Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Biografi Raymond Kroc



Pendiri McDonald’s

Dalam apa yang seharusnya menjadi tahun emasnya, Raymond Kroc, pendiri dan pembangun McDonald’s Corporation, membuktikan dirinya sebagai seorang pelopor industri yang tidak kalah kemampuannya dengan Henry Ford. Dia merevolusikan industri restoran dengan memberlakukan disiplin atas produksi hamburger, kentang goreng, dan susu kocok. Dengan mengembangkan sistem operasi dan antaran yang maju, dia memastikan bahwa kentang goreng yang dibeli oleh pelanggan di Topeka akan sama dengan yang dibeli di New York City. Konsistensi seperti ini menjadikan McDonald’s nama mereka yang mendefinisikan fast food Amerika.

Pada tahun 1960, terdapat lebih dari 200 saluran McDonald’s di seluruh Amerika, perluasan cepat yang dikobarkan oleh biaya franchise yang rendah. Ray Kroc telah menciptakan salah satu merek yang paling kuat sepanjang masa. Tetapi dia nyaris tidak mendapat keuntungan. Akhirnya, dia memutuskan untuk menggunakan real estate sebagai pendukung keuangan yang menyebabkan McDonald’s menjadi operasi yang menguntungkan. Pada tahun 1956, Kroc mendirikan Franchise Realty Corporation, membeli tanah dan bertindak selaku pemilik restoran bagi pembeli franchise yang penuh minat. Dengan langkah ini, McDonald’s mulai memperoleh penghasilan yang sesungguhnya, dan perusahaan pun lepas landas. Kroc kemudian memperkenalkan program periklanan nasional untuk mendukung franchise yang tersebar dengan cepat; dan setelah tampak bahwa pertumbuhan di wilayah asal perusahaan ini melambat pada awal tahun 1970-an, dia memulai dorongan yang penuh semangat dan sukses untuk membuat kehadiran global bagi McDonald’s.



Sepanjang pertumbuhan perusahaan yang spektakuler, Kroc melakukan akrobat keseimbangan berjalan di atas rentangan tali yang sulit, memberlakukan standar yang keras di seluruh sistem sementara mendorong semangat wirausaha yang menyambut baik gagasan dari semua tingkat. Banyak gagasan ini yang memberikan sumbangan kepada keberhasilan perusahaan yang menakjubkan. Dalam mengumpulkan kekayaan sebesar $500 juta, raja hamburger ini mengubah lansekap budaya bangsa dan menempa sebuah industri yang termasuk di kalangan ekspor Amerika yang terbesar. Keberhasilan McDonald’s yang ditiru secara meluas menawarkan contoh yang baik sekali bagi manajer dan eksekutif zaman sekarang yang berusaha mencari efisiensi produksi yang lebih besar.

Dengan menempatkan hamburger yang bersahaja di atas jalur perakitan, Kroc menunjukkan kepada seluruh dunia bagaimana cara menerapkan pross manajemen yang maju pada usaha yang paling membosankan. Supaya bisa maju dengan cara McDonald’s, perusahaan-perusahaan harus menetapkan prinsip dasar pelayanan yang mereka tawarkan, memecah-mecah pekerjaan menjadi bagian-bagian, dan kemudian terus-menerus merakitnya kembali dan menyempurnakan banyak langkah sampai sistem berjalan tanpa kekangan. Hari ini, perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam antara pizza, pemrosesan klaim asuransi, atau menjual mainan mendapat keuntungan dari jenis sistem yang dipelopori oleh Ray Kroc. Sampai tingkat ketika operasi seperti ini menjaga pengendalian mutu, dan memelihara kepuasan pelanggan, keuntungan akan mengalir.

Sebagai salesman mesin susu kocok, Raymond Kroc secara rutin mengunjungi kliennya. Tetapi ketika salesman berumur lima puluh dua tahun ini pergi dari rumahnya dekat Chicago ke California selatan untuk menemui dua kliennya yang terbesar, hasilnya sama sekali bukan hal rutin. Maurice dan Richard McDonald meninggalkan New Hampshire pada tahun 1930, berusaha mencari peruntungan di Hollywood. Karena tidak bisa mendapatkan hasil besar di Tinseltown, kakak beradik ini akhirnya menjadi pemilik restoran drive-in di San Bernardino, kota kecil berdebu sejauh lima puluh lima mil di sebelah timur Los Angeles. Sementara kebanyakan restoran membeli satu atau dua Prince Castle Multimixer, yang bisa mencampur lima gelas susu kocok sekaligus, McDonald bersaudara membeli delapan buah. Dan Kroc ingin tahu jenis operasi apa yang membutuhkan kemampuan membuat empat puluh gelas susu kocok pada saat saat yang bersamaan.



Maka dia pergi ke San Bernardino, dan apa yang dilihatnya di sana mengubah kehidupannya. Kroc berdiri di keteduhan dua gerbang lengkung keemasan restoran yang gemerlapan, yang menerangi langit di senja kala, dan melihat antrian orang-orang yang berkelok-kelok seperti ular di luar restoran yang berbentuk segi delapan. Melalui dinding bangunan yang selurunya terbuat dari kaca, dia memandangi para karyawan pria, yang memakai topi kertas dan seragam putih, sibuk di restoran yang sangat bersih, menyajikan burger dalam piring, kentang goreng dan susu kocok kepada keluarga-keluarga kelas pekerja yang berdatangan naik mobil. “Sesuatu pasti sedang terjadi di sini, saya mengatakan kepada diri sendiri,” Kroc kemudian menulis dalam otobiografinya, Grinding It Out. “Ini pasti operasi perdagangan paling menakjubkan yang pernah saya lihat.” Tidak seperti begitu banyak operasi pelayanan makanan yang pernah ditemui oleh Krock, tempat ini mendengung seperti mesin yang ditun-up dengan sempurna.

Sebagaimana Forbes menyatakannya, “singkatnya, kakak-beradik ini mendatangkan efisiensi kepada bisnis yang cepat.” Mereka menawarkan menu sembilan jenis makanan – burger, kentang goreng, susu kocok, dan pai – menyingkirkan tempat duduk, serta menggunakan alat makan kertas dan bukannya kaca atau porselen. Mereka juga merancang jalur perakitan kasaran sehingga mereka bisa melayani pesanan dalam waktu kurang dari enam puluh detik. Kroc seketika tahu bahwa dia telah melihat masa depan. “Malam itu dalam kamar motel saya, saya berpikir keras tentang apa yang saya lihat siang harinyal. Bayangan restoran McDoland’s yang tersebar di sekitar perempatan jalan di seluruh negara berpawai melalui otak saya.”

Dengan persetujuan di tangan, Kroc mulai memenuhi bayangannya tentang restoran McDonald’s yang meledak dari pantai ke pantai. Dia memulai dengan membangun mata rantai pertama kongsi restoran ini – sebuah model eksperimewntal di Des Plaines, illinois, di luar kota Chicago, yang bersifatkan harga rendah yang sama, demikian pula menu yang terbatas, dan pelayanan cepat seperti di restoran San Bernardino. Restoran yang dibuka pada tanggal 15 April 1955 ini mencapai penjualan yang terhormat sebesar $366,12 dengan cepat memasukkan keuntungan. Kroc mengawasi restoran ini dengan waspada seperti seorang ibu baru, secara pribadi memimpin kegiatan dapur dan mengorek sisa permen karet dari pelataran parkir dengan pisau raut. Bagi Kroc, meniru satu kedai tunggal kakak-beradik McDonald baru permulaannya.

Supaya bisa membangun kongsi restoran, Kroc tahu bahwa dia harus memberlakukan disiplin atas industri restoran yang dikelola secara longgar. Dan itu berarti menyempurnakan prosedur operasi yang distandarkan dalam proses yang bisa ditiru. Empat puluh tahun sebelumnya, Henry Ford sudah menyadari bahwa produksi masal mobil memerlukan perkawinan antara presisi bagian-bagian mobil dan proses perakitan yang efisien. Wawan Kroc adalah menerapkan disiplin yang sama pada pembuatan sandwich. Dengan menggunakan gagasan bahwa “ada ilmu untuk membuat dan menyajikan hamburger,” Kroc memberikan kepada kepingan daging sapi gilingnya spesifikasi yang tepat – kandungan lemak: di bawah 19 persen; berat: 1,6 ons: garis tengah: 3,875 inci; bawang: ¼ ons . Kroc bahkan membangun sebuah laboratorium di pinggiran kota Chicago untuk merancang metode pembuatan kentang goreng yang sempurna pada akhir tahun 1950-an. Bukannya sekedar memasok pembeli franchise dengan rumus susu kocok dan eskrim, Kroc ingin menjual kepada mitra barunya satu sistem operasi.

Dengan lain perkataan, dia membuat cap satu pelayanan. Dan ini sarana revolusioner yang akan digunakan oleh McDonald’s untuk menciptakan kongsi restoran yang di dalamnya satu restoran di Delaware dan satu restoran di Nevada akan menyajikan burger yang tepat sama ukuran dan mutunya, masing-masing berisi potongan acar yang sama, setiap burger disajikan dalam talam yang serupa bersama kentang goreng yang dimasak dengan lamanya waktu yang sama. Sebagaimana yang diingat oleh Kroc, “Kesempurnaan sulit sekali dicapai, dan kesempurnaanlah yang saya inginkan dalam McDonald’s. Segala hal lainnya sekunder bagi saya.” Tetapi tuntutan yang serba tepat melayani satu tujuan strategis. “Tujuan kami, tentu saja, adalah memastikan bisnis yang berulang berdasarkan reputasi sistem dan bukannya mutu satu restoran atau operator tunggal,” kata Kroc. Walaupun franchise McDonald’s bertumbuhan dimana-mana di seluruh daerah di Barat Tengah dan Barat seperti bunga liar setelah hujan musim semi, keberhasilan perusahaan rupanya berumur pendek. Sementara persetujuan asli yang dijalin dengan kakak-beradik McDonalds menyebabkan Kroc menyayangi pembeli franchise yang paling awal, ini juga menyebabkan perusahaan yang baru lahir ini langsung menuju kemungkinan bangkrut. Selama tahun 1960, ketika kongsi restoran ini mengeruk uang $75 juta dalam penjualan, penghasilan McDonald’s hanya $159.000.

“Singkatnya, konsep Kroc untuk membangun McDonald’s, John Love. Dan rumah kartu impian Kroc mulai runtuh di bawah bobotnya sendiri. Sementara terbenam dalam utang dan tanpa pertumbuhan keuntungan yang bisa dibayangkan, Kroc menghadapi satu dilema yang klasik. Dia tidak mampu memperluas usaha. Dan dia tidak bisa tetap terapung. Untunglah, Harry Sonnenborn menemukan pemecahan. Dia berpikir McDonald’s harus mendapatkan uang dengan menyewa atau membeli lokasi yang akan dijadikan kedai dan kemudian menyewakannya kembali kepada pembeli franchise mula-mula dengan peningkatan harga 20 persen, dan kemudian 40 persen. Di bawah rencana ini, McDonald’s akan mencari lokasi yang sesuai dan menandatangani perjanjian sewa dengan bunga yang ditentukan. Strategi real estate pas sekali dengan tujuan penguasaan Kroc yang lebih besar. Bukannya menjual franchise geografis sebagai selubung, yang akan memberikan kepada pemegangnya hak untuk membangun sebanyak-banyaknya atau sesedikit-sedikitnya kedai sekehendak hatinya disuatu kawasan tertentu, Kroc hanya menjual franchise individual, dengan biaya rendah $950.

Ini mematikan bahwa operator yang tidak bersedia bermain mengikuti aturannya hanya bisa membuka tidak lebih dari satu saluran. Setelah menyerahkan urusan keuangan yang stabil ke tangan Harry Sonnenborn yang ahli, Kroc mulai memperluas dan memprofesionalkan kerajaan industri yang sedang tumbuh ini. Di bawah konsepsinya yang baru, setiap pembeli franchise dan operator seperti seorang manajer pabrik. Karena mengetahui bahwa ukuran bagi kompleks industri yang maju adalah manajemen profesional, pada tahun 1961 Kroc meluncurkan satu program latihan-di restoran baru di Elk Grove Village, Illinoiss. Di sana, kelompok pelaksana melatih pembeli franchise dan operator dalam metode ilmiah mengelola McDonald’s yang sukses dan melatih mereka dalam ajaran kroc tentang Mutu, Pelayanan, Kebersihan dan Nilai. “Saya menaruh hamburger pada jalur perakitan,” Kroc suka mengatakan. Hamburger juga berisi laboratorium penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan mekanisme memasak, membekukan, menyimpan, dan menyajikan. Di mana pun juga tidak ada dikotomi antara pengendalian pusat dan otonomi operasi yang lebih kentara daripada dalam iklan. Pada hari Natal akhir tahun 1950-an, Turner dan para manajer lainnya bisa berkeliling Chicago Loop dengan “Kereta Sinterklas,” sebuah truk eskrim yang diubah menjadi restoran drive-in McDonal’s yang beroda.

Namun kendati sangat menyukai cara menjajakan barang dagangan model kini ini, McDonald’s tidak mempunyai strategi periklanan untuk seluruh perusahaan. Sebaliknya, ketika operator Minneapolis Jim Zein melihat penjualannya meledak pada tahun 1959 setelah memasang iklan radio, Kroc mendorong para operator untuk memanfaatkan gelombang udara dengan kampanye mereka sendiri. Iklan yang sukses membantu penggalakan pertumbuhan yang lebih besar. Dan pada tahun 1965, dengan 710 restoran McDonald’s tersebar dalam empat puluh empat negara bagian, $171 juta dalam penjualan, dan neraca yang relatif mantap, akhirnya McDonald’s mekar sepenuhnya. Perusahaan ini go public pada tanggal 15 April, tepat sepuluh tahun sampai ke harinya setelah Kroc membuka kedai Des Plaines, menjual 300.000 saham dengan harga per lembar $22,50. Banyak saham ini yang ditawarkan oleh Kroc, yang mengeruk uang $3 juta dalam penjualan. Kroc mengerahkan uang tunai ini untuk memperluas perusahaan dan melawan pesaing yang dengan cepat menyebar di mana-mana, sebab keberhasilan perusahaan telah melahirkan banyak imitasi yang berusaha memanfaatkan industrialisasi fast food yang semakin meningkat. Melalui pertumbuhan yang pesat dan iklan yang meluas, McDonald’s pada awal tahun 1970-an menjadi kongsi restoran fast food yang terbesar di seluruh negara dan sifat yang mudah dikenali dari lansekap budaya Amerika. Dan penguasa tertinggi McDonaldland, Ray Kroc, menjadi seorang tokoh yang bertingkat nasional.

Pada tahun 1972, ketika lebih dari 2.200 saluran McDonald’s mengeruk penjualan $1 milyar, kroc menerima hadiah Horatio Alger dari Norman Vincent Peale. Sementara nilai saham pemilikannya meningkat menjadi kira-kira $500 juta. Sementara produk McDonald’s menjadi makanan pokok Amerika, hal ini membangkitkan keinginan menyelidiki wartawan dan politikus pembaharuan yang suka mencari-cari kejelekan, raksasa industri profil tinggi Ray Kroc juga menarik perhatian dari banyak pihak. Sementara produk McDonald’s menjadi makanan pokok Amerika, hal ini membangkitkan sikap tinggi hati kaum elit industri makanan. Mimi Sheraton dari New york magazine menyatakan: “Makanan McDonald’s mengerikan secara tidak ketulungan, tanpa keindahan apa pun.” Para politikus juga memperhatikan. Pada tahun 1974, ketika nilai pasar perusahaan ini melampaui nilai U.S. Steel yang maju dengan lambat, Senator Lloyd Bentsen mengeluh: “Ada sesuatu yang tidak beres dengan ekonomi kita kalau pasar saham lebih banyak dalam hamburger dan lebih sedikit dalam baja.” Banyak analis yang memandang pertumbuhan McDonald’s yang pesat sebagai hal yang tidak akan bisa dipertahankan. Tetapi Kroc merasa yakin bahwa perusahaan perlu terus berkembang supaya bisa bertahan hidup. “Saya tidak percaya dengan kejenuhan,” dia berkata. “Kami berpikir dan bicara dalam tingkat seluruh dunia.” Kroc membayangkan sebuah dunia yang di dalamnya 12.000 pasang Gerbang Lengkung Keemasan akan berdiri sebagai pos luar sebuah kerajaan perdagangan yang perkasa. Mendirikan pangkalan di ibu kota negara-negara Eropa baru permulaannya. Dengan berlalunya waktu sepuluh tahun, seribu restoran yang dibuka oleh perusahaan di luar negeri menggalakkan 27 persen tingkat pertumbuhan tahunan. Kongsi restoran ini begitu universal dikenal sebagai lambang usaha Amerika dan berpengaruh, sehingga ketika gerilyawan Marxis meledakkan sebuah restoran McDonald’s di San Salvador pada tahun 1979, mereka menyatakan bahwa tindakan teroris ini sebuah pukulan mematikan terhadap “imperialis Amerika.”

“Walaupun McDonald’s mencapai sukes, dan kekayaan pribadinya mencapai $340 juta, dia selalu khawatir,” Forbes menulis pada tahun 1975, “Kalau Kroc bepergian, dia bersikeras menyuruh sopirnya membawanya paling sedikit ke enam restoran McDonald’s untuk melakukan inspeksi kejutan.”. Walaupun dia membunuh persaingan, persaingan tidak membunuh Ray Kroc. Dia meninggal dunia dalam usia lanjut pada bulan Januari 1984, pada umur delapan puluh satu tahun, tepat sepuluh bulan sebelum McDonald’s menjual hamburger yang ke-50 milyar.

Sumber : kolom-biografi.

Rabu, 29 Juni 2011

Biografi Sakichi Toyoda

Sakichi Toyoda


Pendiri Toyota
Sakichi Toyoda adalah seorang penemu dan industrialis Jepang. Ia dilahirkan di Kosai, Shizuoka. Anak seorang tukang kayu miskin, Toyoda ini disebut sebagai "Raja Penemu Jepang". Karir Sakichi Toyoda sering disebut sebagai bapak revolusi industri Jepang. Ia juga merupakan pendiri Toyota Industries Co, Ltd. Lahir 14 Februari 1867 (1867/02/14) di Jepang, Meninggal 30 Oktober 1930 di Jepang



Dia menciptakan berbagai perangkat tenun. Penemuan yang paling terkenal adalah kekuatan otomatis tenun di mana ia menerapkan prinsip Jidoka (otonom otomatisasi). Prinsip Jidoka, yang berarti bahwa mesin berhenti sendiri bila masalah terjadi, kemudian menjadi bagian dari Toyota Production System.

Toyoda mengembangkan konsep dari 5 mengapa: Ketika terjadi masalah, bertanya 'mengapa' lima kali untuk mencoba untuk menemukan sumber masalahnya, kemudian dimasukkan ke tempat sesuatu untuk mencegah masalah tersebut dari berulang. Konsep ini digunakan sekarang sebagai bagian dari bersandar menerapkan metodologi untuk memecahkan masalah, meningkatkan kualitas, dan mengurangi biaya.

Sejarah
Toyota Motor Corporation didirikan pada September 1933 sebagai divisi mobil Pabrik Tenun Otomatis Toyota. Divisi mobil perusahaan tersebut kemudian dipisahkan pada 27 Agustus 1937 untuk menciptakan Toyota Motor Corporation seperti saat ini.

Berangkat dari industri tekstil, Toyota menancapkan diri sebagai salah satu pabrikan otomotif yang cukup terkemuka di seluruh dunia. Merek yang memproduksi 1 mobil tiap 6 detik ini ternyata menggunakan penamaan Toyota lebih karena penyebutannya lebih enak daripada memakai nama keluarga pendirinya, Toyoda. Inilah beberapa tonggak menarik perjalanan Toyota.



Toyota merupakan pabrikan mobil terbesar ketiga di dunia dalam unit sales dan net sales. Pabrikan terbesar di Jepang ini menghasilkan 5,5 juta unit mobil di seluruh dunia. Jika dihitung, angka ini ekuivalen dengan memproduksi 1 unit mobil dalam 6 detik.

Dibandingkan dengan industri-industri otomotif lain yang menggunakan nama pendirinya sebagai merek dagang seperti Honda yang didirikan oleh Soichiro Honda, Daimler-Benz (Gottlieb Daimler dan Karl Benz), Ford (Henry Ford), nama Toyoda tidaklah dipakai sebagai merek. Karena berangkat dari pemikiran sederhana dan visi waktu itu, penyebutan Toyoda kurang enak didengar dan tidak akrab dikenal sehingga diplesetkan menjadi Toyota.

Sakichi Toyoda lahir pada bulan Februari 1867 di Shizuoka, Jepang. Pria ini dikenal sebagai penemu sejak berusia belasan tahun. Toyoda mengabdikan hidupnya mempelajari dan mengembangkan perakitan tekstil. Dalam usia 30 tahun Toyoda menyelesaikan mesin tenun. Ini kemudian mengantarnya mendirikan cikal bakal perakitan Toyota, yakni Toyoda Automatic Loom Works, Ltd. pada November 1926.

Di sini hak paten mesin tekstil otomatisnya kemudian dijual kepada Platt Brothers & Co, Ltd. dari Inggris, Britania Raya. Hasil penjualan paten ini, dijadikan modal pengembangan divisi otomotif. Mulai tahun 1933, ketika Toyoda membangun divisi otomotif, tim yang kemudian banyak dikendalikan oleh anaknya Kiichiro Toyoda, tiada henti menghasilkan inovasi-inovasi terdepan di zamannya. Mesin Tipe A berhasil dirampungkan pada 1934. Setahun kemudian mesin ini dicangkokkan prototipe pertama mobil penumpang mereka, A1. Divisi otomotif Toyoda juga menghasilkan truk model G1.

Di tahun 1936 mereka meluncurkan mobil penumpang pertama mereka, Toyoda AA (kala itu masih menggunakan nama Toyoda). Model ini dikembangkan dari prototipe model A1 dan dilengkapi bodi dan mesin A. Kendaraan ini dari awal diharapkan menjadi mobil rakyat. Konsep produk yang terus dipegang Toyota hingga sekarang.

Empat tahun menunggu dirasa cukup melahirkan perusahaan otomotif sendiri dan melepaskan diri dari industri tekstil mereka. Kemudian tahun 1937 mereka meresmikan divisi otomotif dan memakai nama Toyota, bukan Toyoda seperti nama industri tekstil. Pengambilan nama Toyota dalam bahasa Jepang terwakili dalam 8 karakter, dan delapan adalah angka keberuntungan bagi kalangan masyarakat Jepang. Alasan lain yang dianggap masuk akal adalah industri otomotif merupakan bisnis gaya hidup dan bahkan penyebutan sebuah nama (dan seperti apa kedengarannya), menjadi sisi yang begitu penting. Karena nama Toyoda dianggap terlalu kaku di dalam bisnis yang dinamis sehingga diubah menjadi Toyota yang dirasa lebih baik. Tak ayal, tahun 1937 merupakan era penting kelahiran Toyota Motor Co, Ltd. cikal bakal raksasa Toyota Motor Corp (TMC) sekarang.

Semangat inovasi Kiichiro Toyoda tidak pernah redup. Toyota kemudian berkembang menjadi penghasil kendaraan tangguh. Di era 1940-an, Toyota sibuk mengembangkan permodalan termasuk memasukkan perusahaan di lantai bursa di Tokyo, Osaka dan Nagoya.

Setelah era Perang Dunia II berakhir, tahun 1950-an merupakan pembuktian Toyota sebgai penghasil kendaraan serba guna tangguh. Waktu itu kendaraan Jeep akrab di Jepang. Terinspirasi dari mobil ini, Toyota kemudian mengembangkan orototipe Land Cruiser yang keluar tahun 1950. Setahun kemudian meluncurkan secara resmi model awal Land Cruiser yakni model BJ.

Buln Juli tahun itu, test drivernya Ichiro Taira mengakhiri uji coba dengan hasil luar biasa. Diinspirasi oleh tokoh Samurai Heikuro Magaki yang mendaki Gunung Atago di atas kuda tahun 1643, Taira mengemudikan Toyota BJ-nya ke kuil Fudo di kota Okasaki. Ini sekaligus dipakai sebagai promosi ketangguhan mobil segala medan ini. Tak lama berselang, Toyota Land Cruiser mulai menandingi dominasi Jeep Willys. Bahkan dengan model-model selanjutnya, Toyota Land Cruiser bisa diterima di pasar yang kala itu sulit ditembus yakni Amerika Utara. Lewat model ini, Toyota masuk ke pasar-pasar di berbagai belahan dunia, Termasuk di Indonesia yang dikenal sebagai sebagai Toyota Hardtop Land Cruiser FJ40/45. Di Afrika, model-model Toyota Land Cruiser ini digunakan sebagai Technical alias jip bersenjata yang dibekali senapan mesin ringan, berat atau bahkan senjata basoka tanpa tolak balik (Recoilless bazooka) dan diterjunkan sepanjang konflik-konflik bersenjata dengan kinerja sangat tangguh.

Toyota tidak hanya dikenal melalui Toyota Land Cruiser. Mereka juga mengembangkan model yang menjadi favorit dunia, sedan kecil. Lewat Corolla yang memulai debutnya pada tahun 1966, sedan mungil generasi awal ini memakai penggerak belakang mengubah tatanan sedan bongsor yang populer saat itu menuju arah sedan kecil yang kompak, irit dan ringkas. Memasuki tahun 1975, Corolla masuk dalam generasi ketiga dan terjual lebih dari 5 juta unit. Hal yang menakjubkan ini masih kokoh hingga sekarang. Mesin mobil Corolla ini kemudian digunakan di Indonesia sebagai mesin untuk kendaraan niaga keluarga serbaguna, Toyota Kijang generasi awal yang dikenal sebagai Kijang Buaya.

Sejalan makin mengglobalnya produk Toyota, mereka sadar tidak mempunyai grafik logo. Bahkan di Indonesia dijumpai kendaraan bermerk Toyota seperti Toyota Kijang dengan logo TOYOTA pada grill di bagian bonnet (hidung) mobil. Di tahun 1989 Toyota akhirnya memutuskan untuk membuat dua lingkaran oval (elips) yang menghasilkan huruf T dan ellips ketiga mengisyaratkan akan the spirit of understanding in design. Lingkaran ketiga itu sekaligus mengelilingi kedua lingkaran ellips sebelumnya yang berbentuk T itu sebagai bukti menjaga dan mempengaruhi sekelilingnya.

Di tahun 1990-an, Toyota semakin membuktikan bahwa mobil Jepang dapat bersaing dengan mobil Eropa dan Amerika. Toyota Celica berhasil menjadi juara rally dunia, dan Toyota Camry menjadi mobil paling laris di Amerika.

Sumber : kolom-biografi.

Sabtu, 25 Juni 2011

Biografi Bejo Rudiantoro

Ir. Bejo Rudiantoro, MM


Nama : Ir. Bejo Rudiantoro, MM
Lahir : Purworejo, 6 Juli 1966
Agama : Islam
Istri : Drg. Tjatur Indah Umara

Anak:
1. Sekar W. Wiridiana (13 tahun)
2. Anantama Kurnia Buana (10 tahun)
3. Aulia Sena Adipraja (5 tahun)
4. Tatya Anindya Ruci (3 tahun)

Pendidikan:
1. S1 Menejemen Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1990
2. S2 Magister Management STIE - IPWI Jakarta 1997

Aktivitas:
1992-Sekarang, Dirut PT. Juang Jaya Nusantara (Konsultan Management)
2003-Sekarang, Direktur PT. Alamjaya Makmur Sejahtera (Oil & Gas Services, IT)
2004-Sekarang, Dirut PT. Surya Langgeng Sejahtera (Perkebunan)

Organisasi:
2000-Sekarang, Pimpinan Yayasan Pelita Bangsa
2003-2005, Anggota Pokja Hukum, HAM, dan Lingkungan Hidup DPP Partai Golkar
2005-Sekarang, Wakil Sekjend DPP Ormas MKGR
2005-Sekarang, Sekjend (Plt) DPP GEMA Ormas MKGR
2005-Sekarang, Wakil Ketua Badan Informasi & Komunikasi (BIK) DPP Partai Golkar
2006-Sekarang, Anggota Dewan Pakar ICMI Bidang Pengembangan Prasarana Wilayah
   
Gamang Disebut Politisi

Menyandang predikat politisi, secara umum membuat banyak kader partai bangga. Namun bagi Bejo Rudiantoro, Wakil Ketua Pengurus Pusat (PP) Badan Informasi dan Komunikasi Partai Golkar, justru merasa gamang dan gundah disebut politisi. Itu dikarenakan imej politisi yang berkiprah di panggung perpolitikan nasional saat ini terkesan hanya bekerja untuk kepentingan pribadi, golongan, kelompok dan kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Memang tidak semua politisi seperti itu, namun secara umum penilaian, penglihatan, dan hasil evaluasi masyarakat mempersepsikan demikian, karena perilaku seperti itu dalam kenyataannya mewarnai kinerja para politikus Indonesia. “Perilaku inilah yang kemudian mengintrodusir stigma politik sebagai sesuatu yang kotor dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” kata pria kelahiran Purworejo ini.

Menurut saya, tambah lelaki kelahiran 6 Juli 1966 ini, hakikat politik bukanlah sesuatu yang kotor, tetapi luhur karena mempunyai peran dalam mengelola bangsa dan negara untuk mencapai cita-citanya, yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. “Cuma, politik menjadi kotor karena perilaku orang-orang yang bekerja dan bergelut di dunia politik, yang banyak diantaranya hanya berjuang untuk kepentingan diri dan kelompoknya,” tandasnya.

Berangkat dari Keprihatinan
Bejo Rudiantoro, pria berusia 40 tahun ini memasuki dunia politik setelah berhasil mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang konsultan perminyakan, perkebunan, dan teknologi informasi. Ini berbeda dengan teman-temannya yang menjadi pengusaha setelah memasuki dunia politik.

Ada yang sangat mengganjal dalam hatinya sejak masih duduk di bangku kuliah, di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), yakni perilaku berbagai kalangan dalam mengelola sumber daya alam di Indonesia, termasuk diantaranya pengelolaan kehutanan dan sumber daya lainnya.

Oleh karena itu, selepas dari bangku kuliah, Direktur PT. Alam Makmur Sejahtera ini mencoba berjuang dengan teman-temannya melalui pendirian sebuah Lembaga Kajian Pembangunan Kehutanan dan Lingkungan. Mereka membuat studi-studi tentang pengelolaan hutan yang kemudian menghasilkan rekomendási-rekomendasi untuk dikirim ke berbagai pihak, termasuk diantaranya Menteri Kehutanan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ini membuat direktur beberapa perusahaan ini berpikir untuk mencari wadah perjuangan yang baru.

Niat perjuangan ini semakin diperkuat dengan situasi ekonomi sosial masyarakat Indonesia yang tidak karu-karuan setelah memasuki era reformasi. “Saya harus berbuat sesuatu untuk republik ini,” tuturnya seraya menyatakan kesadarannya bahwa bila itu dilakukannya sendirian, akan sangat berat dan tidak ada gaungnya. “Katakanlah saya mengkritik kebobrokan republik ini tetapi hanya sekadar di meja makan, tidak akan pernah ada artinya,” kata suami Drg. Tjatur Indah Umara ini.

Menjawab pertanyaan, mengapa memilih partai politik sebagai wadah perjuangan, pria yang memulai karir polititik di Pokja Hukum, HAM, dan Lingkungan Hidup DPP Partai Golkar ini, menyatakan karena partai politik adalah wadah konstitusional dan memiliki garis perjuangan yang kongkrit. Dengan posisi garis perjuangan seperti itu membuat setiap orang merasa nyaman dan tidak ragu-ragu berorganisasi dalam partai. Dengan garis perjuangan itu pula, setiap kader akan mengetahui apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dikerjakan.

Golkar Pilihan Terakhir
Setelah memikirkan dan menghitung-hitung berbagai wadah perjuangan yang akan digunakannya, akhirnya ia memilih partai politik dan ormas. ”Kita harus menyalurkan kritik-kritik itu secara kontitusional serta konstruktif, dan itu bisa kita lakukan di partai politik,” kata ayah Sekar W. Wiridiana (13 tahun), Anantama Kurnia Buana (10 tahun), Aulia Sena Adipraja (5 tahun), dan Tatya Anindya Ruci (3 tahun) ini.

Namun setelah memilih partai politik dan ormas sebagai wadah perjuangan, perenungannya tidaklah berarti sudah selesai. Permasalahan yang muncul kemudian, partai politik mana yang harus dipilihnya. Ini sedikit membingungkan bagi Bejo Rudiantoro di tengah-tengah banyaknya partai politik pasca reformasi di Indonesia.

Jika bertitik tolak dari garis politik keluarga, peraih gelar insiniur tahun 1990 ini, seharusnya langsung memilih Partai Golkar. Karena, sang ayah merupakan kader tulen Golkar dan pendiri Sekretariat Bersama Golkar Purworejo, bahkan pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Purworejo. “Namun ayah saya memberi kebebasan bagi setiap anak-anaknya untuk memilih garis politik yang diinginkan masing-masing. Jadi saya tetap dituntut untuk memilih yang terbaik bagi saya,” katanya sembari menyatakan bahwa diam-diam ayahnya tetap berharap Rudiantoro memilih Partai Golkar.

Setelah mempelajari dan membandingkan satu persatu partai politik yang sempat dinominasikannya, ia menyimpulkan bahwa ia harus memilih partai politik yang tidak membeda-bedakan kadernya. “Saya melihat, kalau bukan ‘darah biru’ di Nahdatul Ulama, kemungkinan besar tidak akan dapat menjadi tokoh sentral di PKB. Demikian juga dengan PAN, kalau bukan anggota Muhammadiyah sangat sulit menjadi tokoh utama PAN. Kalau bukan aktivis-aktivis di Masjid, sangat sulit menjadi pimpinan di Partai Keadilan Sejahterah (PKS),” tutur Direktur Utama PT. Juang Jaya Nusantara ini.

“Sebelum memilih Partai Golkar, saya sempat bersinggungan lebih dahulu dengan partai-partai lain. Dalam arti, berkomunikasi dengan kader-kader mereka, baik kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan termasuk Partai Golkar,” katanya dengan mengakui bahwa garis perjuangan dan platform Partai Golkar sejalan dengan garis perjuangannya.

Partai Golkar merupakan partai nasionalis yang memungkinkan semua komponen-komponen anak bangsa bisa berkompetisi dengan sehat, berkarya dan berkarir di situ. “Saya tidak melihat ada iklim seperti ini di partai-partai lain,” tandas peraih Magister Management tahun 1997 tersebut.

Perpolitikan Nasional dan Kader Partai
Menyikapi sikap skeptis masyarakat terhadap politik dan orang-orang yang bekerja di dalamnya, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (DPP Ormas MKGR) ini menyatakan, stigma itu akan terus melekat sepanjang perilaku para politisi berjuang untuk kepentingannya sendiri. Itu jugalah yang mempengaruhi buruknya iklim perpolitikan nasional.

“Untuk mengubah stigma yang menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor, maka perilaku para politisi yang mendahulukan kepentingan pribadi, golongan, dan kelompok harus berubah,” tutur Direktur PT. Alamjaya Makmur Sejahtera yang bergerak di bidang Oil & Gas Services dan Information Technologi ini.

Dalam melakoni peran, para politisi seharusnya mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan kelompok. Kepentingan bangsa dan negara seharusnya menjadi garis perjuangan bagi semua partai politik dan kader-kadernya. Oleh karena itu, setiap kader partai politik harus berani mengkritisi partainya jika menempuh garis kebijakan yang berbeda dari platform kepentingan bangsa dan negara.

“Sebagai contoh, saya memang anggota Partai Golkar, tetapi partai saya yang sesungguhnya adalah partai Indonesia. Golkar bagi saya bukan tujuan tetapi merupakan kendaraan untuk meraih tujuan-tujuan bersama, yang tidak terlepas dari kepentingan bangsa dan negara,” tutur Sekretaris Jenderal (Plt) Dewan Pimpinan Generasi Muda Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Gotong Royong (DPP GEMA Ormas MKGR) ini.

Stigma politik yang kotor, menurut Direktur Utama PT. Surya Langgeng Sejahtera yang bergerak di sektor perkebunan ini, berkaitan erat dengan kualitas sumber daya kader partai politik. ”Jadi permasalahan pokoknya adalah bagaimana sebaiknya partai politik membangun kader-kadernya,” tuturnya.
Lebih jauh Anggota Dewan pakar ICMI Bidang Pengembangan Prasarana Wilayah ini menjelaskan, ujung tombak dan kader-kader partai politik akan menjadi penentu citra partai menjadi baik atau buruk. Partai Politik akan mendapat penilaian yang baik dari masyarakat bila kader-kadernya berperilaku baik. ”Ini menjadi tanggung jawab yang besar bagi partai politik dalam membangun sistem dan mekanisme rekruitmen kader yang sehat, sehingga mampu mendorong kinerja perpolitikan nasional yang lebih baik,” tandasnya.

Penggagas Nasonalisme Baru Indonesia
Sepintas, tidak terlihat ada perbedaan Bejo Rudiantoro dengan teman seprofesinya, sebagai seorang eksekutif. Namun setelah berbincang dengan pria yang selalu tampil bersih ini, akan segera terlihat perbedaan dirinya dengan eksekutif-eksekutif lainnya. Bagaimana tidak, pria bertubuh langsing ini ternyata tidak hanya memikirkan bagaimana mengembangkan usaha yang dipimpinnya agar menjadi perusahaan besar hingga konglomerasi.

Akan tetapi pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah ini, juga memikirkan perjuangan untuk membesarkan bangsa dan Negara Indonesia yang sangat dicintainya. Sosok ini tentu menjadi sangat berbeda dengan kebanyakan kalangan eksekutif lainnya yang hanya memikirkan profit, hingga tidak sempat memikirkan hal-hal lain di luar bisnis, terlebih urusan bangsa dan Negara.

Wartawan majalah Berita Indonesia yang pernah bertemu dalam satu acara dengan lelaki berusia 42 tahun ini, meminta penulisan profilnya dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2006 yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Majalah Berita Indonesia ingin mengetahui dan mendiskusikan pikiran-pikirannya tentang masa depan bangsa dan Negara Indonesia.

Degradasi Nasionalisme
Saat ditemui di ruang kerjanya yang asri di Menara Kebon Sirih, Jakarta, pria lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) ini langsung menyatakan keresahanya terhadap masa depan Indonesia yang saat ini tengah menghadapi krisis nasionalisme. Pemikiran inilah yang membedakan Bejo Rudiantoro dengan pelaku bisnis lainnya. Ditengah-tengah kesibukannya memimpin beberapa perusahaan, pria yang masih tergolong muda ini, ternyata masih mensisakan waktunya untuk memikirkan kelangsungan hidup bangsa dan Negara yang dicintainya.

“Krisis nasionalisme yang tengah mencengkram masyarakat Indonesia saat ini merupakan tantangan besar, yang bila gagal dihadapi, akan berakibat sangat buruk bagi eksistensi bangsa Indonesia sebagai salah satu negara di tengah-tengah pergaulan dunia internasional,” ungkap Direktur PT. Alamjaya Makmur Sejahtera ini, seraya menolak pembenaran atas degradasi nasionalisme sebagai hal yang wajar dalam era globalisasi dewasa ini.

“Era globalisasi tidak seharusnya menjadi alat pembenaran bagi degradasi nasionalisme. Bahkan harus sebaliknya, globalisasi yang berpotensi membonceng kepentingan berbagai kalangan, khususnya kalangan multinational corporate (MNC), harus semakin diwaspadai dengan memperkuat nasionalisme,” tutur pria peraih gelar Magister Managemen pada tahun 1997 ini.

Bagi suami drg. Tjatur Indah Umara ini, bagaimanapun magnitut yang dibangun dalam globalisasi, tetap harus diwaspadai. “Globalisasi ibarat pedang bermata dua. Pada satu sisi membawa tantangan, walaupun pada sisi yang lain membawa berkah,” jelas direktur PT. Juang Jaya Nusantara ini.

Kita, tambah laki-laki yang juga memimpin PT. Surya Langgeng Sejahtera, seperti terlena dengan berkah globalisasi dan tidak menyadari tantangan besar yang dibonceng globalisasi itu. ”jika kita tidak memiliki nasionalisme yang kokoh melakoni globalisasi ini, berarti kita tengah berada dalam ancaman neo kolonialisme atau penjajahan dalam bentuk yang berbeda dengan penjajahan di abad ke-19 atau kita memang sudah berada di dalam cengkaram neo kolonialisme itu tanpa kita sadari,” tutur lelaki yang bergelut di ormas kepemudaan ini.

Peran Generasi Muda
Sebagai jiwa, tutur pria yang akrab disapa dengan panggilan “Pak Rudi” ini, spirit nasionalisme berperan menjadi sumber daya energi untuk menggerakkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, paham nasionalisme seharusnya tetap kuat mengiringi perjalanan sebuah Negara, kapan dan dalam kondisi apapun. “Apa jadinya sebuah Negara tanpa nasionalisme? Itu sama halnya dengan sebuah tubuh tanpa jiwa, yang pada akhirnya akan mati” katanya.

Saat ditanya, parameter apa yang digunakan untuk mengukur kuat lemahnya nasionalisme sebuah bangsa atau sebuah masyarakat, Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Muda Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (GEMA-Ormas MKGR) ini mengukurnya dari penempatan kepentingan bangsa dan negara oleh warganya.

Kalau kepentingan bangsa dan negara ditempatkan di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, maka nasionalisme di negara itu adalah kuat. Sebaliknya, bila kepentingan pribadi, kelompok atau golongan didahulukan dari kepentingan bangsa dan negara, maka nasionalisme bangsa itu sudah hancur.

“Kita sendirilah yang menelisik, di mana kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok atau golongan, serta kepentingan bangsa dan negara kita tempatkan. Lalu, kita sendiri akan dapat menjawab sekuat atau selemah apa nasionalisme kita,” tutur Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini

Lelaki yang menjadi ayah empat anak, dua putra Anantama Buana Putra dan Aulia Sena Adipraja, serta dua putri Sekar W. Wiridiana dan Tatya Anindya ini mencontohkan perilaku KKN, perebutan kekuasaan, konflik, kekerasan, dan persoalan-persoalan yang kerab mengganggu ketenangan masyarakat juga dapat menjadi titik tolak dalam mengukur tingkat nasionalisme.

Wakil Sekjen DPP Ormas MKGR ini memandang lemahnya semangat nasionalisme masyarakat Indonesia, merupakan ancaman yang sangat serius. Oleh karena itu momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2006 ini, harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi sejauh mana nasionalisme itu meredup dalam setiap jiwa masyarakat Indonesia.

Ironisnya, tambah Bejo Rudiantoro di kalangan generasi muda, semangat nasionalisme itu justru semakin menipis. “Apa jadinya Negara ini pada dua atau tiga dasawarsa mendatang, jika generasi muda bangsa ini tidak mempunyai nasionalisme yang kokoh. Kehancuran bangsa-bangsa di berbagai Negara, terjadi karena genarasi muda tidak mempedulikan tantangan yang dihadapi bangsanya sendiri. Maka, ketika ketiadaan nasionalisme itu memuncak, kehancuran bangsa itu menjadi Negara-negara kecil, tidak bisa dihindarkan lagi.

Kehancuran negara-negara yang terjadi di berbagai belahan dunia, sesungguhnya dapat dihindari jika generasi muda bangsa itu menyadari kehancuran negaranya tengah berproses. Jika mereka segera mengambil sikap dan mengobarkan kembali semangat nasionalisme, maka kehancuran bangsa itu akan dapat dipulihkan. Sebaliknya, kehancuran bangsa itu semakin lama semakin dalam bila generasi mudanya tidak peduli terhadap kenyataan bangsanya yang tengah berproses menuju kehancuran.

Nasionalisme Pengelola Negara
Proses kehancuran bangsa Indonesia terjadi ditengah-tengah keterpurukan moral dalam mengelola Negara. Selama puluhan tahun kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ditengarai perilaku pemerintah dan pengusaha yang kolutif, koruptif, dan nepotistik (KKN). Ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan (trust) terhadap pemerintah dan kalangan dunia usaha.

Idealisme kehidupan berbangsa dan bernegara, yang seharusnya mensejahterakan rakyat justru menyengsarakan di bawah hegemoni kolusi, korupsi, dan nepotisme. Sebagian anggota masyarakat tak lagi mempercayai negara sebagai wadah untuk mensejahterakan diri, karena dalam kenyataannya masyarakat terjebak dalam kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan biaya hidup yang setiap saat semakin tinggi.

“Ini merupakan embrio pertama kehancuran bangsa. Fenomena ini terus berproses dan semakin dalam di tengah-tengah kemunculan globalisasi sebagai peradaban baru dunia. Banyak warga Negara yang kemudian mengubah oriontasi kehidupannya dari nasionalisme menjadi internasionalisme atau globalisme,” tuturnya.

Ironisme kehidupan di banyak warga Negara terlihat jelas dari perspektif yang memandang globalisasi sebagai peradaban yang mampu memberi kesejahteraan. Perspektif ini mengakibatkan konsekuensi perubahan dalam memandang hubungan antara warga Negara dengan Negara itu sendiri. Jika sebelumnya sumber kesejahteraan berasal dari perikatan antara warga dengan Negara, maka sesudah terbentuknya globalisasi, sumber kesejahteraan tidak lagi dimonopoli Negara melainkan juga sudah dapat diperoleh dari globalisasi itu sendiri.

Dalam kondisi demikian, tutur Bejo Rudiantoro, hubungan antara seseorang dengan negaranya semakin renggang pada satu pihak, dan di pihak lain merapat dengan internasionalisme. Pada saat seperti ini kebanggaan bernegara tidak lagi dianggap penting, karena wadah untuk meningkatkan kesejahteraan ternyata tidak hanya bersumber dari kehidupan bernegara, tetapi juga dari kehidupan internasional. Ini merupakan ancaman yang sangat serius terhadap eksistensi Negara. Keberadaan negara sebagai wadah perjuangan bersama seluruh pendududuk untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dalam sebuah pemerintahan yang berdaulat, mulai digugat.

Tidak mengherankan, jika muncul fenomena di banyak Negara, yang ditandai dengan kehancuran semangat nasionalisme dan sebaliknya menguatkan semangat internasionalisme. Proses ini tentu berpotensi besar muncul ditengah-tengah pengelolaan Negara yang buruk oleh pemerintahnya.

“Harus kita pahami, tambahnya, nasionalisme tidak tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang sengsara. Nasionalisme hanya akan tumbuh jika masyarakat Negara itu hidup sejahtera dan bangga terhadap bangsanya sendiri dan pemerintah yang berkuasa,” kata lelaki yang berprofesi sebagai konsultan perminyakan ini.

Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan situasi yang sulit. Hal itu dapat kita lihat dari menggerusnya kebanggaan bernegara dan meningkatnya orientasi global masyarakat. Ini sesungguhnya dapat dimaklumi karena dalam kenyataannya kehidupan masyarakat justru semakin terpuruk.

Tentu fenomena ini merupakan kecelakaan besar bagi kelangsungan bangsa Indonesia ditengah-tengah perubahan, baik yang berskala nasional maupuan internasional, yang tidak berpihak kepada Indonesia. Reformasi yang sebelumnya dipandang sebagai jalan keluar dari buruknya pengelolaan Negara oleh pemerintahan sebelumnya, ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana yang dieluk-elukkan sebelumnya.

Pemerintahan pasca reformasi juga belum terlihat membawa angin segar dan harapan akan membaiknya kesejahteraan masyarakat. Yang malah terlihat justru keadaan yang terbalik dari harapan masyarakat. Kesejahteraan yang diharapkan akan datang pasca reformasi justru berubah menjadi keterpurukan, pemiskinan, ketiadaan lapangan kerja dan masa depan yang tidak menentu.

Bangkitkan Kembali Semangat Nasionalisme
Nasionalisme, dalam realitasnya merupakan alat yang digunakan sebuah bangsa untuk mempertahankan diri dari perpecahan. Jika pada awalnya perpecahan Negara ditengarai serangan dari luar maka pada saat ini lebih banyak ditengarai perpecahan dari dalam Negara itu sendiri.

“Kenapa Papua atau Maluku ataupun Aceh bergolak dan menyatakan keinginannya memisahkan diri dari NKRI. Jawabannya adalah bahwa mereka tidak lagi bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jika ada pertanyaan berikutnya, kenapa mereka tidak bangga, maka jawabannya adalah karena mereka tidak merasa sejahtera sebagai bagian dari NKRI. Oleh karena itu mereka merasa, akan hidup lebih sejahtera jika melepaskan diri NKRI dan menjadi Negara yang berdiri sendiri,” tuturnya.

Jadi, tidak hanya Papua, Maluku, atau Aceh, daerah-daerah lain juga bisa menuntut hal yang sama, melepaskan diri dari NKRI. Lalu jalan keluar apa yang harus diupayakan untuk menghindari perpecahan ini. Satu-satunya adalah membangun nasionalisme disetiap jiwa masyarakat Indonesia termasuk dikalangan pemerintah dan aparatur pemerintahan dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, kalangan elit politik dan kader-kader partai politik, pengusaha dan para professional, hingga masyarakat bawah.

Pengertian nasionalisme dalam hal ini adalah pandangan dan perilaku yang mengedepankan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi, golongan, atau kelompoknya. “kehancuran nasionalisme ditengah-tengah masyarakat Indonesia terjadi karena sebagian anggota masyarakatnya lebih mendahulukan kepentingan pribadi, kepentingan golongan, dan kelompoknya sendiri dan untuk mendapatakan kepentingan itu adalah dengan mengorbankan kepentingan bangsa dan Negara,” tuturnya.

Lebih lanjut B. Rudianto mencontohkan perilaku KKN di lingkungan birokrasi dan dunia usaha merupakan wujud nyata penghancuran semangat nasionalisme. Perilaku itu telah mengakibatkan segelintir orang menjadi kaya raya sementara jutaan bahkan ratusan juta masyarakat lainnya menjadi lebih sengsara.

Sumber daya pembangunan dan penyejahteraan masyarakat yang dikorupsi para penyelenggara Negara dan pelaku usaha telah mengakibatkan mereka kaya raya, sementara masyarakat lain yang seharusnya menikmati pembangunan tidak lagi merasakan nya, hingga mereka semakin miskin.

Sumber : tokoh-indonesia

Jumat, 24 Juni 2011

Biografi M Aziz Syamsuddin



Nama Lengkap : H.M. Aziz Syamsuddin, SE., SH., MH., MAF.
Lahir          : Jakarta, 31 Juli 1970
Agama : Islam
Nama Istri : Hj. Nurlita Zubaedah
Nama Anak :

1. Syafira Harum Syamsudin (8 tahun)
2. Karim Nugroho Syamsuddin (7 tahun)
Nama Ayah : H. Syamsuddin Rahim
Nama Ibu : Hj. Chosiah Hayum

Jabatan Sekarang:
- Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR-RI (Periode 2004-2009) dari Daerah Pemilihan II Provinsi Lampung (Kabupaten Lampung Tengah, Kota Metro, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Way Kanan).
- Koordinator Hubwil Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, dan ...) FPG DPR-RI.
- Anggota Komisi III (Bidang Hukum, Perundang-undangan, & Keamanan) DPR-RI.
- Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI.
- Anggota Tim 7 Pencari Fakta Kasus Munir DPR-RI.
- Anggota Kaukus 21 (Gabungan Anggota DPR-RI dan DPD-RI Periode 2004-2009 dari Provinsi Lampung).
- Anggota Panitia Khusus (Pansus) Konflik Poso DPR-RI.
- Anggota Pansus Pembahasan RUU tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2005 tentang Penangguhan Berlakunya UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Menjadi UU.
- Anggota Pansus Pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.

Riwayat Pendidikan:
- Sedang Menyusun Desertasi Program Doktoral (S-3) Bidang Hukum Pidana, di Universitas Padjadjaran, Bandung (2004-sekarang).
- Meraih gelar Magister Hukum (MH) (S-2) Spesialisasi Hukum HAM, di Universitas Padjadjaran, Bandung (2001-2003).
- Meraih gelar Master of Applied Finance (MAF) (S-2) Spesialisasi Keuangan dan Pasar Modal, di University of Western Sydney, Napean, Australia (1996-1998).
- Meraih gelar Sarjana Hukum (S-1), Universitas Trisakti, Jakarta (1990-1994).
- Meraih gelar Sarjana Ekonomi (S-1), Universitas Krisnadwipayana, Jakarta (1990-1994).
- SMA Negeri 2 Padang, Sumatera Barat (1986-1989).
- SMP Negeri 3 Tegalboto, Jember, Jawa Timur (1983-1986).
- SD Negeri 3 Patrang, Jember, Jawa Timur (1977-1983)

Pengalaman Pekerjaan:
- Pendiri & Pimpinan Kantor Advokat SYAM&SYAM, Jakarta (2004-Sekarang).
- Magang, Advokat, Assosiate, Partner, dan Managing Partners pada Kantor Advokat Gani Djemat & Partners, Jakarta (1994-2004).
- Officer Development Program (ODP) VII pada PT. Panin Bank, Jakarta (1993-1994).
- Konsultan PT. AIU Insurance, Jakarta (1992-1993)

Pengalaman Organisasi:
- Wakil Sekretaris DPD I Partai Golkar Provinsi Lampung.

- Anggota Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Advokat Indonesia (DPP AAI) Periode 2000-2005.
- Anggota Departemen Hukum Lembaga Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
- Penasehat DPD II Partai Golkar Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.
- Anggota Badan Bantuan Hukum, HAM, dan Lingkungan Hidup DPP Partai Golkar.
- Sekretaris Umum Ikatan Alumni Fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta.
- Anggota Klub Motor HOG (Harley Owners Group), Jakarta.
- Anggota International Bar Association (IBA), Jakarta.
- Anggota Kosgoro 1957.
- Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta.
- Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta.
- Anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta.

Alamat Kantor:
- DPR/MPR-RI Gedung Nusantara I Lantai R. 1028 28, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270. Telp. (021) 5755232
- Jl. Petogogan I/35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12160.

E-Mail:
syam35@indosat.net.id
 
 
BIOGRAFI

- Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ? Thank you for visiting the experience site  ? NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM  ? Biografi Jurnalistik   ? The Excellent Biography  ? Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ? Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia?  ? Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ? Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ? Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ?

BIOGRAFI:

Politisi Lintas Profesi

Dia politisi muda berwawasan lintas profesi. Meski masih muda Aziz Syamsuddin sudah menekuni beberapa profesi, mulai dari bankir, advokat sampai anggota DPR-RI. Namun dalam aneka profesi itu, dia selalu konsisten untuk menempatkan diri in lining dengan level ground basic-nya di bidang keuangan dan hukum.

Karier politik pria kelahiran Jakarta, 31 Juli 1970, bernama lengkap HM Aziz Syamsuddin, ini tergolong luar biasa. Masih muda dan baru pertama kali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2004, penyandang empat gelar SE, SH, MH, MAF, ini langsung mendapat kepercayaan besar dari rakyat.

Lebih luar biasanya lagi, Aziz Syamsuddin melenggang ke Senayan (istilah popular untuk Gedung DPR/MPR-RI yang berlokasi di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat) sebagai anggota DPR-RI periode 2004-2009, dengan meraup dukungan sebesar 46, 261 suara (11, 30 % dari total suara pemilih).

Pada Pemilu Legislatif 2004, peraih gelar Master Applied Finance (MAF) dari University of Western Sydney, Australia (1998) ini menempati nomor urut dua untuk Daerah Pemilihan (Dapil II) Provinsi Lampung dari Partai Golkar.

Dapil II Lampung meliputi Kabupaten Tulang Bawang, Kota Metro, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Lampung Utara, dan Kabupaten Lampung Tengah.

Begitu mengetahui dirinya terpilih sebagai wakil rakyat, perasaan bahagia dan bangga tentu saja membuncah di dadanya.

“Alhamdulillah, berkat kehendak Allah SWT, saya mendapatkan kepercayaan masyarakat Lampung sebagai anggota DPR untuk periode 2004-2009,” ungkap Aziz.
Namun, seiring dengan itu, pria penggemar olah raga joging, treadmill, dan golf ini mengaku, perasaan was-was sempat mendera jiwanya.

Pertanyaan retoris, “apakah saya mampu menjaga amanah dan memperjuangkan apirasi rakyat Lampung yang telah memilih saya pada Pemilu 2004 lalu?”, menurutnya, senantiasa mengiringi setiap tuturan dan tindakannya sebagai wakil rakyat.

Penyandang Magister Hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung, ini selalu menanamkan dalam batinnya: dia harus mau dan mampu menjaga dan memperjuangkan amanah rakyat yang memilihnya, dan semoga kehendak rakyat dan kemauannya mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Kesuksesan seorang Aziz Syamsuddin tak lepas dari kegandrungannya untuk tak henti-hentinya memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan, yang diperolehnya dari jalur pendidikan.

Belajar itu hukumnya wajib, tanpa dibatasi ruang dan waktu, sejak dari buaian ibunda hingga akhirnya maut menjemput dan jasad dimasukkan ke liang lahat.

Kemauan besar untuk terus belajar merupakan syarat mutlak dari kesuksesan. Setiap ada kesempatan, dia selalu belajar dan belajar. Sejumlah gelar yang tertera di belakang namanya merupakan indikasi betapa gemarnya seorang Aziz menyerap ilmu pengetahuan.

Apalagi, dia selalu meyakini bahwa Allah SWT memberikan kebebasan kepada umat-Nya untuk memperbanyak ilmu pengetahuan, sampai-sampai ada pesan ilahi: “Tuntutlah ilmu bahkan sampai ke negeri Cina”.

Berangkat dari motivasi spiritual itulah, Aziz Syamsuddin memperdalam ilmu ekonomi (S-1 dan S-2) dan ilmu hukum (S-1, S-2, dan S-3) sebagai bekal dirinya mengaktualisasikan diri.

Dan, konsekuen dengan basis keyakinan tersebut, dalam mengaktualisasikan diri di dunia politik praktis dan bisnis, Aziz mendayagunakan segenap kapasitas wawasan dan talentanya di bidang applied finance dan hukum.

“Berbekal prinsip dan semangat itu, saya akan berjuang agar pendidikan dasar di negeri ini digratiskan sehingga tidak ada lagi rakyat yang buta huruf,” cetus kandidat doktor (S-3) pada Program Pascasarjana, Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, yang tengah menyusun tesis bertema: “Tinjauan Yuridis Lokalisasi Judi dari Perspektif Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang”, ini.

Aziz berpandangan, walaupun bergiat di pentas politik dan di dunia bisnis, seseorang mesti memiliki wawasan legal ground basic atau basis keahlian yang memadai. Tanpa dasar yang kuat, orang akan kehilangan arah.

Bila seseorang yang memutuskan untuk berkecimpung di dunia bisnis, politik, atau organisasi tidak mempunyai keahlian dasar yang kuat, atau talenta yang andal, di bidang-bidang yang digeluti tadi maka pekerjaan yang dilakoninya relatif tidak akan memberikan hasil maksimal karena sifatnya trial and error.

Walaupun hal itu tidak bisa digeneralisasi secara kaku, sebab setiap orang memiliki keberuntungan (fortune) berbeda-beda satu sama lainnya, namun keberuntungan diri sendiri haruslah bersifat terukur.

Maksudnya, diri harus bisa menakar sejauh mana peluang target-target yang ditetapkan dapat tercapai dengan mendasarkan pada besaran kapasitas keilmuan dan talenta yang dimiliki.

“Bila kita mengharapkan datangnya keberuntungan itu dan menganggapnya hanya sebagai keajaiban tangan Tuhan, tanpa ada ikhtiar sama sekali, itu merupakan sikap yang sangat fatal dan justru membahayakan diri sendiri,” ungkap Aziz berargumen.

“Kita juga memang tidak bisa mengesampingkan adanya faktor kekuasan tangan Tuhan yang niscaya sifatnya. Sekuat apapun kita berusaha, bila Tuhan memutuskan tidak, maka tidak. Tapi tanpa usaha yang terukur, Tuhan pun tidak akan mengabulkan doa dan permohonan kita. Tidak ada ceritanya, orang yang hanya duduk-duduk santai bisa sukses.”

Aktivitas berzikir atau mendekatkan diri secara ikhlas kepada Tuhan cenderung dijalankan pada malam hari. Sangat jarang dilakukan pada siang hari sebab pada siang hari itu harus diisi dengan bekerja dan berusaha secara nyata.

Aktualisasi Diri Berbasis Keilmuan
Setelah berkantor di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Aziz juga diberi kepercayaan oleh Partai Golkar menjadi Koordinator Hubungan Wilayah (Hubwil) Sumatera dalam struktur kepengurusan Fraksi Partai Golkar DPR-RI.

Dengan jabatan itu, Aziz bertanggung jawab melakukan koordinasi seluruh anggota DPR dari Partai Golkar yang berasal atau mewakili enam provinsi: Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Riau.
Secara eksternal, Aziz ditugaskan partainya bergabung ke Komisi III DPR yang membawahi bidang Hukum, Perundang-undangan, dan Keamanan.

Dia terima dan jalani tugas tersebut dengan sepenuh hati tanggung jawab, dan suka cita. Dia tidak menemui kesulitan sama sekali bertugas di Komisi III karena kebetulan bidang yang dibawahi sangat berkaitan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman praktisnya selama ini, yakni ekonomi dan hukum.

Dalam menjalankan tiga fungsi utamanya: pengawasan (controling), penetapan anggaran (budgeting), dan penyusunan perundang-undangan (legislation), Komisi III bermitra kerja dengan banyak instansi dan lembaga pemerintah yang berkaitan dengan bidang-bidang hukum, perundang-undangan, dan keamanan.

Sebut saja, antara lain, Departemen Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung RI, Kepolisian RI, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Nasional HAM, Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Hukum Nasional, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan, dan Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Segenap pengetahuan dan wawasan ekonomi dan hukum yang dimilikinya ternyata sangat bermanfaat dan menunjang kinerjanya sebagai anggota Dewan.

Misalnya, dalam hal proses pembuatan undang-undang dan dalam pelaksanaan fungsi pengawasan kepada mitra-mitra kerja Komisi III, karena memiliki basis pengetahuan dan pemahaman yang kuat, dia mengaku dapat mengerti teknis permasalahan dan aturan main yang melingkupi mitra-mitra kerja Komisi III.

Sekadar contoh, ketika menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja Polri, salah satu mitra Komisi III yang membawahi bidang keamanan, dia mengetahui bagaimana hukum beracara di kepolisian.

Pengalaman praktisnya sebagai advokat atau pengacara membuatnya sangat memahami apa dan bagaimana ketentuan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Dari segi ekonomi, katakanlah mengenai persoalan pasar modal, Aziz memiliki basis keilmuan di bidang applied finance. Tak hanya itu. Dunia pasar modal juga sangat berkaitan dengan aspek hukum, bukan melulu teknis ekonomi.

Meski sebagai anggota legislatif, dia merasa tetap dapat mengkritisi berbagai kebijakan pasar modal yang ditetapkan dan diterapkan pemerintah, baik dari perspektif ekonomi maupun dari sudut pandang hukum, dengan pendekatan fungsi pengawasan dan fungsi legislasi (perundang-undangan) DPR.

Misalnya, bila terjadi permasalahan insider trading atau money laundering (tindak pidana pencucian uang) di pasar modal, yang notabene bersinggungan dengan aspek hukum, dia tetap mampu menyikapinya, mengkritisinya, dan mengemukakan pandangan dan argumentasinya dari perspektif hukum.

Singkatnya, pilihan Aziz untuk bergabung di Komisi III sangat tepat karena segenap persoalan dan sebagian besar instansi/lembaga pemerintah yang menjadi mitra kerja Komisi III berhubungan erat dengan konstelasi hukum, yang bisa dia soroti berbekal basis pengetahuan dan pengalaman hukum yang dia peroleh dari jalur pendidikan serta aktivitas profesi.
Dia berpandangan, lebih baik mengawasi atau mengkritisi kinerja pihak-pihak lain dengan ukungan basis keilmuan dan pengetahuan yang memadai.

Sehingga, pada gilirannya, dia dapat mengontrol bagaimana satu aturan main yang telah disepakati bersama idealnya diberlakukan. Dengan demikian, dia sudah punya parameter baku dalam melaksanakan fungsi pengawasan.

Sebaliknya, jika bergabung ke komisi-komisi lain, yang mengurusi bidang-bidang di luar basis keilmuan dan pengetahuan yang dia miliki (hukum dan keuangan), maka Aziz sangat menyadari konsekuensinya: dia harus mereka-reka lagi dan praktis belajar dari nol kembali bidang-bidang tersebut.

Karena itulah, ketika ada proses pemilihan komisi di tubuh Fraksi Partai Golkar, Aziz Syamsuddin cenderung memilih Komisi III (bidang hukum) atau Komisi XI (bidang keuangan) sebagai wujud konsistensi untuk menjadi seorang politikus yang berwawasan profsional.

Selaras dengan konsistensi sikapnya itu Aziz pun dipercaya sebagai anggota Departemen Hukum Lembaga Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar.

Bisnis Berorientasi Profesional
Di setiap interaksi sosialnya baik dalam kehidupan bermasyarakat, beroganisasi, maupun berpolitik, Aziz Syamsudin senantiasa berorientasi profesional selaras dengan dasar keilmuan yang dimilikinya (hukum dan finance).
Dalam dunia bisnis pun, dia hanya mau menggeluti bidang bisnis yang in line dengan pijakan ilmu finance-nya.

Dia tidak akan mau berbisnis di bidang teknologi informasi (information technology/IT), misalnya, karena tidak mengerti dan tidak mempunyai pengetahuan ihwal seluk-beluk IT.

Tapi, untuk usaha di bidang konsultan hukum, pasar modal, atau sekuritas, dia mau dan mampu berkecimpung di sana.

Misalnya, dia bisa mengukur berapa fluktuasi nilai uang dan nilai pasar, serta bisa memprediksi berapa keuntungan yang dapat dicapai dari pengukuran tersebut. Walaupun hal tersebut tidak bisa diukur secara persis berdasarkan rasio, tapi paling tidak dia punya tolok ukur atau kriteria dalam melakukan prediksi terhadap trend pasar. Ada sejumlah faktor yang bisa dikategorisasikan. Spektrumnya bisa ditentukan.

Sumber : tokoh-indonesia

Kamis, 23 Juni 2011

Biografi H. Irman Gusman, SE, MBA



Nama : H. Irman Gusman, SE, MBA
Lahir           : Padangpanjang, 11 Februari 1962
Agama : Islam
Ayah : Ayah Drs. H. Gusman Gaus
Ibu    : Hj. Janimar Kamili
Istri           : Liestyana Rizal, lahir di Makassar 13 Oktober 1964
Anak :

1. Irviandari Alestya Gusman
2. Irviandra Fathan Gusman
3. Irvianjani Audria Gusman

Pendidikan :

- SD Negeri 58 Padang, 1973
- SMP Negeri 3 Padang, 1976
- SMA Negeri 2 Padang, 1979
- S-1, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE-UKI) Jurusan Ekonomi Perusahaan, 1985
- S-2, Master of Business Administration (MBA) Majoring in Marketing School of Business University of Bridgeport, Connecticut, AS, 1987

Pengalaman Kerja :

- Komisaris Utama PT Padang Industrial Park (PIP)
- Komisaris Utama PT Khage Lestari Timber
- Komisaris Utama PT Sumatera Korea Motor
- Komisaris PT Abdi Bangsa, Tbk 2000-2002
- Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa
- Pemipin Umum Harian ‘Mimbar Minang’
- Komisaris Utama PT Guthri Pasaman Nusantara
- Komisaris Utama PT Kopitime DotCom, Tbk
- Pendiri Koperasi Equatorial Minang Media

Pengalaman Politik:
- Anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Barat, 1999-2004
- Wakil Ketua Fraksi Utusan Daerah MPR RI, 2002-2004
- Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009

Pengalaman Organisasi:
- Penasehat Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Propinsi Sumatera Barat, 2000-2005
- Dewan Pakar Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2000-2005
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
- Wakil Ketua Bidang Pemasyarakatan Bulutangkis Pengurus Besar PBSI 2001-2004
- Dewan Pakar Gebu Minang, 1999-2003
- Wakil Ketua Bidang Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Hutan (APHI), 1998-2003
- Wakil Ketua Forum Komunikasi Usahawan Serantau (FOKUS)
- Ketua Yayasan Amal Bhakti Mukmin Indonesia (Albani)
- Ketua SekolahTinggi Ilmu Manajemen dan Komputer (STMIK), Padang
- Ketua Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi (LP2E) Hipmi Pusat
- Anggota/Pengurus Kamar Dagangdan Industri Indonesia (Kadin)
- Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat 2002-2005

Kegiatan Internasional:
- Menghadiri pertemuan tahunan para pemimpin dunia World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, serta New Asian Leader dan East Asia Economic Summit
- Anggota International Business Advisory Council (IBAC) pada Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO), berkedudukan di Lausanne, Geneva, Swiss.

Alamat Rumah:
Jalan Kuricang Raya No. 1, Depan Komplek DPR, Bintaro Jaya Sektor IIIA, Jakarta Selatan
Jl Akasia No 4 Danau Teduh Padang, Sumatera Barat.
Alamat Kantor:
Gedung Arthaloka Lt. 16, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 2, Jakarta

Irman Gusman
Pengusaha Pejuang Daerah

Suku Minangkabau sejak lama adalah salah satu ‘lumbung’ nasional penghasil politisi dan negarawan terkemuka. Salah seorang, Irman Gusman, pengusaha, politisi dan negarawan muda usia berpandangan jauh ke depan. Pria kelahiran Padang Panjang 11 Februari 1962, ini adalah salah seorang pejuang kesetaraan daerah dan pusat. Mantan Wakil Ketua Fraksi Utusan Daerah (F-UD) MPR RI 2002-2004, ini terpilih menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009.

Meniti karir dari bawah sebagai usahawan sukses, era reformasi mencetuskan keterpanggilan jiwa-batin Irman untuk terlibat langsung memperbaiki nasib dan masa depan bangsa. Fraksi TNI/Polri DPRD Sumatera Barat di tahun 1999 mempercayainya sebagai Utusan Daerah untuk duduk di lembaga tertinggi negara MPR RI. Di lembaga itu secara perlahan namun pasti Irman Gusman mulai terlibat intens mempersiapkan cetak biru wajah perpolitikan baru masa depan lewat sejumlah amandemen konstitusi.

Sebagai pengusaha yang piawai mengadakan lobi-lobi bisnis Irman Gusman begitu lincah bergerak memperjuangkan aspirasi yang dititipkan oleh daerah Sumatera Barat untuk diperjuangkan di tingkat nasional. Aspirasi itu adalah menempatkan setiap kepentingan daerah selalu dalam perspektif nasional. Itu berarti kepentingan dan aspirasi daerah yang diperjuangkan Irman Gusman sejatinya adalah sama dan sebangun dengan perjuangan dan aspirasi setiap daerah-daerah lain yang, akhirnya terakumulasi sebagai aspirasi nasional sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan UUD ’45 yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Irman awalnya memprakarsai pembentukan Fraksi Utusan Daerah (F-UD) MPR, yang beranggotakan 53 orang sebagai alat kelengkapan Majelis untuk bisa dimanfaatkan bersuara lantang memperjuangkan aspirasi dan kepentingan daerah.

Wajah yang simpatik, tatapan mata yang teduh, tutur kata yang runtut, sistematis, berbobot, dan jelas arah, serta ditopang tubuh atletis yang dibalut penampilan rapi pakaian lengkap berdasi dan jas membuat Irman suami dari Liestyana Rizal dengan mudah bisa meyakinkan lawan bicara.

Di kalangan politisi Senayan ayah tiga orang anak Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman segera saja dikenal sebagai pelobi ulung yang berpotensi mewarnai penuh wajah pentas perpolitikan nasional. Irman bahkan berani merogoh kocek untuk mengumpulkan sejumlah politisi di hotel-hotel mewah agar keputusan lobi yang dihasilkan berkualitas sekaligus berguna menyelesaikan sejumlah persoalan bangsa.

Lobi-lobi yang digulirkan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE-UKI) Jurusan Ekonomi Perusahaan tahun 1985 antara lain berhasil menggolkan pembentukan Fraksi Utusan Daerah (F-UD) MPR di tahun 2001, setelah sebelumnya tahun 2000 sempat dibekukan.

Sebagai politisi non partisan murni memperjuangkan kepentingan semua golongan masyarakat tanpa disekat kepentingan praksis sesaat model partai-partai politik, selama pembekuan F-UD Irman bergabung berjuang dalam Fraksi Utusan Golongan (F-UG). Lobi dan perjuangan Irman untuk menegaskan kembali bahwa komitmen Anggota MPR ‘alumni’ Utusan Daerah adalah murni di garis perjuangan aspirasi dan kepentingan daerah.

Fraksi Utusan Daerah akhirnya kembali bisa hidup di tahun 2001, sekaligus menempatkan nama Irman sebagai salah satu Wakil Ketua F-UD sejak tahun 2902. Tak berhenti di situ, perjuangan baru Irman adalah menuntut agar MPR menempatkan seorang anggota Utusan Daerah duduk sebagai Wakil Ketua MPR.

Bermodalkan alat kelengkapan baru bernama Fraksi Utusan Daerah Irman bersama kolega dan fraksi-fraksi lain berhasil melakukan sejumlah amandemen konstitusi. Seperti, keharusan melaksanakan pemilihan umum presiden dan wakil presiden secara langsung, demikian pula terhadap setiap kepala daerah gubernur, bupati, dan walikota harus dipilih langsung.

Puncak pencapaian lain amandemen adalah kesepakatan nasional membentuk lembaga tinggi negara baru bernama Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dikhususkan hadir untuk membangun kesetaraan dan persamaan pembangunan nasional melalui pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi di segala bidang secara konstitusional.

DPD, karena ide awalnya adalah memperjuangkan kesetaraan dan kesamaan antara kepentingan daerah dengan pusat, maka, setiap daerah tingkat satu diwakili sama oleh empat anggota DPD tanpa memperhitungkan perbedaan geografi dan demografi penduduk setiap propinsi.

Selintas kehadiran DPD ‘hanya’ untuk mengakomodasi dihapuskannya F-UD di MPR muai tahun 2004, sebagai salahsatu hasil lain amandemen konstitusi. Namun Irman Gusman menegaskan kehadiran DPD adalah untuk membangun kesetaraan dengan semua institusi politik lain DPR, MPR, Presiden, BPK, dan MA yang dalam sistem ketatanegaraan baru adalah sama-sama lembaga tinggi negara.

Berbeda dengan F-UD sebelumnya yang hanya sub-ordinat dari lembaga tertinggi negara MPR, DPD bekerja independen, bisa menjadi penyeimbang DPR, bahkan berpotensi menjadi saluran aspirasi alternatif baru di luar jalur konvensional DPR.

Irman berhasil membawa sistem perpolitikan nasional menjadi bikameral yang menempatkan DPD sama seperti Senator di Amerika Serikat. Perjuangan ini agaknya masihlah langkah awal baru dalam benak Irman.

Sebab sebagaimana galibnya dalam sistem bikameral lembaga senator adalah kawah candradimuka ajang pelatihan yang bisa menghantar anggotanya menjadi calon gubernur bahkan hingga mencapai puncak tertinggi sebagai calon presiden, sebagaimana calon presiden AS John F. Kerry dari Partai Demokrat yang pada Pemilu 2 November 2004 bersaing dengan the incumbent president George W. Bush dari Partai Republik.

Kesempatan menjadi eksekutif pemerintah terbuka luas sebab setiap senator yang dipilih langsung oleh rakyat dipastikan sudah memiliki basis massa konstituen yang kuat. Irman bermaksud agar lembaga DPD bisa mengkader ke-128 anggotanya yang berpotensi menjadi calon-calon eksekutif handal di segala tingkatan. Karena itu Irman melalui lembaga DPD berkehendak mengamandemen UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah agar setiap kader bangsa yang non partisan berhak mengajukan diri sebagai calon kepala daerah maupun kepala negara.

Sebagai salah seorang penggagas dan pembentuk cetak biru sistem perpolitikan baru, Irman Gusman seorang penganut paham kebangsaan aktivis di berbagai organisasi keagamaan Islam sangat kenal betul bagaimana elan berikut visi dan misi lembaga DPD. Irman segera mempersiapkan diri dari bawah untuk meniti ulang karir politik lewat Pemilu Legislatif 2004. Irman Gusman berhasil terpilih menjadi anggota DPD periode 2004-2009 dari Sumatera Barat sebagai peraih suara terbesar 325.708 suara, atau 18 persen dari suara pemilih Sumatera Barat.

Aktivitas Irman Gusman, yang ketika mahasiswa di tengah-tengah komunitas plural khususnya umat nasrani terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (SM-UKI), adalah Penasehat Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat 2000-2005, Dewan Pakar Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005, Anggota Dewan Penyantun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dan Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat 2002-2005.

Usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil Pemilu Legislatif 2004 naluri lobi Irman Gusman segera ‘menyuruhnya’ bergerilya menggagas ide pembentukan Kaukus DPD Sumatera. Dari 40 anggota DPD se-Sumatera 34 diantaranya sepakat menyetujui Deklarasi Batam untuk mengusung nama Irman Gusman sebagai calon tunggal merebut kursi Ketua DPD. Kaukus juga ditugaskan mempersiapkan visi dan misi serta bentuk perjuangan anggota DPD se-Sumatera sepanjang tahun 2004-2009 dalam konteks dan perspektif Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesepakatan Deklarasi Batam dipegang teguh oleh seluruh anggota. Tidak mengherankan jika pemilihan ketua DPD dilangsungkan harus dalam tiga kali putaran karena ketatnya persaingan. Pada putaran pertama yang dimulai Jumat 1 Oktober pukul 15.45. wib diperoleh tujuh nama yang berhasil meraih suara. Yakni, Ginandjar Kartasasmita (49 suara), Irman Gusman (29 suara), Sarwono Kusumaatmaja (22 suara), La Ode Ida (18 suara), Harun Al Rasyid (dua suara), M. Nasir (satu suara), dan Kasmir Triputra (satu suara).

Lima suara dinyatakan tidak sah dan satu suara abstain. Karena La Ode Ida menyatakan mundur dari pencalonan maka hanya tiga besar yang maju ke putaran kedua, Ginandjar Kartasasmita, Irman Gusman, dan Sarwono Kusumaatmaja.

Pada putaran kedua yang mulai bergulir di malam hari pukul 20.00 wib nama Irman Gusman masih peraih suara terbesar kedua dengan 43 suara, di bawah Ginandjar Kartasasmita yang mantan Menko Ekuin 59 suara di atas Sarwono Kusumaatmaja yang mantan Menneg Lingkungan Hidup 26 suara. Irman berhasil lolos dari kepungan dua pentolan politik rejim Orde Baru untuk kembali maju ke pemilihan ‘grand final’ putaran ketiga.

Pada penghitungan akhir putaran ketiga terjadi kejar-kejaran suara antara Ginandjar dan Irman. Namun hasil akhir hanya menunjukkan Irman meraih 54 suara, kalah tipis dari Ginandjar yang meraih 72 suara. Satu suara dinyatakan tidak sah dan satu suara kosong. Irman mengakui suara yang diraih masih di bawah kalkulasi politik Tim Suksesnya namun Deklarasi Batam dianggap tetap solid mendukung dirinya.

Sebagai antiklimaks Irman puas hanya menduduki kursi Wakil Ketua DPD mewakili wilayah barat, setelah dalam pemilihan meraih 50 suara unggul atas kandidat lain Nurdin Tampubolon 25 suara, Bambang Suroso delapan suara, dan Mediati Hafni Hanum satu suara. Satu kursi lain wakil ketua dari wilayah timur diraih oleh La Ode Ida.

Perjuangan tiada henti
Kiprah Irman Gusman memperjuangkan kesetaraan lembaga baru DPD dengan lembaga tinggi negara lain seolah tiada henti. Ajang pemilihan ketua MPR RI 2004-2009 membuktikan betapa gigihnya Irman berjuang. Irman sekaligus pula berhasil menyakinkan banyak pihak betapa DPD sudah sepantasnya mulai diperhitungkan secara saksama sebagai sebuah kekuatan riil politik baru.

Ketika itu hingga tanggal 5 Oktober 2004 pemilihan ketua MPR berkali-kali mengalami kebuntuan. DPD menuntut hak menempatkan dua wakilnya sebagai unsur pimpinan MPR, sama dan setara dengan DPR untuk juga hanya menempatkan dua wakil. Tatib MPR menggariskan pimpinan MPR terdiri empat orang berasal dari DPR dan DPD.

Keteguhan Irman memperjuangkan dua kursi di pimpinan MPR didasarkan kesepakatan nasional dalam amandemen konstitusi, bahwa kedua lembaga DPD dan DPR berdiri setara dan sejajar tanpa memperhitungkan proporsionalitas jumlah anggota DPD yang 128 orang dan DPR yang 550 orang anggota.

“Kalau DPD menuntut agar unsur pimpinan MPR berasal dari DPD dua orang dan DPR dua orang karena kita ingin adanya kesejajaran antara lembaga DPR dan DPD,” kata Irman Gusman, berbicara dalam kapasitas baru sebagai Wakil Ketua DPD, kepada wartawan di gedung DPR, Selasa (5/10). Irman mengungkapkan itu untuk menanggapi pernyataan Ketua Dewan Koalisi Kebangsaan Akbar Tandjung yang menilai tuntutan DPD mengubah Tatib MPR dan tuntutan menempatkan dua wakilnya duduk di pimpinan MPR bisa membuka pintu amendemen UUD ‘45.

Perdebatan tentang unsur pimpinan nyaris semakin menuju deadlock. Akbar Tandjung menyebutkan ide kesejajaran bisa mengarah ke bentuk negara federalisme. Tuntutan DPD kata Akbar juga tidak sesuai dengan konstitusi sebab UUD ’45 tidak menyebutkan dengan eksplisit dua wakil ketua MPR dari DPR.

Tapi Irman Gusman malah semakin menegaskan sikap bahwa usulan DPD yang sudah sebelumnya disetujui dalam rapat gabungan fraksi dan akhirnya dibahas dalam Panitia Ad Hoc bukanlah mengada-ada. Usulan itu, kata Irman, semata-mata didasarkan atas aspirasi konstituen di daerah sebab para anggota DPD berbeda dengan DPR. Anggota DPD kata Irman berjuang sendiri untuk menggalang dukungan dan meraih suara sebanyak mungkin.

Untuk menunjukkan jati diri sebagai negarawan sejati dengan tak kalah sengit Irman Gusman menegaskan butir-butir UUD 1945 Bab 16, pasal 37 ayat (5) bahwa bentuk negara Indonesia tidak dapat lagi dilakukan perubahan, sehingga anggapan bahwa DPD hendak menuju negara federal tidak dapat dibenarkan.

Alhasil, ide Irman Gusman menyetarakan DPD dengan DPR berhasil diterima. Pimpinan MPR disetujui terdiri dua unsur DPR dan dua unsur DPD. Pemilihan Ketua MPR yang sangat demokratis berlangsung sengit. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (F-PKS) terpilih bersama tiga wakilnya AM Fatwa (F-PAN), Aksa Mahmud dan Mooryati Sodibyo keduanya dari DPD yang diusung Koalisi Kerakyatan, menang tipis meraih 326 suara berbeda dua suara saja dari calon Koalisi Kebangsaan yang meraih 324 suara terdiri Sutjipto (F-PDIP), Theo L. Sambuaga (F-PG), Sarwono Kusumaatmaja dan Aida Ismet Nasution keduanya dari unsur DPD. Drama perbedaan tipis dua suara dibumbui oleh ketidakhadiran dua anggota F-PDIP dalam pemungutan suara, serta tiga suara dinyatakan abstain dan 10 suara tidak sah.

Perluasan wewenang
Visi kenegarawananlah yang ‘mengharuskan’ Irman Gusman terjun sebagai politisi untuk berjuang mensejajarkan kepentingan daerah dan pusat. Kepentingan daerah selama puluhan tahun seolah-olah tak pernah dipandang perlu oleh pemerintah pusat yang sangat sentralistik.

Sebagai pengusaha muda beridealisme tinggi yang berkehendak membangun seluruh daerah di Indonesia, tak sebatas kota Padang Panjang tanah kelahiran, Irman Gusman pengusaha sukses yang selama lima tahun 1998-2003 pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) telah banyak merasakan besarnya hambatan akibat ketimpangan peran Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah.

Irman juga aktif di berbagai organisasi bisnis, seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) sebagai Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi (LP2E) Hipmi Pusat, maupun di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Kiprah perjuangan mewujudkan kesejajaran sudah dia awali di lembaga MPR sepanjang tahun 1999-2004, dan kini di lembaga baru DPD sepanjang tahun 2004-2009 Irman tetap akan berjuang bagi daerah. Irman, yang berhasil menyelesaikan pendidikan S-2 Master of Business Administration (MBA) di University of Bridgeport Connecticut, AS jurusan pemasaran tahun 1988 sangat menginginkan DPD memiliki banyak wewenang yang bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

Bagi Irman Gusman perluasan wewenang DPD diperlukan untuk mengurangi pengaruh sentralistik yang sampai saat ini masih terasa di daerah. Khususnya kebijakan yang berpengaruh pada iklim usaha di daerah. “Sebagai pengusaha, selama ini saya merasa banyak kebijakan pusat yang tidak menguntungkan iklim usaha di daerah,” Irman menegaskan.

Itu sebabnya, menurut Irman DPD harus berupaya memberdayakan masyarakat daerah serta mengusahakan undang- undang yang lebih berpihak kepada rakyat di daerah. Jadi, penguatan masyarakat dimulai dengan melakukan penguatan masyarakat di daerah.

“Itu pula sebabnya, seorang anggota DPD harus punya kemandirian secara ekonomi sehingga bisa membantu masyarakat. Saya sendiri berasal dari keluarga yang punya kemampuan ekonomi, dan dengan itu bisa membantu masyarakat untuk menciptakan kemandirian. Bagaimana mungkin orang miskin akan membantu orang miskin,” kata Irman, tanpa bermaksud sombong atau meninggikan hati melainkan betapa untuk berjuang sangat dibutuhkan kekuatan besar yang memadai sambil tetap disertai idealisme murni kebangsaan.

Irman Gusman berprinsip DPD adalah ‘jembatan emas’ baru untuk segala kepentingan terlebih untuk mengurangi kesenjangan antara pemerintahan pusat dan daerah. “Apalagi kalau kita lihat, kewenangan kami adalah dalam bidang kesejahteraan, pembangunan, sosial, ekonomi, moral, pendidikan dan daerah,” kata Irman. Bahkan, menurut Irman DPD hadir untuk mengkoreksi segala kebijakan Undang-Undang yang masih bersifat sentralistik.

Pebisnis pionier
Sebelum menjadi politisi Irman Gusman adalah pebisnis murni yang mendasarkan perjalanan dan pengelolaan usahanya pada etika-etika agama atau nilai-nilai Islami sebagaimana agama yang dia anut. Ia sangat menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Bahkan, hampir semua bisnis yang digeluti merupakan bisnis pionir.

Contoh klasiknya adalah PT Kopitime DotCom Tbk, perusahaan multimedia penyedia jasa teknologi informasi dan internet pertama di Indonesia yang berhasil listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Perusahaan publik ini dia gagas dengan mempertaruhkan nama baik dan reputasinya sebagai pengusaha dan anggota MPR RI.

Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinil sudah merupakan ciri utama setiap kiprah Irman Gusman, disamping tetap mencantelkan sisi idealisme. Secara bisnis menjual Kopitime di lantai bursa memberi Irman pemasukan kapital dalam jumlah banyak dan segera. Dia hanya membuka diri menawarkan kesempatan sebagai pemegang saham kepada pihak lain.

Namun yang terutama Kopitime DotCom membawa misi mulia membantu setiap pengusaha nasional, terutama usahawan kecil dan menengah (UKM) yang baru tumbuh berkesempatan memperluas pangsa pasar di luar negeri lewat Internet dengan biaya murah. “Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan,” kata Irman Gusman, saat berbicara pada forum Musyawarah Nasional Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah, di Padang awal Oktober 2003.

Sebagai pengusaha yang tumbuh dari bawah Irman Gusman sangat mendambakan lahirnya banyak usahawan kecil dan menengah di Indonesia. Semangat kewirausahaan kata Irman harus selalu didengungkan agar muncul para enterpreneur baru sebagaimana jejak langkahnya.

Jabatan bisnis yang kini dipegang Irman antara lain Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa bergerak di bidang perdagangan dan investasi, Komisaris Utama PT Padang Industrial Park sebuah kawasan industri di Padang yang digagasnya bersama mitra usaha dari Negeri Jiran Malaysia, Komisaris Utama PT Khage Lestari Timber bergerak di bidang pengelolaan dan ekspor kayu olahan, Komisaris Utama PT Guthri Pasaman Nusantara pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumatera Barat, Komisaris Utama PT Sumatera Korea Motor, dan Komisaris Utama PT Kopitime DotCom, Tbk.

Irman Gusman juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi harian “Mimbar Minang” suratkabar pertama yang dia dirikan dengan kepemilikan saham 100 persen berbentuk badan hukum koperasi, sebuah terobosan yang pernah mengundang kekaguman dan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan perkoperasian Indonesia.

Koperasi dimaksud Koperasi Equatorial Minang Media, yang pendiriannya diprakarsai Irman Gusman juga memiliki dan mengelola berbagai bidang usaha lain seperti Perkebunan Kopi Arabika Pinang Awan Muara Labuh seluas 1.500 hektar di Kabupaten Solok, penerbit buku Pustaka Mimbar Minang, pengelola portal internet MimbarMinang.Com, serta pengelola Kantor Hukum Ekuator. Masih di bidang media, antara tahun 2000-2002 Irman pernah tercatat sebagai Komisaris PT Abdi Bangsa, Tbk penerbit harian “Republika”.

Paradigma berubah
Jiwa pionir bisnis Irman Gusman juga sangat terasa ketika mendirikan Kawasan Industri Padang Industrial Park (PIP) tahun 1994. Dalam usia relatf muda 32 tahun ia membuktikan tingginya komitmen dan kepeduliannya membangun daerah, tentu untuk pertama kali dipilih daerah asal lebih dahulu yakni Padang. Ia menggandeng investor asing Johor Corporation Group of Companies, sebuah kelompok usaha konglomerat dari Malaysia untuk menggarap lahan seluas 200 hektar menjadi sebuah kawasan industri terpadu.

“Kawasan Industri Padang harus menjadi kebanggaan masyarakat, ia harus menjadi lokomotif industrialisasi di daerah sebab ini dibangun sebagai suatu bisnis sekaligus idealisme membangun tanah kelahiran. Tujuannya tak lain untuk memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi dan mendorong investasi yang besar ke daerah ini,” kata Irman Gusman, yang memilih hidup di jalur bisnis terinspirasi oleh kemajuan pesat ekonomi Amerika Serikat berkat topangan peranan swasta yang begitu besar.

Irman Gusman sesungguhnya awalnya memiliki cita-cita memasuki lembaga birokrasi pemerintah sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tujuannya untuk mengabdi sekaligus memperbaiki wajah pembangunan Indonesia yang timpang. Namun ayahnya memberikan dorongan berbeda harus haus akan ilmu pengetahuan serta bersemangat meningkatkan kualitas diri secara terus-menerus melalui pendidikan dan pengalaman di beragam bidang. Dorongan ayahnya timbul sebab sungguh sadar betapa beratnya tugas dan tantangan hidup di masa depan.

Kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE-UKI) Jurusan Ekonomi Perusahaan tahun 1979-1985 dirasa belum cukup. Irman memutuskan kembali memasuki dunia kampus melanjutkan kuliah pasca sarjana S-2 ke University of Bridgeport, Conneticut, AS antara tahun 1986-1988.

Januari 1986 berangkat ke Amerika Serikat delapan bulan pertama diisi program persiapan studi di Bobson College, Massachusetts kemudian dilanjutkan ke Graduate School of Business University of Bridgeport, Connecticut. Irman Gusman memulai sebuah perjalanan yang di kemudian hari terbukti berhasil mempengaruhi cara pandang dan wawasan berpikirnya sebagai bekal untuk mewujudkan cita-cita sebagai anak bangsa yang peduli memperbaiki nasib bangsa.

Bukan hanya memperdalam ilmu pengetahuan di bangku kuliah. Irman Gusman sekaligus berkesempatan mempelajari dinamika masyarakat Amerika yang berhasil menata diri menjadi bangsa yang maju dan modern. Memikirkan bagaimana strategi meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat secara ekonomi dan sosial terutama melalui pemberdayaan dan pemerataan pembangunan masyarakat daerah.

Melihat betapa negara Amerika Serikat bisa maju dan modern ditopang oleh kemajuan dan kemandirian masing-masing daerah otonom dimana hubungan antara pemerintah pusat dan negara bagian begitu harmonis. Demikian pula terjadi pembagian kewenangan yang adil dan proporsional antara pemerintah pusat dan negara bagian sehingga negara bagian dimungkinkan tumbuh sesuai kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Pembelajaran tidak serta-merta berhenti usai meraih gelar S-2 Master of Business Administration (MBA) Mei 1988. Sebelum pulang dan tiba di tanah air persis pada tanggal 8 Agustus 1988, Irman Gusman berkesempatan berkeliling Eropa mengunjungi Inggris, Belanda, Perancis, Jerman Barat, dan sejumlah negara Eropa Timur seperti Rusia dan negara komunis lainnya. Irman Gusman berhasil memperkaya diri dengan perspektif yang lebih luas perihal pembangunan ekonomi baik itu sistem kapitalis, sosialisme, dan komunisme.

Keluarga Pengusaha dan Pendidik
Irman Gusman anak kedua dari 14 bersaudara lahir dan besar di lingkungan keluarga pengusaha sekaligus pendidik, Ayah Drs. H. Gusman Gaus dan Ibu Hj. Janimar Kamili. Tak heran jika Irman mengidentifikasi diri sebagai pengusaha sekaligus pendidik.

“Panggilan jiwa saya adalah sebagai pendidik. Kalaupun sebagai pengusaha, saya lebih memilih menjadi pengusaha yang dapat memberikan inspirasi dan mengutamakan pengetahuan, atau menjadi pengusaha yang berbasis pengetahuan, atau knoledge-based entrepeneur,” kata Irman, Anggota Dewan Penyantun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB).

Irman Gusman menjabat pula sebagai Ketua Yayasan Amal Bhakti Mukmin Indonesia (Albani), pengelola lembaga pendidikan Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) Padang, yang didirikan ayahnya sejak tahun 1990. Di tangan Irman, sejak tahun 2002 status AMIK ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Indonesia, yang menujukkan wujud kepedulian seorang anak daerah Irman Gusman terhadap kemajuan pendidikan dan kuatnya keinginan memasyarakatkan teknologi informasi ke kalangan generasi muda Sumatera Barat.

Sebagaimana visi dan kepribadian pemiliknya Irman Gusman, STIMIK Indonesia didesain mampu menghasilkan sumberdaya manusia berkarakteristik tiga hal, mempunyai profesionalisme dan dasar keahlian yang memadai, memiliki jiwa kewirausahaan yang tangguh, dan menjunjung tinggi budi pekerti dan perilaku Islami.

Pada masanya ayah Irman Gusman Drs. H. Gusman Gaus sudah dikenal sebagai tokoh terkemuka Sumatera Barat, yang antara lain pernah tercatat sebagai pengurus teras Kadin Sumatera Barat, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Wakil Ketua Orwil ICMI Sumatera Barat, Ketua Orsat ICMI Kota Padang, dan penasehat Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.

Bahkan, jika ditarik ke belakang sang kakek H. Kamili juga tergolong tokoh masyarakat terkemuka Sumatera Barat pada masanya, antara lain sebagai saudagar emas ternama sepanjang tahun 1950-1960-an, aktivis mesjid berkiprah memajukan Islam seperti membesarkan Pondok Pesantren Rawalib.

Pulang dari Amerika bergelar MBA mudah saja bagi Irman mencari pekerjaan, semisal berkarir di berbagai PMA, atau multinational companies, atau di BUMN dengan sejumlah besar gaji. Tapi ia memilih jalur sebagai enterpreneur dengan pekerjaan pertama membenahi sebuah perusahaan keluarga yang sedang terbelit masalah keuangan.

“Kecintaan pada keluarga membuat semua beban dan tantangan yang saya hadapi terasa ringan. Saya harus tinggal di lokasi pabrik, bertahun-tahun, jauh dari keramaian dan kesenangan, bekerja siang malam agar perusahaan keluarga ini selamat dan sehat kembali.

Tanpa semangat kewirausahaan, idealisme, keyakinan yang kuat, dan dukungan semua pihak mustahil saya mampu mengemban amanat keluarga ini,” kata Irman yang selalu bersikap akrab dengan bawahan. Irman berhasil memulihkan kondisi perusahaan menjadi lebih sehat, mandiri, menguntungkan, dan menjadi salah industri pengolahan kayu terpadu di Sumatera Barat berorientasi ekspor 100 persen.

Irman Gusman bukan lagi pengusaha daerah sebatas Sumatera Barat, atau pengusaha nasional sebatas Indonesia, ia bahkan telah melebarkan sayap sebagai pengusaha sukses yang layak bergaul dan diperhitungkan di dunia internasional. Irman selalu mendapat undangan khusus menghadiri acara-acara tingkat dunia yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF).

WEF adalah organisasi nirlaba internasional yang berkomitmen memperbaiki tata-kelola negara-negara di dunia, seperti mengadakan pertemuan New Asian Leader dan East Asia Economic Summit. Untuk tingkat dunia WEF mengadakan pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Davos, Swiss yang juga selalu dihadiri Irman Gusman berkumpul dan berbicara secara bebas dan informal mencari solusi dalam rangka mempercepat penyelesaian masalah-masalah global khususnya bidang ekonomi bagi pengembangan masyarakat global.

“Kehadiran saya pada acara-acara yang diadakan oleh World Economic Forum tersebut merupakan upaya untuk memanfaatkan dan memaksimalkan jaringan global bagi sebesar-besarnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Insya Allah bermanfaat bagi pembangunan bangsa ini di masa depan,” kata Irman, menegaskan bahwa semua langkah-langkah idealismenya adalah demi bangsa. Selain aktif di WEF, Irman Gusman juga tercatat sebagai anggota International Business Advisory Council (IBAC) pada Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO), berkedudukan di Lausanne, Geneva, Swiss.

Sumber : tokoh-indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...