ini sangat mendominasi. Para mahasiswa yang berpikir oposisi terhadap pemerintah itu sangat kental. Waktu itu, para mahasiswa didoktrin para senior.

Pada awalnya, Kaban secara pribadi, masih resisten dengan organisasi kemahasiswaan. Sehingga dia malah tertarik masuk resimen mahasiswa. Tapi tak berapa lama, setelah dia masuk Islam, Kaban pun masuk HMI dan mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah.

Dicekal
Masa yang paling berkesan baginya adalah tahun 1983-1985, kala dunia kampus sangat tidak steril dari intelijen. Saat itu, tak ada aktivitas mahasiswa yang tak terekam intelijen. Kaban merasa yakin bahwa nyaris semua elemen mahasiswa dipakai intelijen.

Hal ini sangat terasa. Contohnya, ketika gencar-gencarnya dia ikut mengkritisi dan tidak setuju penunggalan azas Pancasila, sejak saat itulah dia menikmati panggilan-panggilan interogasi dan pencekalan cukup lama. Pencekalan itu baru gugur setelah Pak Harto mundur 1998.

Salah satu pencekalan yang dialaminya adalah ketika mendapat rekomendasi dari Pak Natsir untuk sekolah ke Malaysia. Pak Natsir merekomendasinya kepada Anwar Ibrahim yang waktu itu masih menjabat menteri, untuk mendalami Ekonomi Islam di Malaysia. Bahkan, dia sudah direkomendasi MUI. Namun dia batal belajar ke Malaysia karena dicekal.

Dia juga pernah mengalami pemanggilan, pencekalan, dan penahanan kota. Bahkan pernah dalam satu hari harus lapor dua kali. Namun demikian, dia tidak surut, karena yakin suatu saat rezim Soeharto pasti bakal runtuh.

Terjun ke Dunia Politik
Setelah menamatkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Kaban berkecimpung dalam pengembangan sumber daya manusia di Jakarta Public Relation. Dia terjun meneliti potensi ekonomi wilayah Taman Gunung Leuser pada 1992 dan berbagai penelitian lain.

Kaban yang kemudian meraih gelar S2 dari program Pasca Sarjana IPB, aktif pula sebagai pengajar di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Dia pun sempat menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ibnu Khaldun. Hingga kini, ia masih tetap mengajar mata kuliah ekonomi mikro syariah setiap Jumat. Selain itu, dia juga aktif berceramah di berbagai tempat dan kegiatan.

Kemudian, setelah reformasi bergulir, dia pun terjun ke dunia politik. Sebelumnya, pada Pemilu 1997, sebenarnya dia sudah dilamar PPP yang kala itu diketuai Ismail Metareum. Dia diminta masuk PPP dan dijanjikan akan dikasih nomor jadi dari Jawa Barat. Namun, waktu itu Kaban belum terpikir untuk masuk partai politik. Sebab kala itu dia berpikir, untuk apa jadi anggota DPR/MPR, dalam sistem perpolitikan yang sangat terkontrol, dimana presidennya pun masih Soeharto terus. Maka dia pun tetap memilih mengajar saja.

Namun, menjelang reformasi, Kaban sering berkumpul dan diskusi dengan para senior, orangtua. Salah satu topik yang banyak dibicarakan adalah kalau Soeharto jatuh kita mau ngapain?

Lalu, waktu itu mereka intensif membicarakan masalah pendirian partai politik. Pada mulanya mereka ingin mendirikan parpol, dimana ketuanya Amien Rais dan Yusril jadi sekjennya.
Namun, ketika pembicaraan sampai pada soal nama dan asas partai, tidak tercapai kesepahaman.

Akhirnya Amien Rais dan kawan-kawan memilih mendirikan partai sendiri, yakni PAN (Partai Amanat Nasional). Sementara, Yusril dan Kaban bersama kawan-kawan tetap akan mendirikan Partai Bulan Bintang yang berasas Islam, memperjuangkan Piagam Jakarta. Yusril didaulat jadi ketua umum. Kemudian, Yusril pun langsung mengusulkan Kaban jadi Sekjen.

Kala itu, Kaban langsung menyatakan keberatan, karena merasa belum ada pengalaman. Akhirnya, Anwar Haryono (alm) menelepon: 'Saya dengar kabar, Anda menolak jadi Sekjen. Saya minta tolong, Anda dampingi Yusril'. Karena orangtua sudah ngomong begitu, akhirnya Kaban bersedia.

Jadi Menteri
Walau sudah menjabat Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang dan kemudian duduk sebagai anggota DPR/MPR hasil Pemilu 1999 dan 2004, Kaban tak pernah bermimpi, apalagi berambisi, menjadi menteri. Walaupun partainya, PBB menjadi salah satu pendukung utama, dari awal, pencalonan pasangan Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Calon Wakil Presiden M Jusuf Kalla, yang kemudian menjadi pemenang.

Menurutnya, hanya nasib baik saja yang mengantarnya jadi menteri. Disebut nasib baik, karena memang dia merasakan demikian. Ceritanya, begini: Pada jam 15.00, tanggal 18 Oktober 2004, dia ditelepon untuk ketemu SBY di Cikeas dalam rangka membantu presiden dan wapres terpilih di kabinet. Namun waktu sampai di Cikeas. Sudi Silalahi, orang kepercayaan SBY, bilang, 'Wah kita sebenarnya mau reschedule pertemuan ini'.

Setelah itu, kaban tidak segera pulang, namun masih duduk dan ngobrol bersama Sudi dengan yang lain. Tiba-tiba saja, SBY keluar, terus salaman dan duduk bergabung. Lalu berdialog. Kaban sendiri terkesan bingung. Dalam hati, dia bertanya: 'Apa wawancaranya begini?' Tapi, dialog dengan SBY itu, rasanya tak menjurus kepada apa yang diinfokan kepadanya sebelumnya. Waktu itu SBY bilang, 'Ya sudah nanti kita ketemu lagi.'

Setelah itu, Kaban mendatangi Sudi Silalahi. Lalu Sudi bilang, 'Sudahlah Pak SBY sudah kenal Kaban.' Setelah itu, Kaban keluar pulang. Ketika wartawan mencegat dan bertanya, dia tidak bisa menjelaskan apa pun yang dibicarakan. Karena memang yang dibicarakan tidak ada yang spesifik mengenai bidang tugas tertentu seorang menteri.

Lalu, malam saat presiden akan mengumumkan susunan kabinetnya, Yusril memintanya untuk menunggu saja di rumah. Kaban pun segera pulang ke kediamannya di Bogor. Tiba-tiba sekitar pukul 21.00 handphone-nya berdering. Setelah diangkat, suara seorang pria memintanya agar segera bertemu Jusuf Kalla di Istana Wapres. Dipesankan agar masuk lewat pintu belakang.

Kaban pun segera bergegas ke Jakarta. namun, dalam hati dia masih merasa penasaran. ''Disuruh ke Istana Wapres ada apa nih,'' gumamnya dalam hati. Dia pun mencoba menelepon Hatta Rajasa dan Aksa Mahmud dalam perjalanan. Keduanya berhasil diajak bicara lewat telepon. namun pembicaraan dengan kedua tokoh itu, justru semakin membuatnya bingung.

Lalu, Kaban pun menelepon Ali Muchtar. ''Pak Ali sebenarnya aku disuruh ke Jakarta mau ngapain dan mau ketemu siapa?'' Ali menjawab: ''Abang harus ke istana. Calon menteri yang lain sudah berada di istana." Akhirnya, mobil pun dikebut hingga kecepatan 140 kilometer per jam.

Begitu sampai di depan istana, ternyata Kaban sudah ditunggu. Kemudian SBY datang menemui beberapa calon menteri. ''Tadinya saya mau ajak ngobrol satu per satu, tapi saya sudah paham. Dalam menentukan keputusan ini saya banyak mendapat bisikan dari kiri-kanan. Tapi saya ambil keputusan berdasarkan pandangan mata hati. Saya ajak, bapak-bapak ikut membantu saya,'' ujar SBY.

Semula dia dapat masukan akan diangkat menjadi menteri sosial. Tapi, setelah diumumkan, dia diangkat jadi Menteri Kehutanan. Dia merasa kaget. "Terus terang nggak kebayang menjadi seorang menteri. Waktu dilantik jadi menteri saja, sampai ada perasaan, 'apa iya aku ini jadi meteri?'

Pada awal menjabat menteri, Kaban mengaku sempat merasa 'kagok banget.' Pasalnya, harus ada ajudan dan protokol. Rasanya ada suatu perubahan suasana yang berbeda dari dunia partai ke parlemen dan dari parlemen ke eksekutif. Dia merasakan adanya suatu lompatan beban.

Karena ketika di parlemen cenderung normatif saja, bahasanya ideal. Sedangkan di dunia eksekutif, yang dihadapi dunia yang sebenarnya, nyata. Problemnya menyangkut perilaku manusia yang berneka ragam dan kepentingan beraneka ragam. Sebagai menteri, risiko pertanggungjawaban publiknya lebih terasa.

Cepat Kuasai Masalah
Kendati dia tak pernah membayangkan akan menjadi menteri, apalagi Menteri Kehutanan, dia tak terlihat kurang memahami bidang tugasnya. bahkan dia terlihat cepat menguasai masalah di bidang kehutanan. sejak hari pertama dia dengan tangkas menjawab berbagai pertanyaan wartawan mengenai apa yang akan dilakukannya segera dalam jabatannya sebagai Menteri Kehutanan.

Sepertinya dia sudah mempersiapkan diri dalam waktu cukup lama untuk mengemban tugas itu. Memang, kalau dari sisi penguasaan masalah, dia merasa tidak ada kesulitan. Karena lima tahun aktif di panitia anggaran di DPR, telah bersentuhan dengan Departemen Kehutanan dalam konteks berapa penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Di Komisi III DPR dia juga berhubungan Dephut, termasuk kasus-kasusnya. Dia juga pernah di Komisi IX sub komisi BUMN, yang menyentuh BUMN yang diperiksa BPK, termasuk Perhutani dan Dephut.

Dari segi latar belakang pendidikan, dia juga berhubungan dengan masalah kehutanan. karena tesisnya mengulas masalah 'Taman Nasional Gunung Leuseur'. Maka, ketika duduk sebagai Menteri Kehutanan, rasanya dia seperti masuk kembali pada bab-bab tesisnya ketika meraih gelar master (S2) dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dia melihat masalah kehutanan yang harus segera dibenahi, selain masalah illegal logging juga masalah degradasi hutan yang sangat cepat sekali terjadi. Degradasi hutan itu sudah sangat mengganggu fungsi hutan sebagai SDA yang lestari, flora yang beraneka ragam pun sudah sangat rusak.

Dia menjelaskan, pada 1970-an, luas hutan kita mencapai 180 juta hektare. Saat ini, sudah hanya 120 juta hektare. Bahkan hutan yang benar-benar masih utuh, mungkin hanya tingal sekitar 57 juta hektare, sebagaimana dikemukakannya kepada Republika, Minggu, 21 Nopember 2004.

Dia pun memalu genderang memerangi illegal logging.  Sebab menurut data beberapa LSM yang diterimanya, dalam lima tahun terakhir ini, akibat keganasan perampokan kayu hutan, tak kurang dari 20 juta hektare telah hancur. Begitu pula data dari Dephut, tak kurang dari 2,7 juta hektare per tahun hutan rusak.

Keluarga
Baginya, keluarga adalah segalanya. Namun, secara terus terang, dia mengakui, setelah sibuk di partai dan parlemen apalagi setelah menteri, dia tidak bisa lagi bertemu dengan anak-anak dalam waktu yang cukup seperti sebelumnya.Dia hanya bisa ketemu anak-anak rata-rata satu jam sehari. Hanya ketemu habis subuh sampai jam 06.00 pagi.

Sampai-sampai anaknya pernah bertanya saat dia pulang jam 22.00. 'Eh kok bapak pulang cepat?' Sebab biasanya, dia pulang tengah malam sejak aktif di partai. Tapi, Kaban bersyukur, meski anak-anaknya masih sedang puber, sampai saat ini tidak ada yang menyimpang dari harapannya.

Sumber : tokoh-indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...